Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.
Tampilkan postingan dengan label kisah islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah islam. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 Februari 2011

Perang Khaibar dan Daging Kambing Beracun

Share |
(Majalah As-Sunnah Edisi 10/Thn. XIII/Muharram 1431H/Januari 2010M)
Pada bulan Muharam tahun 7 H, Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam memerintahkan kaum Muslimin untuk bersiap-siap memerangi orang Yahudi di Khaibar. Khaibar adalah benteng pertahanan kaum Yahudi yang merupakan wilayah pertanian dengan delapan atau lima benteng yang melindungi. Jaraknya kira-kira seratus mil arah barat laut Madinah.
Ketika Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam mengepung benteng pertama milik mereka, Beliau Shallallâhu 'Alaihi Wasallam menunggu selama enam hari tanpa melakukan apapun. Pada malam ketujuh, Umar bin Khaththâb radhiyallâhu'anhu berhasil menangkap seorang Yahudi yang tengah keluar dari benteng dan membawanya ke hadapan Rasulullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam.
Dalam keadaan sangat takut, orang Yahudi tersebut mengatakan: “Jika kalian memberi jaminan keamanan kepadaku, akan aku tunjukkan kepada kalian sesuatu cara agar kalian berhasil menaklukkan mereka”. Selanjutnya ia mengatakan, “Penghuni benteng ini telah diliputi rasa lelah dan jemu. Mereka mengirim anak-anak mereka ke benteng yang ada di belakangnya. Dan mereka akan keluar menyerang kalian esok hari.”
Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam bersabda:
“Sungguh, besok aku akan berikan panji perang kepada seorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan dia dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Allah akan menaklukkan musuh dengan kedua tangannya."[1]

Keesokan harinya, Beliau menanyakan Ali bin Abi Thâlib radhiyallâhu'anhu. Beliau Shallallâhu 'Alaihi Wasallam diberitahu bahwa Ali radhiyallâhu'anhu mengalami rasa sakit di kedua matanya. Selanjutnya, Beliau Shallallâhu 'Alaihi Wasallam memanggil Ali radhiyallâhu'anhu dan meludah di kedua matanya. Seketika itu juga Allah Ta’ala menyembuhkan kedua matanya; seakan-akan tidak pernah ada rasa sakit sebelumnya.
Kemudian, Beliau Shallallâhu 'Alaihi Wasallam memberikan panji perang kepada Ali radhiyallâhu'anhu. Setelah itu, kaum Muslimin bergerak menyerang kaum Yahudi hingga berhasil menaklukkan benteng tersebut. Kaum Muslimin terus menaklukkan benteng demi benteng, hingga Allah Ta’ala menyempurnakan penaklukan Khaibar.
Alhamdulillâh, Allah Ta’ala hinakan kaum Yahudi dan memberikan kemenangan kepada kaum Muslimin. Mereka memperoleh harta rampasan perang yang banyak; dan mereka juga menguasai kepemilikan tanah kaum Yahudi. Tetapi, kaum Yahudi memohon kepada Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam agar mereka tetap dibiarkan tinggal di sana dan mengolah lahan pertanian dengan imbalan separuh hasil panen. Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam pun menyetujuinya, Beliau bersabda” Kami menyetujui permohonan kalian sebatas kehendak kami.”
Pada momentum pertempuran ini, seorang wanita Yahudi memberi hadiah kepada Rasulullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam berupa daging kambing yang telah ditaburi racun. Sebagaimana disebutkan di dalam riwayat di bawah ini yang artinya:

Dari Ibnu Syihâb, ia mengatakan, “Dahulu Jâbir radhiyallâhu'anhu menceritakan bahwa ada seorang wanita Yahudi dari penduduk Khaibar yang meracuni seekor kambing bakar. Kemudian menghadiahkannya kepada Rasulullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam".

Rasulullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam pun mengambil paha kambing itu dan memakannya. Beberapa Sahabat pun juga ikut makan bersama Beliau. Tiba-tiba Rasulullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam berkata kepada para Sahabat, "Jangan kalian makan !." Lalu Rasulullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam mengutus seseorang untuk memanggil wanita (yang memberi kambing) itu dan wanita itu pun datang. Rasulullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam pun segera bertanya kepadanya, "Apakah kamu telah meracuni kambing ini?"
Wanita itu menjawab, "Siapa yang telah memberitahumu?"
Rasulullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam menjawab, "Paha kambing ini yang telah mengabariku."
Wanita itu berkata, "Ya" (aku telah meracuninya).
Rasulullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam bertanya lagi, "Apa yang kamu kehendaki dari perbuatanmu ini?"
Wanita itu berkata dalam hati, "Jika dia seorang nabi, makanan pasti itu tidak akan membahayakannya. Dan jika dia bukan seorang nabi, maka kami akan selamat dari gangguannya."
Selanjutnya Rasulullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam memaafkan wanita itu dan tidak menghukumnya.
Sebagian Sahabat yang memakan kambing itu meninggal dunia. Rasulullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam sendiri berbekam kepada Abu Hindun (bekas budak bani Bayâdhah) dengan tanduk dan pisau.

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa tatkala ada seorang Sahabat nabi yang meninggal karena karena racun tersebut, maka wanita itu diperintahkan oleh Rasulullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam agar dibunuh.[2]

Imam Nawawi rahimahullâh berkata, “Sepertinya racun itu menyisakan tanda atau bekas, berupa warna hitam atau yang lainnya.” Nama wanita Yahudi itu adalah Zainab binti Hârits, istri Salâm bin Misykam, salah seorang pembesar Yahudi. (Syarh Shahîh Muslim)

Lajnah Dâimah menyatakan, “Para Ulama pakar sirah Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam mengatakan bahwa Beliau pernah menyantap daging kambing beracun pemberian wanita Yahudi Khaibar. Kemudian paha kambing tersebut berbicara, memberitahu Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam bahwa ia telah ditaburi racun, sehingga Beliau pun tidak melanjutkan santapannya.
Tatkala Beliau sakit keras yang menyebabkannya meninggal, Beliau bersabda:

Wahai Aisyah, aku masih bisa merasakan rasa sakit
akibat makanan yang aku makan di Khaibar
.”
(HR Abu Dâwud no. 4512; Ad-Dârimi, Al-Muqaddimah 67)

Ini merupakan mukjizat Rasulullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam. Beliau Shallallâhu 'Alaihi Wasallam selamat dari racun yang mematikan atas pemberitahuan Allah Ta’ala kepada Beliau bahwa daging tersebut beracun, juga laporan dari organ kambing itu kepada Beliau.

Disebutkan pula dalam riwayat lain (selain Imam Muslim), bahwa Beliau Shallallâhu 'Alaihi Wasallam bersabda, “Kaki ini memberitahuku bahwa kambing panggang ini beracun.”

Maraji’:1. Adh-Dhiyâ‘ul Lâmi’ Minal Khuthabil Jawâmi’ 5/218-221, karya Syaikh Ibnul-Utsaimîn.
2. Sunan Abu Dâwud.

[1] HR al-Bukhâri no:2847 bab Al-Jihâd Was Siyar; Muslim: 2406 dalam Fadhâilus Shahâbah; Ahmad 5/333.
[2] HR Abu Dâwud no. 4510
sumber

Selasa, 25 Januari 2011

Nuruddin Mahmud Zanki (511-569 H) bag.1

Share |
Dia penguasa Syam, Raja yang adil, Nuruddin (Cahaya Agama), Nashir (Pembela), Amirul Mukminin, Raja yang bertaqwa, Singa Islam, Abul Qasim Mahmud bin Atabik Qasim ad-Daulah Abu Sa’id Imaduddin Zanki bin Al-Amir Al-Kabir Aqsanqir At-Turki As-Sulthani Al-Milkasyahi.

Ibnu Katsir Rohimahullah berkata: “Ia dilahirkan saat terbit matahari, hari Ahad, 17 Syawwal, tahun 511 H, di Halb. Ia tumbuh dalam pemeliharaan ayahnya, penguasa Halb, Maushul dan banyak negeri lainnya.
Ia belajar Al-Qur’an, berkuda, dan memanah. Ia seorang pemanah yang jitu, pemberani, mempunyai kemauan yang tinggi, niat yang baik, kehormatan yang melimpah, dan agama yang jelas”.

Pria ini muncul pada saat yang genting dalam sejarah umat Islam. Sebab umat Islam pada saat itu menghadapi perpecahan, kerusakan, dikuasai para musuh, dan cara ibadah baru yang tersebar dimana-mana.

Para penguasa atau raja pada saat itu masing-masing menguasai negeri-negeri kecil, yang satu sama lain terjadi perpacahan, persaingan, dan perseteruan. Kaum salibisme menumbuhsuburkan kerusakan di negeri Syam, setelah mereka menguasai sejumlah benteng dan kota. Sementara ubudiyah kaum Bathiniyah (kebatinan) menguasai Mesir; maka berkibarlah panji bid’ah dan turunlah panji Sunnah. Suatu keadaan yang membutuhkan – bahkan sangat membutuhkan - seorang tokoh yang dapat menyatukan kalimat umat, menghimpun yang terserak, dan mengusir para musuh darinya.

Maka muncullah Nuruddin sebagai pahlawan Perang Salib yang paling cemerlang, yang kecemerlangannya tertoreh pada perang tersebut. Namanya telah diabadikan. Dialah penyulut “api” agama dalam kegelapan dan kelemahan serta mengalahkan kaum salibisme. Pedang tajamnya telah menyambar-nyambar sejak ia masih baru ranum. Ia tidak memasukkan pedang itu ke dalam sarungnya hingga ia didatangi kematian dan setelah matanya terasa sejuk dengan bersinarnya bintang muridnya, Shalahuddin Al Ayubi, ketika Si murid meneruskan dan mengambil alih jejak yang dirintis oleh sang Syahid (insyaallah).

Salah satu dorongan kuat untuk mempelajari biografi tokoh ini –maksudnya Nuruddin- ialah kesamaan kondisi sosial yang memprihatinkan yang dialami umat Islam kala itu dengan kondisi sosial yang kita alami sekarang ini. Sejarah itu akan kembali dengan sendirinya. Maka membicarakan biografinya adalah agar dapat mengambil manfaat dari semangat masa lalu untuk solusi masa kini.

SIFAT-SIFATNYA
Allah telah menghimpun sesuatu yang sangat banyak dalam diri Nu­ruddin. Allah telah memberikan kecerdasan dan kejeniusan kepadanya, yang membuat dirinya menempati kedudukan yang tinggi tersebut dalam sejarah umat Islam. Di antara sifat-sifat Nuruddin adalah sebagai berikut:

Ketakwaan dan Keshalihan.
Nuruddin adalah seorang yang bertakwa, shalih, wara', zahid, takut kepada Allah Subhanahu wa ta'ala, giat beribadah, membaca wirid-wirid, melakukan qiya­mul lail, banyak merendahkan diri kepada Allah, berdoa, dan kembali (bertaubat) kepada Allah Subhanahu wa ta'ala.

Ibnu Atsir berkata, membicarakan tentang sifat-sifat Nuruddin: ”Diantara sifat-sifatnya ialah zuhudnya, ibadahnya, dan ilmunya. Ia tidak makan, tidak berpakaian, dan tidak beramal kecuali dengan milik priba­dinya yang ia beli dari bagian rampasan perang untuknya dan dari harta yang tersedia untuk kemaslahatan kaum muslimin.”

Pernah istrinya mengaduh kepadanya karena kesulitan, maka ia memberikan kepadanya tiga kedai di Hims yang menghasilkan dalam setahun sekitar 20 dinar. Ketika istrinya merasa kurang, Nuruddin mengatakan, “Aku tidak punya selain ini, dan seluruh yang ada di tanganku adalah perbendahara­an umat Islam. Aku tidak mau tenggelam dalam Neraka Jahanam karenamu.”
Ia banyak melaksanakan shalat malam, dan memiliki wirid-wirid yang bagus. Ia, sebagaimana dikatakan:
Ia menghimpun dalam dirinya: keberanian dan kekhusyuan kepada  Tuhannya
Betapa indahnya seorang yang banyak berperang berada dalam mihrab.
Demikian pula istrinya, ‘Ashamat Ad-Din Khatun binti Al-Atabik, banyak melaksanakan shalat malam. Pernah suatu malam ia tertidur se­hingga tidak sempat membaca wirid (Al-Qur'annya) yang biasa dilaku­kannya. Maka pagi-pagi ia dalam keadaan marah. Nuruddin bertanya pe­rihal kemarahannya, lalu Si istri mengatakan tentang tidurnya yang keba­blasan sehingga tidak sempat membaca wirid yang biasa dibaca. Sejak saat itu Nuruddin memerintahkan (bawahannya) supaya memukul genderang di dalam benteng pada waktu menjelang pagi untuk memba­ngunkan orang yang tidur pada saat itu untuk melaksanakan qiyamullail (shalat malam), dan memberikan hadiah yang besar kepada pemukul genderang tersebut.

Ahli fikih (faqih) di Baghdad, Abul Fath Al-Asyri mu’id Nidhamiyyah, ia telah menghimpun biografi singkat Nuruddin, berkata: "Nuruddin memelihara shalat tepat pada waktunya secara berjamaah, dengan menyempurnakan segala syaratnya, melaksanakan segala rukun­nya, dan thuma'ninah dalam ruku' dan sujudnya. Ia banyak melaksanakan shalat malam, banyak berdoa dan meren­dahkan diri kepada Allah Subhanahu wa ta'ala dalam segala urusannya." Ia melanjutkan: “Telah sampai berita kepadaku dari segolongan kaum sufi yang dapat dipercaya ucapannya, bahwa mereka pernah masuk Al-Quds untuk berkunjung pada hari pengambilalihan Al-Quds, lalu mereka mendengar orang-orang berkata, "Qasim bin Qasim (maksudnya Nuruddin) mempunyai rahasia bersama Allah. Ia tidak mengalahkan ka­mi karena tentaranya yang banyak, melainkan ia dapat mengalahkan kami berkat doa dan shalat malam. Ia shalat malam, mengangkat tangan­nya kepada Allah, dan berdoa kepada-Nya lalu Allah mengabulkan doa­ dan permintaannya sehingga ia dapat mengalahkan kami."
Ia berkata, “Ini adalah pengakuan orang-orang kafir terhadapnya.”

