Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

Kamis, 06 Januari 2011

Sejarah Kelahiran Mu'awiyyah radhiallaahu 'anhu

Share |
Al-Kharaithi meriwayatkan dalam al-Hawatif dari Hamid bin Wahb dia berkata: Suatu saat Hindun bin ‘Utbah bin Rabi'ah menjadi isteri al-fakih bin al-Mughirah. Al-fakih adalah seorang pemuda dari kalangan Quraisy. Dia memiliki satu rumah khusus untuk tamu, dimana seseorang yang masuk ke dalamnya tidak perlu minta ijin. Suatu saat rumah itu kosong tanpa penghuni dan hanya Hindun dan al-Fakih yang ada di dalam rumah itu. Al-Fakih keluar dari rumah tadi untuk memenuhi beberapa keperluannya. Kemudian datang seseorang dan masuk ke dalam rumah itu. Tatkala dia melihat seorang wanita di tempat itu, dia melarikan diri. Dan saat itulah al-Fakih melihatnya. Dia kemudian pergi menemui Hindun dan menendang dengan kakinya. Dia berkata, “Siapa laki-Iaki yang barusan berada bersamamu?” 

Hindun berkata, “Saya tidak melihat seorang pun dan saya tidak tahu hingga kau beritahukan kepadaku tentang orang itu.” 

Al-Fakih berkata, “Jika begitu, pulanglah kamu ke keluargamu.” Orang-orang ramai membicarakan masalah ini. Akhirnya ayah­nya menemuinya dan berkata, "Wahai anakku, sesungguhnya orang­-orang banyak membicarakan tentang kamu, maka ceritakanlah ke­padaku masalah yang sebenarnya. Jika suamimu benar, maka akan saya utus seseorang untuk membunuhnya hingga orang-orang tidak lagi membicarakan masalah ini. Jika dia bohong maka akan kirim para ahli tenung dari Yaman untuk menghakiminya." 

Maka, Hindun bersumpah kepada ayahnya dengan sumpah yang biasa diucapkan di zaman Jahiliyyah bahwa suaminya telah ber­bohong.

‘Utbah berkata kepada al-Fakih, “Sesungguhnya engkau telah menuduh anakku dengan tuduhan yang sangat berat. Maka marilah berhakim kepada para ahli tenung dari Yaman.”

Al-Fakih bersama beberapa orang Bani Makhzum keluar menuju Yaman. Sedangkan ‘Utbah pergi bersama beberapa orang dari Bani Abdi Manaf. Hindun bersama beberapa orang perempuan ikut dalam rombongan tadi. Tatkala mereka mendekati wilayah Yaman berubahlah keadaan Hindun dan berubah pula wajahnya. Ayahnya yang melihat perubahan ini berkata, “Wahai anakku, saya melihat perubahan terjadi padamu. Tentu saja ini terjadi karena adanya ketidaksukaan yang ada dalam dirimu.”

Hindun berkata, “Demi Tuhan, tidak wahai ayahanda, ini bukan karena adanya ketidaksukaan kepada diriku. Namun karena saya tahu bahwa kalian saat ini mendatangi orang yang bisa saja salah dan bisa juga benar. Maka saya khawatir jika dia harus menandaiku dengan tanda yang membuat saya tercela di hadapan orang-orang Arab.”

Ayahnya berkata, “Sesungguhnya saya akan mengujinya sebelum dia menebak masalahmu.”

Lalu dia memanggil kuda peliharaannya dengan siulan hingga dia mendekat. Lalu dia masukkan satu biji gandum ke dalam saluran kencingnya, dan dihimpit saat dia berjalan. Lalu rombongan itu datang menemui juru tenung di pagi hari. Sang juru tenung menyambut rombongan itu dengan menyembelih binatang. Tatakala menjelang siang, ‘Utbah berkata kepadanya, “Sesungguhnya kami datang kepadamu dengan satu masalah yang penting. Namun kami telah menyem­bunyikan sesuatu untuk menguji kehandalan anda dalam menebak. Maka tebaklah apakah yang kami sembunyikan itu?”
Sang juru tenung berkata, “Gandum yang disimpan di buah zakar!” 
‘Utbah berkata, “Saya ingin yang lebih jelas daripada ini.” 
Dia berkata, “Sebiji gandum yang disimpan di saluran kencing.” ‘Utbah berkata, “Anda benar! Kini tebaklah wanita ini!” 