Ibnu Katsir rohimahullah berkata: "Dia bagus tulisannya, banyak membaca bu­ku-buku agama serta mengikuti sunnah Nabi, memelihara shalat berjama­ah, banyak membaca Al-Qur'an, senang mengerjakan kebajikan, meme­lihara perut dan kemaluan, ekonomis dalam berbelanja makanan dan pa­kaian untuk dirinya dan keluarganya, sehingga dikatakan bahwa ia orang paling fakir pada masanya. Ia lebih banyak mengeluarkan nafkah, tidak menimbun harta dan tidak mementingkan dunia.
Tidak pernah terdengar darinya sebuah kata keji pun, baik ketika sedang marah maupun ketika tidak marah, banyak diam dan bersikap tenang.”

Imam Adz-Dzahabi rohimahullah berkata, "Nuruddin baik tulisannya, banyak membaca, shalat berjamaah, berpuasa, membaca Al-Qur'an, bertasbih, hati-hati dalam makanan, menjauhi dosa-dosa besar, meniru-niru para ulama dan orang-orang pilihan. Semua ini dan sejenisnya telah disebut­kan oleh Ibnu Asakir.”

Al-Muwaffiq Abdul Latif berkata, "Ia makan dari hasil kerjanya sendiri. Kadangkala menulis dan kadangkala membuat alat pembungkus memakai wol, senantiasa dekat dengan sajadah dan mushaf.”

Sabth bin Al-Jauzi berkata, “Ia memiliki beberapa pohon kurma. Ia memintal benang dan membuat manisan, lalu menjualnya secara sembunyi-sembunyi dan memakan dari hasil penjualannya."
Ia juga menuturkan, "Najmuddin bin Salam bercerita kepadaku dari ayahnya bahwa tatkala bangsa Eropa memasuki Dimyath, Nuruddin se­lama 20 hari berpuasa dan tidak berbuka kecuali dengan air sehingga tubuhnya lemah dan nyaris binasa. Ia sangat berwibawa sehingga tidak seorang pun yang berani berbicara dengannya mengenai hal itu."

Pemimpin spiritualnya, Yahya, pernah mengatakan bahwa ia pernah melihat Nabi Shalallahu 'alaihi wasallam dalam mimpinya. Dalam mimpinya, Nabi berkata kepa­danya, "Wahai Yahya, berikan kabar gembira kepada Nuruddin menge­nai hengkangnya bangsa Eropa dari Dimyath."
Maka aku berkata, "Wahai Rasulullah, mungkin ia tidak akan mempercayaiku." Nabi berkata, "Katakan kepadanya bahwa tandanya adalah perang Harim."

Yahya terbangun. Ketika Nuruddin usai melaksanakan shalat Shu­buh, ia segera memanggil Yahya yang segera menghampirinya. Nuruddin berkata kepadanya, "Wahai Yahya, engkau bercerita kepadaku atau aku bercerita kepadamu."

Mendengar hal itu Yahya kaget dan tertegun, lalu berkata, "Aku akan bercerita kepadamu: Aku melihat Nabi Shalallahu 'alaihi wasallam tadi malam (dalam mimpi), dan beliau berkata untukmu demikian dan demikian."

"Betul demikian," kata Nuruddin menimpali. Yahya berkata, "Demi Allah, wahai Tuanku, apa arti perkataan Nabi bahwa tandanya adalah perang Harim?" Nuruddin menjawab, "Ketika kami bertemu musuh, aku mengkhawatirkan Islam, maka aku menyendiri, memisahkan diri dan melumuri wajahku dengan tanah seraya aku berkata, "Wahai Tuhanku dari Mahmud yang sedang gundah gulana. Agama ini adalah agama-Mu tentara ini adalah tentara-Mu, dan hari ini aku melakukan apa yang selaras dengan karamah-Mu."
Yahya berkata, "Akhirnya Allah memenangkan kami atas mereka."

Keadilannya.
Nuruddin adalah seorang yang adil dan memperhatikan keadilan da­lam segala urusannya, sehingga ia menjadi peribahasa dalam keadilan bahkan ia dinamakan dengan Raja Adil.

Ibnu Atsir berkata, "Sungguh ia telah menutupi bumi dengan biogra­finya yang indah dan keadilannya. Aku telah membaca biografi para raja, namun aku tidak melihat, sesudah Khulafa'ur Rasyidin dan Umar bin Abdul Aziz, yang lebih baik daripada biografinya dan tidak ada yang lebih memperhatikan keadilan daripadanya.”

Ibnu Atsir juga mengatakan, "Adapun keadilannya ialah ia tidak per­nah membiarkan pungutan (pajak) dan kesulitan dalam negerinya sekuat tenaganya, tetapi membebaskan  semua pungutan itu di Mesir, Syam, Aljazirah dan Maushin.

Ia sangat mengagungkan syariat dan memperhatikan hukum-hukum syariat tersebut.
Pernah ada seseorang yang menghadirkannya ke pengadilan, maka ia pun berangkat bersamanya menuju ke pengadilan tersebut. Ia menulis su­rat kepada hakim, Kamaluddin bin Asy-Syahrzuri, berisi pernyataan, 'Aku datang sebagai terdakwa; perlakukanlah aku sebagaimana engkau memperlakukan penuntut itu.’ Ternyata hak itu milik beliau, akan tetapi beliau memberikannya kepada Si penuntut yang menghadirkannya, seraya ber­kata, 'Aku ingin membiarkan apa yang diklaimnya, tapi aku khawatir yang mendorongku untuk melakukan itu adalah kesombongan dan tidak mau datang ke pengadilan Syariah. Maka aku datang, kemudian aku memberikan apa yang diklaimnya.

Ia membangun forum keadilan (Dar Al-'Adl) di negerinya. Ia duduk bersama hakim di sana untuk melayani orang yang dizhalimi, sekalipun ia seorang Yahudi, dari orang yang berbuat zhalim, sekalipun ia putranya atau menterinya yang paling berpengaruh.”

Ia juga berkata dalam bukunya, At-Tarikh Al-Bahir,”Ia mengetahui fiqih menurut Madzhab Imam Abu Hanifah. Ia tidak memiliki sifat fana­tik dalam madzhab, tetapi sikap moderat itulah yang menjadi tabiatnya dalam segala sesuatu.”

Adz-Dzahabi berkata, "Penguasa Syam, seorang Raja yang adil, dia­lah Nuruddin.” Ia juga berkata, "Adalah Nuruddin pembawa dua panji: keadilan dan jihad. Jarang sekali mata melihat orang sepertinya.”

Ibnu Katsir rohimahullah berkata, "Ia melaksanakan pemerintahannya dengan keadilan yang mempesona, mengikuti syariat yang suci, menyelenggarakan berbagai forum keadilan dan memimpinnya sendiri, dan bergabung di dalamnya itu hakim, ahli fiqih dan mufti dari berbagai madzhab.

Pada hari Selasa, ia duduk di masjid yang memiliki serambi agar setiap orang dari kaum muslimin dan ahli dzimmah mudah menemuinya, sehingga ia dapat menyamakan mereka.

Kecemburuan yang Sejati.
Ia memiliki ghirah (kecemburuan) yang sejati terhadap agama Allah dan terhadap kehormatan kaum muslimin. Kedua matanya terbelalak melihat keadaan umat Islam yang begitu memprihatinkan dan kekalahan mereka yang bertubi-tubi. Semua itu sangat menyakitkannya.

Yang perlu diingat dalam pembahasan ini ialah bahwa Nuruddin sa­ngat sedikit tertawa. Ketika pemimpin spiritualnya menasehatinya bahwa tersenyum termasuk wasiat kenabian, maka Nuruddin berkata kepadanya, "Jangan engkau mencela aku, wahai Syaikh! Bagaimana mungkin aku bisa tersenyum sementara ribuan muslimat ditawan kaum kafir yang biadab dan tidak mengenal belas kasih?”
“Dan bagaimana saya bisa tersenyum sementara Masjid Al-Aqsha dikotori oleh musuh”

Cita-cita Luhur
Dia memiliki cita-cita yang luhur dan jiwa yang berambisi besar.
Sekalipun dia tumbuh pada saat dia menyaksikan kelemahan, perpecahan dan kehinaan yang menimpa umat Islam, namun semua itu tidak mema­tahkan semangatnya dan tidak meredupkan tekadnya, bahkan semua itu mendorongnya untuk berusaha menghilangkan bencana tersebut dari umat ini dan berusaha mengembalikan kejayaan serta kemuliaan yang te­lah dirampas darinya.

Cita-cita, dambaan, dan kesibukannya  yang paling utama adalah membebaskan  baitul Maqdis dan mensucikannya dari kotoran salib.
Salah satu yang menunjukkan ketinggian cita dan kebesaran jiwanya adalah bahwasanya tatkala ia berada di Halb, saat kaum salibis mendu­duki dan menguasi Baitul Maqdis, ia membuat mimbar besar dan mem­perelok serta mengokohkannya. Ia berkata, "Ini kami buat untuk diletak­kan di Baitul Maqdis."

Orang-orang pada saat itu mentertawakannya dan menganggapnya tidak mungkin dapat merealisasikan cita-cita tersebut. Tetapi ia tidak memperdulikan hal itu dan tetap memperbaiki mimbar tersebut. Keadaan yang menimpanya tidak ubahnya dengan keadaan yang dialami Nabi Nuh 'Alaihi wa sallam ketika beliau membuat perahu, dan setiap pembesar kaumnya melewatinya selalu menertawakannya.

Dengan membuat mimbar ini, Nuruddin bermaksud untuk membang­kitkan ruh dan semangat serta menghilangkan keputus-asaan yang meng­gelayuli banyak hati umat Islam.
Ternyata Allah mewujudkan cita-citanya tersebut, maka terbebaslah Baitul Maqdis, dan mimbar dapat diletakkan di sana melalui tangan mu­ridnya, Shalahuddin Al-Ayyubi, dan itu terjadi setelah kematian Nurud­din, semoga Allah merahmatinya.

Ibnu Atsir berkata, setelah berbicara tentang Baitul Maqdis: "Ketika pada hari Jum'at yang lainnya, 4 Sya'ban, kaum muslimin shalat Jum'at di dalamnya. Bersama mereka ada Shalahuddin, ia shalat di Qubbatush Shakhrah, sementara khatib dan imam adalah Muhyiddin bin Az-Zaki, qadhi Damaskus.

Kemudian Shalahuddin menggaji khatib dan imam shalat lima waktu secara resmi dan memerintahkan untuk membuatkan mimbar untuknya. Maka dikatakan kepadanya, "Sesungguhnya Nuruddin Mahmud telah membuat mimbar di Halb, ia telah menyuruh pembuat mimbar tersebut supaya lebih membaguskannya dan mengokohkannya. Beliau berkata saat itu: ‘Ini kami buat untuk dipajang di Baitul Maqdis’”. Para tukang kayu membuat mimbar tersebut selama beberapa tahun yang belum pernah dibuat dalam Islam sepertinya. Kemudian ia memerintahkan agar membawa mimbar tersebut, lalu mimbar tersebut diusung dari Halb dan dipasang di Baitul Maqdis.
Rentang waktu antara pembuatan mimbar dan pengusungannya seki­tar 20 tahun, dan ini adalah salah satu karamah Nuruddin dan niatnya yang baik.

Keberanian yang Tiada Tara
Ibnu Atsir berkata, "Adapun keberaniannya, sungguh tiada taranya.”
“Dalam peperangan ia hanya membawa dua busur dan dua wadah anak panah sebagai senjata dalam berperang."

Al-Quthub An-Naisaburi, seorang faqih, pernah berkata (kepada Nuruddin), "Demi Allah, Anda jangan gadaikan nyawamu dan Islam. Jika Anda gugur dalam peperangan, maka tidak seorang pun kaum muslimin yang tersisa pasti akan terpenggal oleh pedang."

Nuruddin menjawab, "Siapa Mahmud itu, sehingga ia dikatakan de­mikian? Mudah-mudahan karena (kematian)ku, Allah memelihara negeri ini dan Islam, itulah Allah yang tiada Tuhan yang berhak disembah de­ngan hak melainkan Dia.

Ibnu Qasim Al-Hamawi menyifati keberaniannya:
Keberaniannya nampak dalam keceriaan wajahnya
seperli tombak, kelemahlembutannya menunjukkan kekerasan
Dibalik ketegasannya ada kesantunan yang terlatih
Karena Allahlah kekerasan dan kelembutannya.
Adz-Dzahabi berkata, "Ia adalah pahlawan pemberani, sangat berwi­bawa, pemanah jitu, berbadan tegap, banyak beribadah, memiliki rasa takut dan wara' (takut terhadap dosa), serta menginginkan syahadah (mati syahid).

Sekretarisnya, Abul Yasr, pernah mendengar dia memohon kepada Allah agar dibangkitkan dari perut binatang buas dan paruh burung.