Maka mulailah dia mendekat kepada wanita tadi dan menepuk pundaknya seraya berkata, “Bangkitlah! Hingga akhirnya dia mende­kati Hindun dan menepuk pundaknya sambil berkata, “Bangkitlah kau bukan perempuan jahat dan bukan pula pezina. Kau akan melahirkan seorang Raja yang bernama Mu'awiyah.”
Al-Fakih melihat kepadanya dan hendak mengapit tangannya, namun Hindun menepis tangannya dan berkata, “Jangan kau sentuh tanganku! Demi Allah, saya akan menjaganya sehingga anak itu bukan dari keturunanmu.”
Lalu kawinlah dia dengan Abu Sufyan dan lahirlah Mu'awiyah.

Sumber: Tarikh Khulafa'

ABU MUSLIM AL-KHAULANI, ABDULLAH BIN TSUAIB

Share |
“Sungguh Abu Muslim telah mati-matian dalam beribadah sehingga ia berkata, “Kalau aku melihat surga atau neraka dengan mata kepala, maka aku tidak memiliki bekal” (Utsman ibn Abi ‘Aatikah) Telah tersebar berita di jazirah Arab bahwa Rasulullah sakit parah setelah kepulangannya dari haji wada’. Maka, syaitan memperdaya al-Aswab al-‘Ansi untuk kembali kepada kekufuran setelah sebelumnya beriman...dan mengadakan kebohongan atas nama Allah, ia mendakwakan dirinya sebagai nabi yang diutus dari sisi Allah bagi kaumnya di Yaman.
Adalah al-Aswad al-‘Ansi seorang yang begitu kuat, bertubuh kekar, berkulit hitam dan banyak kejahatannya. 

Di masa Jahiliyah ia adalah seorang yang mumpuni dalam perdukunan, mahir dalam melakukan sihir atas manusia. 

Di samping itu pula ia adalah orang yang fasih lisannya, mengagumkan penjelasannya, pengkaui, mampu mempermainkan akal orang-orang awam dengan kebathilan-kebathilannya dan mampu menarik loyalitas orang-orang khusus dengan hibah dan pemberiannya. 

Ia tidak pernah muncul di hadapan manusia kecuali dengan menutup muka dengan cadar berwarna hitam untuk meliputi dirinya dengan sifat ditakuti karena tersembunyi dan berwibawa. 

Dakwah al-Aswad al-‘Ansi telah tersebar di Yaman sebagimana menjalarnya api pada tanaman yang kering, dan kabilahnya dari Bani Madzhij yang megikutinya telah membantunya dalam meyebarkan dakwahnya. 

Pada saat itu, ia adalah kabilah Yaman yang paling banyak jumlah penduduknya, paling luas kawasannya dan paling kuat bala tentaranya. 

Sebagaimana telah membantunya dalam menyebarkan dakwahnya, yaitu kemampuannya untuk menciptakan kedustaan dan menghiasi perkataannya, serta permintaan bantuannya kepada orang-orang pengkaui yang menjadi pengikutnya. 

Ia mendakwakan kepada manusia bahwa malaikat turun kepadanya dengan membawa wahyu serta memberitakan hal-hal ghaib kepadanya. 

Untuk meyakinkan manusia atas kebenaran dakwaanya, ia telah menempuh banyak cara. 

(Di antaranya) ia menyebarkan mata-matanya di setiap tempat, untuk mengetahui urusan-urusan manusia dan musykilah mereka serta menyibak rahasia-rahasia dan berita-berita mereka, serta menembus apa yang terhimpun dalam lubuk hati mereka dari angan-angan dan kesusahan. 

Dan mereka di waktu yang sama merayu dan menipu mereka agar merujuk kepadanya (al-Aswad) dan meminta pertolongan darinya. 

Dan apabila mereka mendatanginya, ia menghadapi setiap orang yang punya hajat dengan hajatnya dan memulai setiap orang yang punya permasalahan dengan (menyelesaikan) permasalahannya. 

Dengan begitu seakan-akan ia memperlihatkan kepada mereka bahwa ia (mengetahui) rahasia-rahasia yang tersembunyi pada mereka dan menemukan apa yang tersembunyi dalam lubuk hati mereka. 