Adz-Dzhahabi berkata, "Ibnu Washil berkata: 'Ia adalah orang yang paling kuat, baik hati maupun fisiknya, dan tidak pernah terlihat seorangpun yang lebih hebat di atas kuda daripadanya, seolah-olah ia adalah daging yang tercipta di atas punggung kuda yang tidak bergerak (ko­koh).’"

Adz-Dzahabi berkata, "Ia pernah mengatakan, 'Sekian lama aku mencari syahadah tetapi tidak aku dapatkan.' Saya berkata, ‘Ia telah mendapatkannya di atas pembaringannya, dan berdasarkan pengakuan manusia: Nuruddin Asy-Syahid.’”

Keberaniannya nampak jelas dalam berbagai peperangan dan berba­gai futuh (pembebasan negeri) yang dilakukannya, yang keberaniannya bisa dibilang sangat langka.
Keberaniannya nampak juga dari pencariannya untuk meraih syaha­dah dan keinginannya untuk mendapatkan syahadah tersebut.

Sekalipun demikian, ternyata Nuruddin rahimahullah meninggal di atas pembaringannya akibat penyakit penyempitan tenggorokan yang menimpa­nya, yaitu pada tahun 569 H.

Rasa  cinta Si pengecut  terhadap dirinya membawanya kepada ketakutan
Sedang rasa cinta pemberani terhadap dirinya membawanya kepada peperangan.

Sebentar lagi akan disebutkan tentang keberaniannya, melalui syair­-syair yang dipersembahkan para penyair untuknya


Kehebatan dan Kerendahan Hatinya
Ia adalah orang yang sangat hebat (sangat berwibawa dan ditakuti), dan dalam waktu yang sama ia juga orang yang sangat rendah hati serta lemah lembut dalam pergaulan, dan memang demikianlah semestinya akhlak para pembesar.

Dia sudah masyhur dengan sifat-sifat tersebut. Ibnul Atsir berkata. "Ia seorang yang sangat hebat sekaligus rendah hati. Secara global, kebaikannya sangat banyak, dan sifat-sifatnya sangat banyak yang tidak mungkin dapat dicakup seluruhnya dalam buku ini.

Adz-Dzahabi menuturkan dari Ibnu Asakir, "Orang yang melihatnya akan menyaksikan kebesaran seorang raja, dan kehebatannya tidak ada yang menandinginya. Jika seorang bercakap-cakap dengannya, ia akan melihat kelembutannya yang mencengangkan. Dikisahkan dari para saha­batnya, baik yang datang maupun yang pergi, bahwasanya dia tidak per­nah mendengar darinya satu kata keji pun, baik dikala ridha maupun se­dang marah."

Ibnu Katsir berkata, "Ia adalah orang yang sangat hebat, berwibawa dan sangat disegani oleh para amir (gubernur). Tidak ada seorang pun yang berani duduk di hadapannya kecuali dengan izinnya. Dan tidak ada seorang amir pun yang dapat duduk tanpa izinnya, selain Amir Naj­muddin Ayyub. Adapun Asaduddin Sirkuh dan Mujidduddin bin Dayah, wakil Halb, dan para pembesar lainnya, mereka berdiri di hadapannya. Sekalipun demikian, apabila seorang faqih (ahli fikih) atau kaum fakir menghadapnya, maka Nuruddin berdiri menghormatinya, berjalan seiring dan mempersilahkan duduk bersamanya di atas sajadahnya dengan penuh kewibawaan dan ketenangan.

Jika ia memberikan seseorang dari mereka sesuatu yang dianggap banyak, maka ia berkata, ‘Mereka adalah tentara Allah, dan berkat doa merekalah kami menang atas para musuh. Mereka mempunyai hak pada Baitul Mal yang lebih besar daripada yang telah kuberikan kepada mereka. Jika mereka ridha terhadap kami dengan sebagian hak mereka, maka mereka memiliki andil atas kita.’”

Sangat Bersemangat Dalam Mengikuti Sunnah
Ia sangat bersemangat dalam mengikuti sunnah, menyebarkan, dan mengamalkannya. Telah disebutkan sebelumnya bahwa ia banyak mem­baca kitab-kitab agama dan mengikuti sunnah-sunnah Nabi 'Alaihi wasallam.

Sebagai bukti, ia memenangkan sunnah di negerinya, mematikan bid'ah, dan memerintahkan untuk menyerukan adzan dengan: Hayya 'alash shalah hayya 'alal falah. Kedua lafal tersebut tidak dipakai adzan di dua negara ayah dan kakeknya, melainkan beradzan dengan lafal: Hayya 'alal khairil 'amal, karena syiar Rafidhi (simbol Syiah) lebih dominan di sana.

Termasuk salah satu semangatnya untuk mengikuti sunnah ialah bahwa pernah terdengar olehnya penggalan hadits yang berisi bahwa Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam keluar dengan menyandang pedang. Maka ia heran dengan berubahnya kebiasaan-kebiasaan manusia, karena telah shahih dari Nabi (bahwa beliau menyandang pedang). Dan bagaimana mungkin dia mengharuskan para prajurit untuk mengawal para amir dan tidak melakukan sebagai­mana yang dilakukan oleh Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam?

Kemudian ia memerintahkan kepada pasukan agar menyandang pe­dang tersebut. Kemudian ia keluar pada hari kedua ke rombongan dengan menyandang pedang, demikian pula seluruh pasukan; dengan demikian ia ingin mencontoh Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam.

Mencintai Ilmu, Ulama dan Orang-Orang Shalih
Dia sangat mencintai ilmu, ulama dan orang-orang shalih, serta ber­keinginan untuk meniru-niru mereka, mendekati mereka, bersaudara de­ngan mereka, dan mengunjungi mereka.

Ibnul Atsir berkata, "Ia memuliakan ulama dan ahli agama, meng­agungkan, menghormati, duduk bersama, dan bersuka cita bersama me­reka. Tidak membantah ucapan mereka, dan menulis surat kepada mereka dengan tangannya sendiri.”

Ia banyak memberikan hadiah kepada mereka, sebagaimana telah disinggung. Demikian pula ia sangat mencintai ilmu, dan itu terbukti dari banyaknya ia membaca kitab serta kecintaannya mendengarkan hadits Nabi Shalallahu 'alaihi wasallam.
Ibnu Asakir berkata. "Ia meriwayatkan hadits dan memperdengar­kannya dengan ijazah.

Mengasihi Orang Miskin
Telah disinggung sedikit mengenai hal itu. Salah satu bukti kasih sayang tersebut ialah bahwa apabila hamba sahayanya sudah dewasa, maka dia membebaskannya dan menikahkannya dengan budak wanita­nya. Dan kapan saja rakyat melaporkan (kecurangan) gubernurnya, maka ia akan menurunkannya.

Inilah sebagian sifatnya, maka sudah sepantasnya orang yang mem­punyai sifat-sifat tersebut meraih segala kebaikan dan kemuliaan.

Sumber: Himatul ‘Aliyah

Sekilas Tentang Kehidupan MU'AWIYAH BIN ABU SUFYAN

Share |

Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dalam al-Mushannafnya dari Sa’id bin Jamhan dia berkata: Saya katakan kepada Safinah, “Sesung­guhnya Bani Umayyah mengatakan bahwa sesungguhnya khilafah akan berada di tangan mereka.”

Safinah berkata, ‘Bani Zarqa’ itu bohong, mereka adalah para raja dari raja-raja. Sedangkan awal rajanya adalah Mu’awiyah: Imam al-Baihaqi dan Ibnu Asakir meriwayatkan dari Ibrahim bin Suwaid al-Armani dia berkata: Saya katakan kepada Ahmad bin Hanbal “Siapakah para khalifah itu?”
Dia menjawab, “Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali”
Saya katakan, “Lalu bagaimana pendapatmu tentang Mu'awiyah?” Dia berkata, “Dia bukanlah orang yang lebih berhak untuk menjadi khalifah daripada Ali selama Ali masih ada.”

As-Salafi meriwayatkan dalam ath-Thuyuriyyaat dari Abdullah bin Ahmad bin Hanbal dia berkata: Saya bertanya kepada ayahku tentang Ali dan Mu'awiyah.
Dia berkata, “Saya melihat bahwa Ali banyak musuhnya. Lalu musuh-musuhnya mencari-cari aib dan celanya namun mereka tidak mendapatkannya. Lalu mereka datang kepada seorang laki-laki yang telah diperanginya (Mua'wiyyah). Mereka menyanjung-nyanjungnya sebagai tipu muslihat dari musuh-musuh Ali tersebut.”
Ibnu Asakir meriwayatkan dari Abdul Malik bin ‘Umair dia berkata:
Jariyah bin Qudamah as-Sa’di datang menemui Mu’awiyah. Mu’awiyah berkata, “Siapa anda?”

Dia menjawab, “Saya Jariyah bin Qudamah.”
Mu’awiyah melanjutkan, “Lalu apa yang ingin kau lakukan? Tidakkah engkau ini hanyalah seekor lebah?”

Jariyah berkata, “Jangan kau katakan itu! Jika kau katakan itu, berarti kau telah menyerupakan aku dengan binatang yang punya daya sengat yang sangat keras, dan liurnya (madunya) sangat manis. Demi Allah, Mu'awiyah tak lain adalah anjing betina yang menggonggong kepada anjing-anjing. Sedangkan Umayyah tak lebih dari bentuk kata yang diambil dari amat (budak perempuan).”
 
Ibnu Asakir meriwayatkan dari Ibnu al-Fadhl bin Suwaid dia ber­kata: Jariyah bin Qudamah datang sebagai utusan menemui Mu'awiyah. Lalu Mu'awiyah berkata kepadanya, “Kau adalah orang yang setia kepada Ali bin Abi Thalib, dan engkau adalah orang yang menyalakan api dalam bara. Kau berkeliaran di kampung-kampung negeri Arab sambil menumpahkan darah mereka.”

Jariyah bin Qudamah berkata, “Wahai Mu'awiyah, janganlah kau sebut-sebut tentang Ali Sebab kami tidak pemah membencinya sejak kami mencintainya, dan kami tidak pernah membohonginya sejak kami bersahabat dengannya.”
Mu'awiyah berkata, “Celaka kamu wahai Jariyah! Kehinaan apa yang terjadi kepada keluargamu sehingga mereka memberimu nama Jariyah (budak perempuan)?”
Jariyah berkata, “Wahai Mu'awiyah kau sangat hina di mata keluargamu saat mereka memberimu nama Mu'awiyah.”

Mu’awiyah berkata, “Benar-benar kamu orang yang tidak memiliki ibu!”
Jariyah berkata, "Ibu saya adalah wanita yang melahirkan saya. Sesungguhnya pedang-pedang yang kami bawa untuk memerangimu di Shiffin masih ada di tangan.”
Mu’awiyah berkata, “Apakah kau mengancam saya?”

Jariyah berkata, “Sesungguhnya engkau belum pernah menguasai kami dengan kekerasan dan tidak pernah menaklukkan kami dalam sebuah peperangan. Namun kamu memberikan janji dan kesepakatan kepada kami. Jika kamu menetapi janji maka kami akan menetapi sesuai dengan kesepakatan, dan jika kamu menginginkan yang lain maka sesungguhnya kami masih mempunyai banyak tentara yang berdiri di belakang kami. Kami masih memiliki baju-baju besi yang kuat. Jika kamu memulai melakukan pengkhianatan, maka kami akan maju dengan langkah yang lebih panjang.”
Mu’awiyah berkata, “Semoga Allah tidak menciptakan lebih banyak manusia-manusia sepertimu.”

Ibnu ath-Thufail meriwayatkan dari ‘Amir bin Watsilah (dia adalah seorang sahabat), bahwa dia datang menemui Mu'awiyah. Mu'awiyah berkata kepadanya, “Bukankah kamu salah seorang pembunuh Utsman?”
Dia berkata, “Tidak, saya adalah orang yang ada di situ, dan saya bukan orang yang menolongnya.”

"Lalu apa yang menghalangimu hingga kamu tidak menolongnya?”, tanya Mu'awiyah.
Dia berkata, “Sebab tidak ada seorang Muhajir dan Anshar pun yang menolongnya.”
Mu'awiyah berkata, “Bukankah telah sampai waktunya kepada mereka untuk menolong dan membantunya?”

Dia berkata, “Lalu apa yang menghalangimu untuk membantunya, wahai Amirul Mukminin, padahal kamu memiliki massa dan rakyat di tanah Syam?”
Mu'awiyah berkata, “Bukankah tuntutanku atas kematian Utsman merupakan bantuanku kepadanya?”

Abu Thufail tertawa mendengar ucapan Mu'awiyah. Lalu dia berkata, “Sikapmu kepada Utsman adalah laksana perkataan seorang penyair:
"Saya tidak akan senang kepadamu jika kamu meratapi aku setelah aku mati
namun di masa aku hidup tak pernah mendukungku"
Asy-Sya'bi berkata: Orang yang pertama kali berkhutbah sambil duduk adalah Mu'awiyah. Ini dia lakukan tatkala badannya kegemukan dan perutnya besar. (Diriwayatkan oleh Abu Syaibah).

Az-Zuhri berkata: Orang yang pertama kali mendahulukan khutbah 'Ied daripada shalat adalah Mu'awiyah. (Diriwayatkan oleh Abdur Razzaq dalam Mushannafnya).
Sa'id bin al-Musayyib berkata: Orang yang pertama kali menyuruh adzan pada shalat led adalah Mu'awiyah. Dan orang yang pertama kali mengurangi takbir adalah Muawiyah. (Diriwayatkan oleh Ibnu Syaibah).

Dalam kitab al-Awail karangan al-Askari dia berkata: Muawiyah adalah orang yang pertama kali membuat pos surat dalam Islam. Juga orang yang pertama kali menjadikan orang-orang yang dikebiri se­bagai penjaga-penjaganya untuk kebutuhannya yang sangat khusus.
Dia adalah orang yang pertama kali dipermainkan oleh rakyatnya.
Dia juga orang yang pertama kali dikatakan kepadanya,
"Assalamu 'alaika ya Amirul Mukminin warahmatullah wa­barakatuhu, ash-shalata yarhamukallah.

Orang yang pertama kali membuat stempel. Dia menyerahkan tugas ini kepada Ubaidillah Aus al-Ghassani. Dia menyerahkan stempel dan padanya tertulis: “Setiap amal pasti ada balasannya”.

Hal ini terus berlangsung hingga masa khilafah Abbasiyah. Sebab dibuatnya stempel adalah bahwa dia memerintahkan seseorang untuk memberikan uang sebanyak seratus ribu, namun ternyata orang itu membuka surat dan menulisinya menjadi dua ratus ribu. Tatkala hal itu diajukan kepada Mu'awiyah, dia mengingkari pengeluaran uang yang seratus ribunya lagi. Maka, sejak itulah stempel dibuat.

Dia juga orang pertama yang membuat dinding pembatas Imam di masjid (Hal ini juga dinisbahkan kepada Utsman).
Dia pula yang memberi ijin untuk melepaskan seluruh kiswah (kain penutup) Ka'bah. Sebelumnya penutup Ka'bah itu disingkapkan sebagiannya saja.
Zubair bin Bakar meriwayatkan dalam kitabnya al-Muwaffaqiyat dari anak saudara az-Zuhri dia berkata: Saya berkata kepada az-Zuhri, “Siapa orang yang pertama kali bersumpah dalam bai'at?” Dia berkata, “Mu'awiyah, dia bersumpah dengan nama Allah atas mereka. Namun di masa Abdul Malik bin Marwan dia bersumpah dengan menggunakan kata thalak dan pembebasan budak.”

Al-Askari daIam kitabnya al-Awail meriwayatkan dari Sulaiman bin Abdullah bin Ma'mar dia berkata: Suatu ketika Mu'awiyah datang ke Makkah atau Madinah. Lalu dia mendatangi masjid kemudian duduk di tengah-tengah jama'ah yang di dalamnya ada Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas dan Abdur Rahman bin Abu Bakar. Semuanya menerima kedatangannya, kecuali Ibnu Abbas. Dia berpaling dari Mu'awiyah. Mu'awiyah berkata, “Saya lebih berhak untuk memangku khilafah daripada orang yang berpaling ini dan juga dari anak pamannya.” (yakni Ali bin Abi Thalib).
Ibnu Abbas berkata, “Mengapa? Apakah karena kau masuk Islam di awal-awal atau kau bersama-sama Rasulullah dan kau kerabat dekatnya?”
Mu'awiyah berkata, “Bukan itu. Namun karena saya adalah anak paman orang yang terbunuh (maksudnya Utsman).”

Ibnu Abbas berkata, “Jika itu alasannya, maka ini -dia menunjuk kepada Abdullah bin Umar- lebih berhak untuk menjadi khalifah.”
Mu'awiyah berkata, "Namun ayahnya mati secara alami.”
Ibnu Abbas berkata, "Kalau begitu dia -dia menunjuk kepada Abdullah bin Umar-lebih berhak untuk memegang khilafah.

Mu'awiyah berkata, “Sayang ayahnya dibunuh oleh seorang kafir.”
Ibnu Abbas berkata, “Kalau itu jawabanmu maka hujjah yang kamu katakan telah batal dengan sendirinya. Sebab anak pamanmu telah dicela oleh kaum muslimin kemudian mereka membunuhnya.”
Abdullah bin Muhammad bin 'Uqail berkata: Mu'awiyah datang ke Madinah. Saat itu dia bertemu dengan Abu Qatadah al-Anshari. Mu'awiyah berkata, “Semua orang datang menemuiku kecuali engkau orang-orang Anshar.”
Abu Qatadah berkata, “Kami tidak memiliki kendaraan untuk datang menemuimu.”
Mu'awiyah berkata, “Lalu kemana unta-unta kalian?”
Abu Qatadah berkata, “Kami sembelih saat kami mengejarmu dan mengejar ayahmu pada perang Badar.”

Kemudian Abu Qatadah melanjutkan, “Sesungguhnya kalian akan menyaksikan setelahku tindakan-tindakan yang egoistis dan mementingkan diri sendiri.”
Mu'awiyah berkata, “Lalu apa yang harus kalian lakukan?”
Abu Qatadah berkata, “Kami diperintahkan untuk sabar.”
Mu'awiyah berkata, “Maka sabarlah kalian!”
Ucapan ini sampai kepada Abdur Rahman bin Hassan bin Tsabit. Maka dia kemudian menyenandungkan sebuah syair.
"Ketahuilah, sampaikan kepada Mu'awiyah bin Harb
Sang Amirul Mukminin ucapanku
Sesungguhnya kami sabar dan akan menunggu hingga hari Pengumpulan dan Perhitungan"
Ibnu Abi ad-Dunya dan Ibnu Asakir meriwayatkan dari Jibilah bin Sahim dia berkata: Saya datang menemui Mu'awiyah bin Abi Sufyan saat dia telah menjadi khalifah. Saya lihat di lehernya ada seutas tali sedangkan seorang anak kecil menariknya.
Lalu saya katakan kepadanya, “Wahai Amirul Mukminin, apakah pantas kau lakukan hal demikian?”
Mu'awiyah berkata, "Wahai orang celaka, diamlah engkau! Sebab saya pernah mendengar Rasulullah bersabda,
"Barangsiapa yang memiliki anak kecil, maka pura-puralah dia menjadi anak-anak." (Ibnu Asakir bahwa riwayat ini sangat asing).
Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dalam Mushannafnya dari asy-Sya'bi dia berkata: Seorang pemuda Quraisy datang menemui Mu'awiyah. Orang itu mencelanya dengan ucapan yang keras. Mu'awiyah berkata, “Wahai anak saudaraku, saya memperingatkanmu dengan peringatan dari sultan (maksudnya dirinya sendiri); sebab sultan itu jika marah dia akan marah laksana marahnya anak kecil dan jika dia memangsa maka dia akan memangsa laksana singa yang garang.”
Juga dari Sya'bi dia berkata: Ziyad berkata: Saya mempekerjakan seorang laki-laki lalu dia melakukan kesalahan yang fatal. Karena khawatir akan dikenakan sanksi dia lari kepada Mu'awiyah. Saya menulis surat kepadanya bahwa sesungguhnya ini adalah adab yang tidak baik.

Lalu dia menulis surat balasan untukku: Sesungguhnya tidak sewa­jarnya saya dan kamu secara bersama-sama memperlakukan manusia dengan satu cara. Janganlah kita selalu berlaku lembut hingga mem­buat manusia tidak segan-segan melakukan pelanggaran, dan jangan pula kita memperlakukannya dengan serba keras hingga membuat manusia akan menceburkan dirinya kepada kehancuran. Maka ber­laku keraslah engkau dengan sekeras-kerasnya dan biarkan saya ber­laku lembut dan penuh kehangatan.

Asy-Sya’bi juga berkata: Saya mendengar Mu’awiyah berkata, “Tidak ada satu pun umat terpecah-pecah kecuali pelaku kebatilan akan muncul dan menang atas orang-orang yang memegang teguh kebenaran kecuali umat ini.”
Di dalam kitab ath-Thuyuriyyat dari Sulaiman al-Makhzumi dia berkata: Mu'wiyah pernah memberikan izin secara umum untuk rakyatnya. Tatkala semua orang sudah ada di majlis itu, dia berkata, “Coba ucapkan kepadaku tiga bait syair orang Arab yang setiap baitnya memiliki maknanya yang berdiri sendiri.”
Orang-orang pada diam. Kemudian muncul Abdullah bin Zubair.
Dia berkata: Ini dia, Abu Khubaib, orator Arab, orang yang paling alim. Selamat datang!
Dia berkata, "Coba katakan kepadaku tiga bait syair dari seorang Arab dimana setiap bait memiliki maknanya yang berdiri sendiri.”
Abdullah bin Zubair berkata, “Dengan harga tiga ratus ribu. “
Mu'awiyah berkata, “Ya.”
Abdullah berkata, “Dengan pilihan, dan kau akan menepati janjimu,”
Mu'awiyah berkata, “Cepat katakan!”
Maka Abdullah bin Zubair mengutip syair Afwah al-Awdi sebagai berikut:
"Kuuji manusia abad demi abad
tak kudapatkan kecuali penipu dan jago omong"
"Kau benar lanjutkan!" kata Mu'awiyah.
"Tidak satu pun perkara yang aku lihat yang lebih sulit
 dari permusuhan kepada orang"
“Kau benar, lanjutkan!” lanjut Mu'awiyah.
"Saya rasakan pahitnya sesuatu demikian mengiris
lalu bagaimana rasa perkara dengan cara meminta".
Imam al-Bukhari an-Nasai dan Ibnu Abi Hatim dalam kitab Tafsimya meriwayatkan -Iafal ini adalah yang ada dalam tafsir Ibnu Abi Hatim- dengan jalur yang bermacam-macam bahwa Marwan pemah berpidato di Madinah. Saat itu dia diangkat sebagai gubernur Hijaz oleh Mu’awiyah dia berkata, “Sesungguhnya Allah telah memperlihatkan kepada Amirul Mukminin bahwa pemilihan anaknya Yazid adalah baik adanya. Jika dia tidak menyatakan bahwa dia sebagai pengganti se­sudah dirinya, maka sesungguhnya Abu Bakar dan Umar telah menen­tukan pilihannya siapa penggantinya sebelum kematiannya.” (dalam ri­wayat lain: Ini adalah sunnah yang dilakukan oleh Abu Bakar dan Umar).

Abdur Rahman bin Abu Bakar yang mendengar pidato itu berkata, "Ini sunnah Kaisar Romawi dan Persia. Karena sesungguhnya Abu Bakar dan Umar tidak pernah memberikan khilafah kepada anak dan kaum kerabatnya, sedangkan Mu'awiyah melakukan ini semata-mata karena rasa sayang dan cintanya kepada anaknya.”
Marwan berkata, "Bukankah engkau orang yang mengatakan kepada kedua orang tuamu 'ah kalian berdua!' (ini merujuk kepada ayat 23 surat al-Isra', pent)."
Abdur Rahman berkata, 'Bukankah engkau anak orang yang terlaknat karena Rasulullah pernah melaknat ayahmu?"
Aisyah berkata, "Marwan itu berbohong, bukan tentang Abdur Rahman ayat itu turun. Ayat itu turun mengenai Fulan bin Fulan; namun yang jelas Rasulullah pernah melaknat ayah Marwan dan Marwan saat itu berada dalam tulang rusuknya. Makanya Marwan termasuk bagian orang yang dilaknat Allah dan Rasulullah."

Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dalam al-Mushannafnya dari 'Urwah dia berkata bahwa Mu'awiyah berkata, "Tidak ada kesabaran kecuali melalui pengalaman."
Ibnu Asakir meriwayatkan dari asy-Sya'bi. Orang yang cerdik di kalangan Arab itu ada empat: Mu'awiyah, 'Amr bin al-'Ash, al-Mughirah bin Syu'bah dan Ziyad. Adapun Mu'awiyah terkenal dengan kesabaran dan kehati-hatiannya. 'Amr bin al-'Ash dalam memecahkan masalah-­masalah yang pelik dan rumit, al-Mughirah dalam kecepatan dan ketanggapannya. Sedangkan Ziyad dalam kemampuannya berkomu­nikasi dengan orang yang sudah tua dan anak yang masih muda.
Asy-Sya'bi juga berkata: Qadhi (hakim) itu ada empat dan orang cerdik itu ada empat juga. Adapun hakim itu adalah: Umar, Ali Ibnu Mas'ud dan Zaid bin Tsabit. Sedangkan orang yang cerdik itu adalah: Mu'awiyah, 'Amr bin al-'Ash, al-Mughirah bin Syu'bah dan Ziyad.

Ibnu Asakir meriwayatkan dari Qubaishah bin Jabir dia berkata: Saya pernah menemani Umar bin Khaththab, ternyata tidak saya dapatkan seorang pun yang lebih baik bacaan al-Qur'annya dan pemahaman agamanya daripada dia. Saya juga pemah bersama Thalhah bin Ubaidillah, ternyata saya tidak dapatkan seorang yang lebih dermawan darinya, dimana dia memberi tanpa diminta. Saya juga pernah bersama Mu'awiyyah, ternyata tidak saya dapatkan seorangpun yang memiliki kesabaran dan kemampuan untuk berpura-pura bodoh serta kehati-hatian melebihi Mu'awiyah. Saya juga pernah menemani 'Amr bin al-'Ash ternyata tidak saya dapatkan orang yang sangat tegak duduknya daripada dia. Saya juga pernah bersama dengan al-Mughirah bin Syu'bah. Andaikan sebuah kota memiliki delapan pintu dan dia tidak mungkin keluar darinya kecuali dengan tipu muslihat maka dia akan keluar dari pintu-pintu itu.

Ibnu Asakir meriwayatkan dari Hamid bin Hilal bahwa 'Uqail bin Abi Thalib datang menemui Ali dan meminta uang kepadanya. Dia berkata, “Saya adalah orang yang membutuhkan bantuan dan saya adalah seorang fakir, maka berilah saya harta.”
Ali berkata, “Sabarlah hingga gajiku dibayar bersama dengan kaum muslimin yang lain. Saat itu baru akan saya berikan kepadamu harta yang kamu minta.”

'Uqail ternyata mendesak. Ali berkata kepada seorang laki-laki "Bawalah dia ke toko-toko di pasar lalu ketuklah pintu dan ambillah apa yang ada di toko-toko itu!”
'Uqail berkata, “Apakah kau ingin saya menjadi seorang pencuri?” Ali berkata, “Bukankah engkau juga menginginkan saya menjadi seorang pencuri dengan cara mengambil harta kaum muslimin, lalu saya serahkan kepadamu?”
'Uqail berkata, “Saya akan datang menemui Mua'wiyah!”
Ali berkata, “Terserah kamu!'

Dia datang menemui Mu'awiyah dan meminta harta kepadanya. Mu'awiyah memberinya seratus ribu. Mu'awiyah berkata kepada 'Uqail, “Naiklah ke mimbar lalu katakan kepada mereka bagaimana Ali memperlakukanmu dan bagaimana pula saya memperlakukanmu.”

'Uqail naik ke mimbar kemudian memuji Allah. Dia berkata, “Wahai hadirin yang mulia, sesungguhnya akan saya beritahukan kepada kalian. Sesungguhnya saya menginginkan Ali mengkhianati agamanya, namun dia memilih agamanya. Dan saya menginginkan Mu'awiyah men­jual agamanya kepadaku, ternyata dia memilihku daripada agamanya.”

Ibnu Asakir meriwayatkan dari Ja'far bin Muhammad dari ayahnya bahwa 'Uqail datang menemui Mu'awiyah. Mu'wiyah berkata, "Ini 'Uqail sedangkan pamannya adalah Abu Lahab!”

'Uqail berkata, “Ini Mu'awiyah sedangkan bibinya adalah "sang pembawa kayu bakar.” (merujuk kepada surat al-Lahab, pent)
Ibnu Asakir meriwayatkan dari al-Awza'i dia berkata: Khuraim bin Fatik masuk menemui Mu'awiyah dengan kain yang agak terangkat -dia memiliki betis yang indah-. Maka berkatalah Mu'awiyah, “Andaikata dua betis ini milik seorang wanita.”
Khuraim berkata, “Dalam usiamu yang sudah tua begini, wahai Amirul Mukminin!”

Tokoh-tokoh yang Meninggal di Zamannya

Pada masa kekhilafahan Mu'awiyah ada beberapa tokoh penting yang meninggal. Antara lain: Shafwan bin Umayyah, Hafshah, Ummu Habibah, Shafiyah, Maimunah, Sawdah, Juwairiyah, ‘Aisyah Ummahatul Mukminin radhiallahu 'anha, Labid Sang Penyair, Utsman bin Thalhah al-Hajabi, 'Amr bin al-‘Ash, Abdullah bin Salam mantan pen­deta, Muhammad bin Maslamah, Abu Musa al-'Asyari, Zaid bin Tsabit, Abu Bakrah, Ka'ab bin Malik, al-Mughirah bin Syu'bah, Jarir al-Bajali, Abu Ayyub al-Anshari, Fadhalah bin Ubaid, Abdur Rahman bin Abu Bakar, Jubair bin Muth'im, Usamah bin Zaid, Tsauban, 'Amr bin Hazm, Hassan bin Tsabit, Hakim bin Hizam, Sa'ad bin Abi Waqqash, Abu al Yasr, Qutsam bin al-Abbas, Ubaidillah bin al-Abbas, 'Uqbah bin Amir, dan Abu Hurairah yang meninggal pada tahun 59 H. Dia pernah ber­doa, “Ya Allah saya berlindung kepada-Mu dari tahun enam puluhan, dan kepemimpinan anak-anak.” Kematiannya menunjukkan bahwa doanya terkabul. Dan masih banyak lagi sahabat-sahabat yang lain.

Sumber: Tarikh Khulafa'

Tentang Pembaiatan Anak Mu'awiyah: Yazid bin Mu'awiyah

Share |

Pada tahun 50 H, Mu'awiyah menyerukan kepada penduduk Syam untuk membaiat anaknya Yazid sebagai putra mahkota dan khalifah setelahnya jika dia meninggal. Orang-orang Syam pun membaiatnya. Dengan demikian Mu'awiyah adalah orang pertama yang mengangkat anaknya sebagai putra mahkota, dan orang pertama yang mewasiatkan kekhilafahan saat dia masih sehat dan segar bugar. Kemudian dia menulis kepada Marwan, gubernur Madinah untuk mengambil baiat penduduk Madinah.

Marwan kemudian berpidato di depan orang-orang dengan berkata, “Sesungguhnya Amirul Mukminin, memandang perlu untuk mengangkat anaknya sebagai khalifah atas kalian setelahnya. Dia bermaksud untuk menerapkan sunnah Abu Bakar dan Umar."

Abdur Rahman bin Abu Bakar ash-Shiddiq yang ada di tempat itu bangkit berdiri seraya berkata, “Itu bukan sunnah Abu Bakar dan Umar, ini adalah sunnah kaisar. Karena Abu Bakar dan Umar tidak pernah mewariskan khilafah kepada anak-anaknya, bahkan tidak pula kepada salah seorang keluarganya."

Pada tahun 51 H, Mu'awiyah menunaikan ibadah haji. Dia mengambil baiat penduduk untuk anaknya. Dia kemudian memanggil Abdullah bin Umar. Setelah Abdullah bin Umar datang dia bersyahadat dan berkata, '" Amma ba' du, wahai Abdullah bin Umar, Anda pernah berkata kepada saya bahwa Anda tidak suka tidur satu malam pun yang di dalamnya tidak ada seorang pemimpin. Saya ingatkan kepada Anda jangan sampai Anda memecah-belah kesatuan kaum muslimin atau Anda berusaha merusak hubungan antara mereka."

Ibnu Umar membaca hamdalah, kemudian berkata, "Amma ba'du. Sesungguhnya sebelum engkau telah ada beberapa khalifah yang mempunyai beberapa anak, yang anakmu tidak lebih baik dari­pada anak-anak mereka, namun mereka tidak memutuskan untuk memberikan khilafah kepada anak-anaknya sebagaimana yang kamu lakukan kepada anakmu. Mereka membiarkan kaum muslimin untuk menentukan pilihan mereka dalam mengangkat khalifah. Sedangkan engkau memperingatiku agar tidak memecah belah kaum muslimin. Saya tidak akan pernah melakukan itu. Sesungguhnya saya adalah satu dari sekian banyak kaum muslimin. Jika mereka sepakat dalam satu perkara, maka saya akan bersama mereka. Semoga Allah mem­berikan rahmat kepadamu." Lalu Ibnu Umar keluar.

Mu'awiyah mengutus seseorang untuk menemui salah seorang anak Abu Bakar dan memintanya datang. Tatkala datang, dia membaca syahadat dan berbicara, namun anak Abu Bakar tadi memotong perkataannya seraya berkata, "Sesungguhnya Engkau menginginkan agar kami menyerahkan khilafah yang ada padamu kini kepada anak­mu. Demi Allah, kami tidak akan pernah melakukannya. Demi Allah, kembalikan khilafah dengan cara musyawarah antara kaum muslimin atau kami akan mengacau-balaukan urusan ini.” Dia bangkit dan ber­jalan keluar.

Mu'awiyah berkata, “Ya Allah cukupkanlah dia sebagaimana Engkau sukai.” Mua'wiyyah berkata, “Jangan tergesa-gesa wahai anak Abu Bakar, saya harap Anda jangan mengatakan hal itu kepada pen­duduk Syam sebab saya khawatir mereka mendahuluiku melakukan hal yang tidak baik kepadamu hingga aku beritahukan bahwa engkau telah membaiat kita nanti malam. Setelah itu lakukan apa yang kau mau.”
Kemudian dia meminta Abdullah bin Zubair datang menemuinya.

Dia berkata, “Sesungguhnya engkau ini adalah serigala yang berkoar-­koar, setiap kali kamu keluar dalam lubang kau terjebak ke dalam lubang yang lain. Kau selalu mengagungkan dua orang ini (mungkin yang dia maksud Abu Bakar dan Umar, pent) dan kau tiupkan dalam kerongkongan mereka ucapan-ucapan yang membumbung serta kau bawa keduanya sesuai dengan pendapatmu!”

Abdullah bin Zubair berkata, “Jika kau telah bosan dengan khilafah ini maka mundurlah dan biarkanlah kami membaiat anakmu. Apakah tidak kau lihat bahwa jika kami membaiat anakmu bersamamu, maka kepada siapa kami harus mendengar dan taat? Tak mungkin ada dua baiat sekaligus untuk kalian berdua.” Abdullah bin Zubair keluar dan meninggalkannya.

Mua'wiyyah kemudian berpidato di atas mimbar. Dia memuji Allah dan berkata, "Sesungguhnya kami dapatkan perkataan manusia yang menyimpang. Mereka berkata bahwa Abdullah bin Umar, Abdur Rahman bin Abu Bakar dan Abdullah bin Zubair tidak mau membaiat Yazid, padahal mereka telah mendengar dan menyatakan ketaatan serta telah membaiatnya.”

Orang-orang Syam berkata, “Demi Allah kami tidak rela hingga mereka benar-benar menyatakan baiat di depan khalayak ramai. Jika tidak, kami akan penggal kepala mereka!”

Mua’wiyyah berkata, :”Subhanallah! Alangkah cepatnya manusia akan menimpakan kejahatan kepada orang-orang Quraisy. Saya tidak ingin mendengar perkataan seperti ini dari kalian setelah hari ini.” Lalu dia turun dari mimbar.

Orang-orang ramai membicarakan bahwa Abdullah bin Umar, Abdur Rahman bin Abu Bakar dan Abdullah bin Zubair telah membaiat Yazid, namun mereka bertiga menyatakan, “Tidak! Kami tidak pernah membaiatnya.“
Lalu orang-orang mengatakan, “Ya, mereka tidak pernah mem­baiat Yazid.” Setelah peristiwa itu Mu’awiyah kembali ke Syam.
Dari Ibnu al-Munkadir dia berkata bahwa Ibnu Umar berkata tatkala Yazid dibaiat “Jika dia baik, maka kami rela, dan jika dia jahat menjadi bencana maka kami akan sabar.”

Sumber: Tarikh Khulafa'

Kamis, 06 Januari 2011

Nasab & Sifatnya MU'AWIYAH BIN ABU SUFYAN

Share |
Mua'wiyyah bin Abu Sufyan bin Harb bin Umayyah bin Abd asy ­Syams bin Abdu Manaf bin Qushay. Nama panggilannya Abu Abdur Rahman al-Umawi. Dia dan ayahnya masuk Islam pada saat pembukaan kota Makkah (Fathu Makkah), ikut daIam perang Hunain, termasuk orang-­orang muallaf yang ditarik hatinya untuk masuk Islam, dan keislaman­nya baik, serta menjadi salah seorang penulis wahyu. 

Dia meriwayatkan hadits dari Rasulullah sebanyak seratus enam puluh tiga hadits. Beberapa sahabat dan tabi'in yang meriwayatkan hadits darinya antara lain: Abdullah bin Abbas, Abdulah bin Umar, Abdullah bin Zubair, Abu Darda', Jarir aI-Bajali, Nu'man bin Basyir dan yang lain. Sedangkan dari kalangan tabiin antara lain: Sa'id bin al-­Musayyib, Hamid bin Abdur Rahman dan lain-lain. 

Dia termasuk salah seorang yang memiliki kepintaran dan kesabaran. Banyak hadits yang menyatakan keutamaan pribadinya, namun dari hadits-hadits tersebut hanya sedikit yang bisa diterima. 

Imam at-Tirmidzi meriwayatkan (dia mengatakan bahwa hadits ini hasan) dari Abdur Rahman bin Abi Umairah (seorang sahabat Ra­sulullah) dari Rasulullah bahwa dia bersabda kepada Mu'awiyah, "Ya Allah, jadikanlah dia orang yang memberi petunjuk dan mendapat petunjuk." 

Imam Ahmad dalam Musnadnya meriwayatkan dari al-Mirbadh bin Sariyyah dia berkata: Saya mendengar Rasulullah bersabda, "Ya Allah ajarilah Mu'awiyah al-Qur'an dan hisab serta lindungilah dia dari adzab." 

Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya dan Imam ath-Thabarani dalam kitabnya al-Kabir meriwayatkan dari Abdul Malik bin Umair dia berkata: Mu'awiyyah berkata: Sejak Rasulullah bersabda kepada saya. "Wahai Mu'awiyah, jika kamu menjadi raja, maka berbuat baiklah!” saya selalu menginginkan jabatan kekhilafahan. 
Mua'wiyyah adalah seorang lelaki yang bertubuh tinggi berkulit putih dan tampan serta karismatik. Suatu ketika Umar bin Khaththab melihat kepadanya dan berkata, "Dia adalah kaisar Arab." 

Diriwayatkan dari Ali bin Abu Thalib dia berkata, "Janganlah kalian membenci pemerintahan Mu'awiyah. Sebab andai kalian kehilangan dia, niscaya akan kalian lihat beberapa kepala lepas dari lehernya." 

Al-Maqbari berkata: Kalian sangat kagum kepada kaisar Persia dan Romawi namun kalian tidak mempedulikan Mu'awiyah! Kesa­barannya dijadikan sebuah pepatah. Bahkan Ibnu Abid Dunya dan Abu Bakar bin 'Ashim mengarang buku khusus tentang kesabarannya. 

Ibnu 'Aun berkata, "Ada seorang lelaki berkata kepada Mu'awiyah: Demi Allah hendaknya kamu menegakkan hukum dengan lurus wahai Mu'awiyah. Jika tidak, maka kamilah yang akan meluruskan kamu!" 
Mu'awiyah berkata, "Dengan apa kalian akan meluruskan kami?' 
Dia menjawab, "Dengan pentungan kayu!" 
Muawiyyah menjawab, "Jika begitu kami akan berlaku lurus." 

Qubaishah bin Jabir berkata: Saya menemani Mu'awiyah beberapa lama, ternyata dia adalah seorang yang sangat sabar. Tidak saya temui seorang pun yang sesabar dia, tidak ada orang yang lebih bisa berpura-pura bodoh darinya, sebagaimana tidak ada orang yang lebih hati-hati daripadanya. 

Tatkala Abu Bakar mengutus pasukan ke Syam, dia dan saudaranya Yazid bin Abu Sufyan berangkat ke sana. Tatkala Yazid meninggal dia ditugaskan untuk menggantikan saudaranya di Syam untuk menjadi gubernur. Umar mengokohkan apa yang ditetapkan Abu Bakar dan Utsman menetapkan apa yang ditetapkan oleh Umar. Utsman menjadikan Syam seluruhnya berada di bawah kekuasaannya. Dia menjadi gubernur di Syam selama dua puluh tahun dan menjadi khalifah juga selama dua puluh tahun. 

Ka'ab al-Ahbar berkata: Tidak ada orang yang akan berkuasa sebagaimana berkuasanya Mu'awiyah. 

Adz-Dzahabi berkata: Ka'ab meninggal sebelum Mu'awiyah menjadi khalifah, maka benarlah apa yang dikatakan Ka'ab. Sebab Mu'awiyah menjadi khalifah selama dua puluh tahun, tidak ada pem­berontakan dan tidak ada yang menandinginya dalam kekuasaannya. Tidak seperti para khalifah yang datang setelahnya. Mereka banyak yang menentang, bahkan ada sebagian wilayah yang menyatakan melepaskan diri.
Mu'awiyah melakukan pemberontakan kepada Ali sebagaimana yang telah disinggung di muka, dan dia menyatakan dirinya sebagai khalifah. Kemudian dia juga melakukan pemberontakan kepada al­-Hasan. Al-Hasan akhirnya mengundurkan diri. Kemudian Mu'awiyah menjadi khalifah pada bulan Rabiul Awal atau Jumadil Ula, tahun 41 H. Tahun ini disebut sebagai 'Aam Jama'ah (Tahun Kesatuan), sebab pada tahun inilah umat Islam bersatu dalam menentukan satu khalifah. Pada tahun itu pula Mu'awiyah mengangkat Marwan bin Hakam sebagai gubernur Madinah. 

Pada tahun 43 H, kota Rukhkhaj dan beberapa kota lainnya di Sajistan ditaklukkan. Waddan di Barqah dan Kur di Sudan juga ditak­lukkan. Pada tahun itu pulalah Mu'awiyah menetapkan Ziyad anak ayahnya. Ini -menurut ats-Tsa'labi- merupakan keputusan pertama yang dianggap mengubah hukum yang ditetapkan Rasulullah. 
Pada tahun 45 H, Qaiqan dibuka. 

Pada tahun 50 H, Qauhustan dibuka lewat peperangan. Pada tahun 50 H, Mu'awiyah menyerukan untuk membaiat anaknya Yazid sebagai putra mahkota dan khalifah setelahnya jika dia meninggal.

Mu'awiyah meninggal pada bulan Rajab tahun 60 H. Dia dimakamkan di antara Bab al-Jabiyyah dan Bab ash-Shaghir. Disebutkan bahwa usianya mencapai tujuh puluh tujuh tahun. Dia memiliki beberapa helai rambut Rasulullah dan sebagian potongan kukunya. Dia mewasiat­kan agar dua benda itu di diletakkan di mulut dan kedua matanya pada saat kematiannya. Dia berkata, “Kerjakan itu, dan biarkan saya menemui Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha penyayang!”.

Sumber: Tarikh Khulafa'

TOLEDO

Share |
Toledo adalah sebuah kota kuno di Andalusia (Spanyol) yang berjarak 75 km. dari kota Medrid, ibu kota Spanyol sekarang. Orang Arab menyebutnya dengan Thulaithalah. Baik Thulaithalah maupun Toledo berasal dari kata Latin, Tholedoth. Menurut ahli sejarah, Toledo dibangun pada masa pemerintahan Yunani, sebelum dikuasai Romawi. Diduduki Romawi pada tahun 190 S.M. Saat itu Toledo maju dan di sekelilingnya dibentengi dengan pagar.

Penaklukan Islam: 
 
Setelah Toledo diduduki bangsa Goth Barat, mereka mengubah namanya menjadi Kota Kerajaan. Pada saat raja Goth Barat terakhir sibuk memadamkan pemberontakan yang dilakukan penduduk kota Pamplona di kawasan Basque, sampai kepadanya kabar penaklukan Islam dan mendaratnya tentara Thariq bin Ziad di gunung Gibraltar pada tahun 712 M. Masalahnya menjadi semakin rumit dan tentaranya diarahkan ke selatan untuk menghadapi tentara Islam. Dua kekuatan itu bertemu di medan perang di lembah Lakka dan pasukan Islam berhasil mengalahkan pasukan lawan dengan gemilang. Thariq mengarahkan pasukannya ke utara dan berturut-turut menaklukan Sadona, Modur, Karmuna, Astijah dan akhirnya Toledo yang mereka dapati telah ditinggalkan oleh penduduknya. Dari itu mereka dengan mudah menaklukkannya dan mendapatkan banyak harta rampasan.
Selanjutnya para khalifah Bani Umaiyah memberikan perhatian khusus terhadap Toledo. Pemantauan terus mereka berikan dari Kordoba, ibu kota Andalusia pada masa pemerintahan mereka. Setelah itu di dalamnya terjadi banyak pertikaian dan kekacauan. 

Toledo jatuh: 
Ketika terjadi kekacauan besar setelah jatuhnya kekhilafahan di Kordoba dan kerajaan-kerajaan di daerah-daerah pun berdiri, Bani Dzun Nun berhasil menguasai Toledo. Di sana mereka berhasil memperkuat diri.
Pada bulan Safar tahun 487 H. / 1085 M. Alfonso VI, raja Castile berhasil menduduki Toledo. Dengan jatuhnya ke tangan Castile ini berarti Toledo telah jatuh ke tangan Tentara Salib. Gemanya menyebar ke seluruh penjuru negara Islam dan para raja di Andalusia baru sadar bahwa nasib mereka akan segera berakhir. Usaha untuk merebutnya kembali telah beberapa kali dilakukan oleh dinasti Morabet, ataupun Mowahhed, tetapi semuanya gagal.
Kebudayaan: 
Toledo telah banyak memberikan sumbangan terhadap gerakan pemikiran dalam kebudayan Islam. Pada saat itu ia merupakan pusat ilmu pengetahuan penting di Andalusia dan banyak menelorkan cendekiawan yang mempunyai sumbangan besar dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan. Ketika itu ilmu fikih mendapatkan perhatian yang menakjubkan. Sebabnya adalah banyaknya orang yang pernah berguru kepada Imam Malik di Toledo dan faktor-faktor lain yang mendorong untuk itu. 
Pada masa kekuasaan Islam, kehidupan ilmiah di Toledo sangat subur. Hal itu meliputi semua bidang keilmuan, baik ilmu agama, sekular, sastra, seni, maupun teknik. Para ilmuwan, sastrawan dan penyair dari generasi ke generasi telah ikut serta dalam gerakan keilmuan. Hingga pada saat Toledo jatuh ke tangan kaum Salib mereka berpindah ke kota lain di Andalusia dan terus memberikan sumbangan pemikiran mereka.
Ulama Toledo yang paling terkenal:
 
Di Toledo muncul banyak ulama terkenal, seperti; Abu Usman Said bin Abu Hind yang digelari oleh Imam Malik dengan Orang bijak Andalusia. Dia ini pernah menduduki jabatan hakim Toledo untuk beberapa waktu. Juga ulama-ulama lain, seperti; Said bin Abdus, Abu Hind Al-Ashbuhi, Isa bin Dinar Al-Ghafiqi, Muhammad bin Waddah, Ibnu Isyun Al-Azdi, Ibnu Jusyun Al-Anshari, Ibnu Syanthir, Ibnu Maimun, Ibnu Mas‘ud Al-Thulaithali, Ibnul A‘raj, Sulaiman bin Masrur, Ibnul Qisyari, Yahya bin Tsabit Al-Fihri, Abu Bakar al-Umawi, Ibnu As-Syaikh, Ibnu Umar Al-Juhani, Mahbub Al-Khasyni, Abu Ishaq Al-Fahmi, Ibnu Samiq, Judi bin Usman, Ibnu Damj, Al-Quwaides, Al-Shaidalani, Al-Zarqani, Ibnul Baghunusy, Abul Mathraf Al-Lakhmi, Ibnul Khayyath, At-Tamimi At-Thulaithali dan lain-lain.

SYIRAZ

Share |
Kota Syiraz terletak di Iran, sekitar 935 km sebelah selatan kota Teheran  Asal penamaan kota ini diambil dari Syiraz bin Thahmuriz  Syiraz adalah sebuah kota pantai yang subur dan sangat luas, yang terletak di sebelah selatan kota Asfahan, kota ini penuh dengan rumput dan dikelilingi oleh bukit-bukit. Taman-taman yang penuh dengan pohon lebat, bunga-bunga dan tanaman lebat seakan-akan menutupi pemandangan terhadap kota ini. Kota Syiraz termasuk kota Iran yang paling moderat dari segi cuaca dan udara, mengingat banyaknya tanaman, perumahan, pembangunan, ladang-ladang, buah-buahan, sayur-sayuran, bunga-bungaan serta mata air. Penduduknya lebih dari setengah juta jiwa.

Penaklukan Islam:
 
Kota Syiraz adalah sebuah kota Islam yang cukup tua yang merupakan kota Persia yang paling subur. Kota ini mengalami renovasi dan perencanaan baru setelah masuknya Islam. Orang yang melakukan renovasi pertama terhadap kota ini adalah Muhammad bin Qasim bin Abu Akil As-Sakafi, keponakan Hajaj bin Yusuf As Sakafi. Setelah penaklukan Islam, kota Syiraz masih tetap dibuat sebagai pusat administratif dan militer untuk daerah Persia sejak tahun 650 M. Kota ini telah pernah digempur oleh Abu Musa Asy'ari dan Usman bin Abul Ash di akhir pemerintahan khalifah Umar bin Khatab r.a. Pada millenium pertama masuknya Islam, di kota ini masih terdapat dua buah candi api yang merupakan sesembahan penduduk sebelum datangnya Islam. Kedua candi tersebut adalah; Candi Karnavan dan Candi Hormuz. Di masa pemerintahan khalifah Umar bin Abdul Aziz, khalifah menunjukkan perhatiannya yang cukup intens terhadap pembangunan yayasan sosial termasuk pembangunan mesjid-mesjid. Semua khalifah Umaiyah memperlihatkan perhatiannya yang cukup besar terhadap kota Syiraz. 
Peristiwa Sejarah:
 
Beberapa waktu kemudian, kota Syiraz mengalami kerusuhan dan pemberontakan yang mengeruhkan kejernihan nama baiknya. Hal ini terutama ketika masuknya Timurlenk yang membuat Persia menjadi bagian-bagian kecil tak bernilai di dalam kekaisaran Timurlengk. Pada tahun 1667 M. terjadi hujan besar yang bersamaan waktunya dengan turunnya salju yang menutupi pegunungan. Pada waktu itu kota Syiraz mengalami banjir yang mengakibatkan terjadinya kerusakan berat. Bencana itu diikuti pula dengan merajelelanya penyakit yang membuat nasib kota Syiraz semakin terpuruk. Pada tahun 1137 H./1725 M. kota Syiraz diduduki oleh pasukan Afgan, namun dapat diusir kembali oleh tentara Safawi. Kota Syiraz dibuat sebagai ibu kota kerajaan Persia di masa pemerintahan Karim Khan Zind. Sepeninggal beliau pada tahun 1193 H./ 1779 M. kota Syiraz telah berhasil memulihkan kembali sebagian dari reputasinya. 15 tahun kemudian Aga Muhammad Syah, pendiri Daulat Bani Qajariah yang merupakan musuh kelas satu Daulat Bani Zind menguasai Persia. Sejak itu beliau memindahkan ibu kota dari Syiraz ke Teheran 
Objek Wisata:
 
Kota Syiraz mempunyai banyak objek budaya seperti mesjid-mesjid besar, rumah sakit, taman, istana dan bendungan. Kota ini juga terkenal dengan berbagai industri tradisional, seperti industi karpet yang mempunyai kwalitas terbaik di dunia 

Tokoh Terkemuka dari Syiraz: Dalam dunia ilmiah dan budaya, kota Syiraz mempunyai posisi yang sangat tinggi, banyak tokoh terkemuka di bidang sciens, sastra, puisi, fikih dan kepemimpinan, mengapliasikan diri ke kota Syiraz, seperti Kadi Abu Abbas bin Suraij, Abu Ishak As Syirazi, Hasan bin Usman As Zayadi As-Syirazi, Ibnu Khafif As Syirazi, Ahmad bin Abdurrahman As Syirazi, Hafiz As Syirazi, Musyrif bin Muslih As Syirazi, Yastohri As Syirazi, Ibnu Diya As Syirazi, Kutubuddin bin Masud As Syirazi, Gayasuddin bin Mansyir As Syirazi dan banyak ilmuan lainnya

Sejarah Kelahiran Mu'awiyyah radhiallaahu 'anhu

Share |
Al-Kharaithi meriwayatkan dalam al-Hawatif dari Hamid bin Wahb dia berkata: Suatu saat Hindun bin ‘Utbah bin Rabi'ah menjadi isteri al-fakih bin al-Mughirah. Al-fakih adalah seorang pemuda dari kalangan Quraisy. Dia memiliki satu rumah khusus untuk tamu, dimana seseorang yang masuk ke dalamnya tidak perlu minta ijin. Suatu saat rumah itu kosong tanpa penghuni dan hanya Hindun dan al-Fakih yang ada di dalam rumah itu. Al-Fakih keluar dari rumah tadi untuk memenuhi beberapa keperluannya. Kemudian datang seseorang dan masuk ke dalam rumah itu. Tatkala dia melihat seorang wanita di tempat itu, dia melarikan diri. Dan saat itulah al-Fakih melihatnya. Dia kemudian pergi menemui Hindun dan menendang dengan kakinya. Dia berkata, “Siapa laki-Iaki yang barusan berada bersamamu?” 

Hindun berkata, “Saya tidak melihat seorang pun dan saya tidak tahu hingga kau beritahukan kepadaku tentang orang itu.” 

Al-Fakih berkata, “Jika begitu, pulanglah kamu ke keluargamu.” Orang-orang ramai membicarakan masalah ini. Akhirnya ayah­nya menemuinya dan berkata, "Wahai anakku, sesungguhnya orang­-orang banyak membicarakan tentang kamu, maka ceritakanlah ke­padaku masalah yang sebenarnya. Jika suamimu benar, maka akan saya utus seseorang untuk membunuhnya hingga orang-orang tidak lagi membicarakan masalah ini. Jika dia bohong maka akan kirim para ahli tenung dari Yaman untuk menghakiminya." 

Maka, Hindun bersumpah kepada ayahnya dengan sumpah yang biasa diucapkan di zaman Jahiliyyah bahwa suaminya telah ber­bohong.

‘Utbah berkata kepada al-Fakih, “Sesungguhnya engkau telah menuduh anakku dengan tuduhan yang sangat berat. Maka marilah berhakim kepada para ahli tenung dari Yaman.”

Al-Fakih bersama beberapa orang Bani Makhzum keluar menuju Yaman. Sedangkan ‘Utbah pergi bersama beberapa orang dari Bani Abdi Manaf. Hindun bersama beberapa orang perempuan ikut dalam rombongan tadi. Tatkala mereka mendekati wilayah Yaman berubahlah keadaan Hindun dan berubah pula wajahnya. Ayahnya yang melihat perubahan ini berkata, “Wahai anakku, saya melihat perubahan terjadi padamu. Tentu saja ini terjadi karena adanya ketidaksukaan yang ada dalam dirimu.”

Hindun berkata, “Demi Tuhan, tidak wahai ayahanda, ini bukan karena adanya ketidaksukaan kepada diriku. Namun karena saya tahu bahwa kalian saat ini mendatangi orang yang bisa saja salah dan bisa juga benar. Maka saya khawatir jika dia harus menandaiku dengan tanda yang membuat saya tercela di hadapan orang-orang Arab.”

Ayahnya berkata, “Sesungguhnya saya akan mengujinya sebelum dia menebak masalahmu.”

Lalu dia memanggil kuda peliharaannya dengan siulan hingga dia mendekat. Lalu dia masukkan satu biji gandum ke dalam saluran kencingnya, dan dihimpit saat dia berjalan. Lalu rombongan itu datang menemui juru tenung di pagi hari. Sang juru tenung menyambut rombongan itu dengan menyembelih binatang. Tatakala menjelang siang, ‘Utbah berkata kepadanya, “Sesungguhnya kami datang kepadamu dengan satu masalah yang penting. Namun kami telah menyem­bunyikan sesuatu untuk menguji kehandalan anda dalam menebak. Maka tebaklah apakah yang kami sembunyikan itu?”
Sang juru tenung berkata, “Gandum yang disimpan di buah zakar!” 
‘Utbah berkata, “Saya ingin yang lebih jelas daripada ini.” 
Dia berkata, “Sebiji gandum yang disimpan di saluran kencing.” ‘Utbah berkata, “Anda benar! Kini tebaklah wanita ini!” 

Maka mulailah dia mendekat kepada wanita tadi dan menepuk pundaknya seraya berkata, “Bangkitlah! Hingga akhirnya dia mende­kati Hindun dan menepuk pundaknya sambil berkata, “Bangkitlah kau bukan perempuan jahat dan bukan pula pezina. Kau akan melahirkan seorang Raja yang bernama Mu'awiyah.”
Al-Fakih melihat kepadanya dan hendak mengapit tangannya, namun Hindun menepis tangannya dan berkata, “Jangan kau sentuh tanganku! Demi Allah, saya akan menjaganya sehingga anak itu bukan dari keturunanmu.”
Lalu kawinlah dia dengan Abu Sufyan dan lahirlah Mu'awiyah.

Sumber: Tarikh Khulafa'

ABU MUSLIM AL-KHAULANI, ABDULLAH BIN TSUAIB

Share |
“Sungguh Abu Muslim telah mati-matian dalam beribadah sehingga ia berkata, “Kalau aku melihat surga atau neraka dengan mata kepala, maka aku tidak memiliki bekal” (Utsman ibn Abi ‘Aatikah) Telah tersebar berita di jazirah Arab bahwa Rasulullah sakit parah setelah kepulangannya dari haji wada’. Maka, syaitan memperdaya al-Aswab al-‘Ansi untuk kembali kepada kekufuran setelah sebelumnya beriman...dan mengadakan kebohongan atas nama Allah, ia mendakwakan dirinya sebagai nabi yang diutus dari sisi Allah bagi kaumnya di Yaman.
Adalah al-Aswad al-‘Ansi seorang yang begitu kuat, bertubuh kekar, berkulit hitam dan banyak kejahatannya. 

Di masa Jahiliyah ia adalah seorang yang mumpuni dalam perdukunan, mahir dalam melakukan sihir atas manusia. 

Di samping itu pula ia adalah orang yang fasih lisannya, mengagumkan penjelasannya, pengkaui, mampu mempermainkan akal orang-orang awam dengan kebathilan-kebathilannya dan mampu menarik loyalitas orang-orang khusus dengan hibah dan pemberiannya. 

Ia tidak pernah muncul di hadapan manusia kecuali dengan menutup muka dengan cadar berwarna hitam untuk meliputi dirinya dengan sifat ditakuti karena tersembunyi dan berwibawa. 

Dakwah al-Aswad al-‘Ansi telah tersebar di Yaman sebagimana menjalarnya api pada tanaman yang kering, dan kabilahnya dari Bani Madzhij yang megikutinya telah membantunya dalam meyebarkan dakwahnya. 

Pada saat itu, ia adalah kabilah Yaman yang paling banyak jumlah penduduknya, paling luas kawasannya dan paling kuat bala tentaranya. 

Sebagaimana telah membantunya dalam menyebarkan dakwahnya, yaitu kemampuannya untuk menciptakan kedustaan dan menghiasi perkataannya, serta permintaan bantuannya kepada orang-orang pengkaui yang menjadi pengikutnya. 

Ia mendakwakan kepada manusia bahwa malaikat turun kepadanya dengan membawa wahyu serta memberitakan hal-hal ghaib kepadanya. 

Untuk meyakinkan manusia atas kebenaran dakwaanya, ia telah menempuh banyak cara. 

(Di antaranya) ia menyebarkan mata-matanya di setiap tempat, untuk mengetahui urusan-urusan manusia dan musykilah mereka serta menyibak rahasia-rahasia dan berita-berita mereka, serta menembus apa yang terhimpun dalam lubuk hati mereka dari angan-angan dan kesusahan. 

Dan mereka di waktu yang sama merayu dan menipu mereka agar merujuk kepadanya (al-Aswad) dan meminta pertolongan darinya. 

Dan apabila mereka mendatanginya, ia menghadapi setiap orang yang punya hajat dengan hajatnya dan memulai setiap orang yang punya permasalahan dengan (menyelesaikan) permasalahannya. 

Dengan begitu seakan-akan ia memperlihatkan kepada mereka bahwa ia (mengetahui) rahasia-rahasia yang tersembunyi pada mereka dan menemukan apa yang tersembunyi dalam lubuk hati mereka. 

Ia mendatangkan hal-hal ajaib dan aneh yang mampu mencengangkan akal dan membingungkan pikiran. 

Tidaklah berselang lama hingga urusannya menjadi besar... 
Tersebarlah popularitasnya... 
Bertambah banyak pengikutnya... 

Bersama mereka ia menguasai Shan’a, dan dari Shan’a menguasai daerah-daerah lainnya, hingga negeri-negeri yang terletak antara “Hadlramaut” dan “Thaif” tunduk kepadanya, juga negeri-negeri yang terletak antara “al-Bahrain” dan “’Adan.”.. 

Setelah urusan menjadi mapan untuk al-Aswad al-‘Ansi serta negeri-negeri dan manusia tunduk kepadanya. Ia segera mengawasi para penentangnya dan orang-orang yang Allah berikan kepada mereka keimanan yang dalam terhadap agamanya yang lurus... 

Dan keyakinan yang mantap terhadap nabi-Nya yang mulia SAW... 

Serta loyalitas (ketaatan) yang tulus kepada Allah dan Rasul-Nya... 

Juga menyuarakan al-haq dengan keras dan menantang kebathilan... 

Bersama mereka ia mulai menyerang dalam kekuatan besar dan menimpakan adzab yang pedih. 

Adalah di barisan terdepan mereka (yang diperangi oleh al-Aswad) ada “Abdullah ibn Tsuwab” yang diberi kunyah “Abu Muslim al-Khaulani.” 

Abu Muslim al-Khaulani adalah seorang yang kokoh dalam agamanya...Kuat imannya...Keras kepala untuk menyuarakan al-haq dengan lantang... 

Ia telah mengikhlaskan dirinya untuk Allah, sehingga ia berpaling dari dunia dan perhiasannya...Zuhud terhadap keelokan hidup dan perdagangannya... 

Ia telah menadzarkan hidupnya untuk taat kepada Allah dan berdakwah kepada-Nya... 

Ia telah menjual dunia yang fana dengan akhirat yang kekal dengan penjualan yang murah... 

Sehingga orang-orang menempatkannya pada kedudukan yang tinggi dalam jiwa mereka. Mereka melihatnya seorang yang bersih jiwanya dan erat hubungannya dengan Allah dan doanya mustajab di sisi-Nya. 

Al-Aswad al-‘Ansi berkeinginan untuk menyerang Abu Muslim dengan penyerangan besar... 

(Penyerangan) yang menghembuskan rasa takut dan gentar ke dalam hati para penentang dakwahnya secara sembunyi dan terang-terangan dan mengalahkan mereka dengan sebenar-benarnya (menjadikan para penentangnya kalang kabut). 
Ia menyuruh untuk mengumpulkan kayu bakar dan menumpuknya di tanah lapang di Shan’a lalu dinyalakan dengan api... 

Ia mengundang manusia untuk menyaksikan istitabah*nya faqih (ahli fikih) Yaman dan ‘abid (ahli ibadah) nya yaitu Abu Muslim al-Khaulani dan pengakuan terhadap kenabiannya. 

Pada waktu yang sudah ditentukan, al-Aswad al-‘Ansi mendatangi tanah lapang yang penuh sesak dengan manusia. 

Para thaghutnya dan pembesar pengikutnya mengelilinginya, juga para penjaga dan panglima pasukannya. 

Ia lalu duduk di atas kursinya yang besar yang telah diletakkan untuknya menghadap ke arah api. 

“Abu Muslim al-Khaulani” diseret kehadapannya di bawah tatapan manusia dan pendengaran mereka... 

Saat ia (Abu Muslim) sampai di hadapannya, orang yang sombong dan pendusta ini memengkaung kepadanya dengan penuh takabbur... 

Ia lalu memengkaung ke arah api yang berkobar-kobar di hadapannya dengan keras. 

Kemudian ia menoleh kepadanya dan berkata, “Apakah kamu bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah?” 

Abu Muslim menjawab, “Ya, aku bersaksi bahwa ia hamba Allah dan utusan-Nya...dan ia adalah pemimpin para rasul dan juga penutup para nabi.”

Al-Aswad al-‘Ansi mengerutkan dahinya dan mengangkat alisnya, ia berkata, “Dan kamu bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah?” 

Ia menjawab, “Telingaku tuli, aku tidak mendengar apa yang kamu katakan.”

Al-Aswad berkata, “Kalau demikian, aku akan melemparmu ke dalam api ini.” 

Abu Muslim berkata, “Apabila kamu melakukannya, berarti aku berlindung dengan api yang bahan bakarnya kayu bakar dari api yang bahan bakarnya manusia dan bebatuan, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” 

Al-Aswad berkata, “Aku tidak akan terburu-buru terhadapmu, akan aku berikan kesempatan lain kepadamu untuk mengembalikan akalmu.” 

Ia lalu mengulangi pertanyaan kepadanya, ia berkata, “Apakah kamu bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah?” 

Abu Muslim menjawab, “Ya, aku bersaksi bahwa ia adalah hamba Allah dan utusan-Nya. Allah telah mengutusnya dengan agama petunjuk dan haq dan Dia menutup segala risalah dengan risalahnya.” 

Maka al-Aswad bertambah murka dan berkata, “Dan kamu bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah?.” 

Abu Muslim menjawab, “Bukankah sudah aku beritahukan kepadamu bahwa telingaku tuli, sehingga aku tidak mendengar perkataanmu ini?!.” 

Al-Aswad al-‘Ansi terbakar kemarahan akibat keberaniannya dalam menjawab, ketentraman jiwanya dan ketenangan anggota badannya... 

Ia berkehendak untuk menyuruh seseorang, dan melemparkannya ke dalam api. 

Di saat itu, salah satu pembesar thaghutnya maju kepadanya dan membisikkan ke telinganya, ia berkata, “Sesungguhnya orang ini –sebagaimana yang kamu tahu- adalah bersih jiwanya, terkabulkan doanya...Dan sesungguhnya Allah tidak akan menghinakan seorang mukmin yang tidak menghinakan-Nya di saat-saat genting... 

Dan sesungguhnya kamu, apabila melemparkannya ke dalam api lalu Allah menyelamatkannya, maka berarti kamu telah menghancurkan seluruh apa yang telah kamu bangun dalam sesaat. Dan kamu mendorong manusia untuk kufur terhadap kenabianmu... 

Dan bila api membakarnya, niscaya orang-orang akan bertambah kagum terhadapnya dan tambah membesarkannya, dan mereka akan mengangkatnya ke dalam barisan para syuhada. 

Maka berilah kebaikan kepadanya dengan membebaskannya, dan buanglah ia dari negerimu, kamu akan terbebas darinya dan merasa tenang.” 

Al-Aswad lalu menerima pendapat thaghutnya dan memerintahkan Abu Muslim untuk meninggalkan negeri saat itu juga**. 
Abu Muslim al-Khaulani melangkahkan kakinya pergi ke arah Madinah. 

Ia mengangan-angankan dirinya untuk bisa bertemu Rasulullah SAW. Ia telah beriman kepadanya sebelum kedua matanya merasakan kenikmatan memengkaungnya, dan jiwanya bergembira menjadi sahabatnya. 

Akan tetapi hampir saja ia sampai di ujung “Yatsrib (Madinah)” sehingga berita kematian Nabi SAW sampai ke telinganya, juga berita Abu Bakar yang menjabat sebagai khalifah kaum Muslimin setelahnya. 

Kesedihan yang sangat menggelayuti lubuk hatinya atas wafatnya Nabi yang mulia. 

Abu Muslim sampai di Madinah dan menuju ke masjid Rasulullah SAW. 

Saat ia menghampiri masjid, ia mengikat untanya dekat dengan pintu masjid, ia masuk ke al-haram an-nabawi (masjid nabawi) yang mulia dan mengucapkan salam kepada Rasulullah SAW. 

Ia berdiri di salah satu pilar dari pilar-pilar masjid dan mulai shalat... 

Saat ia selesai dari shalatnya, Umar ibn al-Khaththab berjalan ke arahnya, hingga sampai di depannya. Ia berkata, “Dari mana kamu?” Ia menjawab, “Dari Yaman.” 

Umar berkata, “Apa yang telah Allah perbuat dengan sahabat kami yang mana musuh Allah telah membakarnya dengan api, lalu Allah menyelamatkannya darinya?” 

Ia menjawab, “Ia dalam kebaikan dan penuh nikmat dari Allah....” 

Umar berkata, “Aku menyumpahmu dengan nama Allah, bukankah kamu adalah dia?” 

“Ya” jawabnya. 
Umar lalu mencium keningnya dan berkata, “Tahukah kamu apa yang Allah perbuat kepada musuh Allah dan musuhmu?” 

Ia berkata, “Sekali-kali tidak, beritanya telah terputus dariku semenjak aku meninggalkan Yaman.” 

Umar menjawab, “Allah telah membunuhnya melalui tangan-tangan orang-orang yang tersisa dari kalangan kaum Mukminin yang benar dan Dia melenyapkan kerajaannya serta mengembalikan para pengikutnya kepada agama Allah....” 

Ia berkata, “Segala puji bagi Allah yang belum mengeluarkan aku dari dunia sehingga mataku bergembira dengan kematiannya dan kembalinya orang-orang yang terperdaya dari penduduk Yaman ke dalam pangkuan Islam.” 

Umar berkata kepadanya, “Dan aku memuji Allah yang telah memperlihatkan kepadaku dalam umat Muhammad seseorang yang diperlakukan sebagaimana yang diperlakukan kepada khalilurrahman bapak kita Ibrahim AS. 

Kemudian ia (Umar) menggandeng tangannya dan berjalan bersamanya menuju kepada Abu Bakar. Saat ia masuk menemuinya, ia mengucapkan salam dengan panggilan khalifah dan mambaiatnya. 

Ash-Shiddiq lalu mendudukkannya antara dia dan Umar. 
Mulailah dua syaikh (Yaitu Abu Bakar dan Umar) tersebut meminta Abu Muslim untuk menceritakan kembali kisahnya bersama al-Aswad al-‘Ansi. 

Abu Muslim al-Khaulani tinggal beberapa waktu di Madinah Munawwarah dan di sela-sela itu ia selalu menetapi masjid Rasulullah SAW... 

Ia shalat sebanyak apa yang Allah kehendaki untuk shalat di Raudlah yang suci, ia juga menimba ilmu dari pembesar sahabat seperti Abu Ubaidah ibn al-Jarrah, Abu Dzarr al-Ghifaari, Ubadah ibn ash-Shaamit, Mu’adz ibn Jabal dan ’Auf ibn Malik al-Asyja’i. 

Kemudian terbesitlah dalam hati Abu Muslim al-Khaulani untuk pergi ke negeri Syam dan menjadikannya sebagai tempat tinggal. 

Tujuan kepindahannya adalah agar ia menjadi dekat dengan perbatasan Syam untuk ikut serta dengan pasukan muslimin dalam memerangi Romawi dan beruntung dengan mendapatkan pahala murabathah (menjaga perbatasan) di jalan Allah. 

Ketika khilafah berpindah kepada amirul mukminin “Muawiyah ibn Abi Sufyan” RA, ia banyak bolak-balik menemuinya dan menghadiri majlis-majlisnya. Ia memiliki beberapa kejadian yang diingat-ingat dan masyhur yang menjadi saksi atas tingginya kedudukan kedua orang tersebut...dan memberitahukan tentang apa yang keduanya berhias dengannya dari ketinggian sifat... 

Di antaranya, bahwa Abu Muslim masuk menemui Muawiyah RA, maka ia melihatnya duduk di bagian depan majlisnya yang ramai. 

Para pejabat negeri telah mengelilinginya, juga panglima pasukan dan para tokoh kaumnya... 

Ia melihat orang-orang berlebih-lebihan dalam mengagungkannya dan memuliakannya, sehingga ia merasa khawatir terhadapnya dengan kekhawatiran yang sangat. Ia mengatakan, “Assalamu’alaika ya Ajiirul (pelayan) mukminin.” 

Orang-orang menoleh kepadanya dan berkata, “Amirul mukminin...wahai Abu Muslim....” 

Ia tidak menggubris mereka dan berkata, “Assalamu’alaika ya ajiirul mukminin.” 

Orang-orang berkata, “Amirul Mukminin wahai Abu Muslim.” 

Ia tidak mendengarkan perkataan mereka dan tidak menoleh kepada mereka dan ia berkata, “Assalamu’alaika ya ajiirul mukminin.” 

Saat orang-orang berkehendak untuk mengulanginya, Muawiyah menoleh kepada mereka dan berkata, “Biarkan Abu Muslim, ia lebih tahu dengan apa yang ia katakan.” 

Abu Muslim mendekat kepada Muawiyah dan berkata kepadanya, “Sesungguhnya permisalanmu –setelah Allah mengangkatmu sebagai wali bagi urusan manusia- sebagaimana permisalannya orang yang menyewa seseorang atau mewakilkan kepadanya urusan dombanya. Ia memberikan upah kepadanya untuk mengurusi gembalanya, menjaga badannya dan memperbanyak woolnya dan susunya... 

Apabila ia mengerjakan apa yang menjadi kesepakatan dengannya sehingga domba yang kecil tumbuh menjadi besar, yang kurus menjadi gemuk dan yang sakit menjadi sehat...ia memberikan upahnya dan melebihkannya. 

Sebaiknya jika tidak becus dalam mengurus gembalanya dan lalai darinya hingga yang kurus menjadi binasa, yang gemuk menjadi kurus dan hilang wool-woolnya dan susu-susunya...maka ia menahan upahnya dan memarahinya serta menghukumnya. 

Maka pilihlah untuk dirimu apa yang ada kebaikan dan pahalanya untukmu.” 

Muawiyah mengangkat kepalanya yang sebelumnya tertunduk ke tanah, ia berkata, “Semoga Allah membalasimu dengan kebaikan atas kami dan atas rakyat wahai Abu Muslim, kami tidak mengetahuimu kecuali seorang yang memberikan nasehat kepada Allah dan Rasul-Nya dan juga kepada kaum muslimin pada umumnya.” 

Abu Muslim menghadiri shalat Jum’at di masjid jami’ di Damaskus. Dan adalah amirul mukminin Muawiyah yang berkhutbah di hadapan manusia, ia mengingatkan kepada mereka perintahnya untuk menggali sungai “Baradaa” sehingga airnya menjadi jernih. 

Abu Muslim lalu memanggilnya di antara kelompok manusia dan berkata, “Ingatlah wahai Muawiyah, bahwa kamu akan mati entah hari ini atau besok, dan bahwa tempat tinggalmu adalah kuburan...apabila kamu mendatanginya dengan membawa sesuatu, maka kamu akan mendapatkan sesuatu padanya. Dan bila kamu mendatanginya dengan tangan hampa, maka kamu akan mendapatkannya kosong dan rata. 

Dan sesungguhnya aku memohon perlindungan kepada Allah untukmu wahai Muawiyah, agar kamu tidak beranggapan bahwa khilafah hanya sekedar menggali sungai...mengumpulkan harta...Akan tetapi khilafah adalah beramal dengan al-haq...berkata adil...dan mengajak manusia kepada keridlaan Allah... 

Wahai Muawiyah, sesungguhnya kami tidak peduli dengan keruhnya sungai apabila mata kepala kami jernih dan sesungguhnya engkau adalah mata kepala kami, maka berijtihadlah agar engkau senantiasa jernih. 

Wahai Muawiyah, sesungguhnya engkau apabila berbuat dzalim kepada satu orang, maka kadzalimanmu akan menghilangkan keadilanmu. 

Maka hati-hatilah kamu dari berbuat dzalim... 
Karena sesungguhnya kedzaliman adalah kegelapan pada hari kiamat.” 

Setelah Abu Muslim selesai dari perkataannya, Muawiyah turun dari mimbar dan menghampirinya. Ia berkata, “Semoga Allah merahmatimu wahai Abu Muslim dan membalasimu dengan sebaik-baik balasan atas kami.” 

Pada kali yang lain, Muawiyah naik mimbar dan memulai khutbahnya. Sementara ia telah menahan pemberiannya kepada orang-orang selama dua bulan. 

Maka Abu Muslim memanggilnya dan berkata, “Wahai Muawiyah, sesungguhnya harta ini bukanlah hartamu, tidak pula harta ayah dan ibumu...dengan hak apa kamu menahannya dari manusia?!.” 

Nampaklah kemarahan pada wajah Muawiyah, dan orang-orang mulai menanti apa yang akan terjadi. 

Tidak ada yang ia lakukan kecuali ia mengisyaratkan kepada orang-orang agar tetap tinggal di tempat mereka dan tidak meninggalkannya. 

Ia turun dari mimbar dan berwudlu dan menyiramkan sedikit air kebadannya. Kemudian ia naik mimbar, lalu memuji Allah AWJ dan menyanjungnya dengan sanjungn yang sesuai dengan-Nya dan berkata, “Sesungguhnya Abu Muslim telah menyebutkan bahwa harta ini bukanlah hartaku, bukan pula harta ayah dan ibuku... 

Dan sungguh Abu Muslim telah benar atas apa yang ia katakan... 
Dan sesungguhnya aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Kemarahan itu dari syaithan...dan syaithan (diciptakan) dari api...dan air memadamkan api. Maka apabila salah seorang dari kamu marah hendaklah ia mandi.” 

Wahai manusia, bergegaslah untuk mengambil hak-hak kalian atas berkah Allah AWJ.” 
Semoga Allah membalasi Abu Muslim al-Khaulani dengan sebaik-baik balasan. Ia adalah seorang permisalan yang langka dalam menyuarakan kalimatul haq. 

Semoga Allah meridlai Muawiyah ibn Abi Sufyan dan memperbanyak keridlaan-Nya. Ia merupakan tauladan yang mengagumkan dalam rujuk (kembali) kepada kalimatul haq. 

Alangkah indahnya perkataan seseorang: 
Sedikitkanlah dalam mencela mereka 
Semoga tidak ada ayah untuk ayah kalian 
Tempatilah tempat mereka 
Dan lakukanlah apa yang mereka kerjakan 

CATATAN: 
* Istitabah adalah ajakan atau seruan untuk bertaubat 
** Sebagian besar referensi yang ada pada kami menunjukkan bahwa ia dilempar ke dalam api, dan api itu terasa dingin dan menyelamatkan sebagaimana yang terjadi pada Ibrahim, wallahu a’lam 

RUJUKAN: 
Sebagai tambahan tentang kisah Abu Muslim al-Khaulani, lihatlah: 
Thabaqat Ibn Sa’d: 7/448 
Tarikh al-Bukhari: 5/58 
Al-Ma’rifah wat Tarikh: 2/308, 382 
Al-Istii’ab: 1479 
Tarikh Ibn Asakir: 9/12 
Usdul Ghaabah: 3/129 
Al-Lubaab: 1/395 
Tadzkiratul Huffadz: 1/49 
Al-Bidayah wan Nihayah: 8/146 
Al-Ishaabah: 6302