Ia mendatangkan hal-hal ajaib dan aneh yang mampu mencengangkan akal dan membingungkan pikiran. 

Tidaklah berselang lama hingga urusannya menjadi besar... 
Tersebarlah popularitasnya... 
Bertambah banyak pengikutnya... 

Bersama mereka ia menguasai Shan’a, dan dari Shan’a menguasai daerah-daerah lainnya, hingga negeri-negeri yang terletak antara “Hadlramaut” dan “Thaif” tunduk kepadanya, juga negeri-negeri yang terletak antara “al-Bahrain” dan “’Adan.”.. 

Setelah urusan menjadi mapan untuk al-Aswad al-‘Ansi serta negeri-negeri dan manusia tunduk kepadanya. Ia segera mengawasi para penentangnya dan orang-orang yang Allah berikan kepada mereka keimanan yang dalam terhadap agamanya yang lurus... 

Dan keyakinan yang mantap terhadap nabi-Nya yang mulia SAW... 

Serta loyalitas (ketaatan) yang tulus kepada Allah dan Rasul-Nya... 

Juga menyuarakan al-haq dengan keras dan menantang kebathilan... 

Bersama mereka ia mulai menyerang dalam kekuatan besar dan menimpakan adzab yang pedih. 

Adalah di barisan terdepan mereka (yang diperangi oleh al-Aswad) ada “Abdullah ibn Tsuwab” yang diberi kunyah “Abu Muslim al-Khaulani.” 

Abu Muslim al-Khaulani adalah seorang yang kokoh dalam agamanya...Kuat imannya...Keras kepala untuk menyuarakan al-haq dengan lantang... 

Ia telah mengikhlaskan dirinya untuk Allah, sehingga ia berpaling dari dunia dan perhiasannya...Zuhud terhadap keelokan hidup dan perdagangannya... 

Ia telah menadzarkan hidupnya untuk taat kepada Allah dan berdakwah kepada-Nya... 

Ia telah menjual dunia yang fana dengan akhirat yang kekal dengan penjualan yang murah... 

Sehingga orang-orang menempatkannya pada kedudukan yang tinggi dalam jiwa mereka. Mereka melihatnya seorang yang bersih jiwanya dan erat hubungannya dengan Allah dan doanya mustajab di sisi-Nya. 

Al-Aswad al-‘Ansi berkeinginan untuk menyerang Abu Muslim dengan penyerangan besar... 

(Penyerangan) yang menghembuskan rasa takut dan gentar ke dalam hati para penentang dakwahnya secara sembunyi dan terang-terangan dan mengalahkan mereka dengan sebenar-benarnya (menjadikan para penentangnya kalang kabut). 
Ia menyuruh untuk mengumpulkan kayu bakar dan menumpuknya di tanah lapang di Shan’a lalu dinyalakan dengan api... 

Ia mengundang manusia untuk menyaksikan istitabah*nya faqih (ahli fikih) Yaman dan ‘abid (ahli ibadah) nya yaitu Abu Muslim al-Khaulani dan pengakuan terhadap kenabiannya. 

Pada waktu yang sudah ditentukan, al-Aswad al-‘Ansi mendatangi tanah lapang yang penuh sesak dengan manusia. 

Para thaghutnya dan pembesar pengikutnya mengelilinginya, juga para penjaga dan panglima pasukannya. 

Ia lalu duduk di atas kursinya yang besar yang telah diletakkan untuknya menghadap ke arah api. 

“Abu Muslim al-Khaulani” diseret kehadapannya di bawah tatapan manusia dan pendengaran mereka... 

Saat ia (Abu Muslim) sampai di hadapannya, orang yang sombong dan pendusta ini memengkaung kepadanya dengan penuh takabbur... 

Ia lalu memengkaung ke arah api yang berkobar-kobar di hadapannya dengan keras. 

Kemudian ia menoleh kepadanya dan berkata, “Apakah kamu bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah?” 

Abu Muslim menjawab, “Ya, aku bersaksi bahwa ia hamba Allah dan utusan-Nya...dan ia adalah pemimpin para rasul dan juga penutup para nabi.”

Al-Aswad al-‘Ansi mengerutkan dahinya dan mengangkat alisnya, ia berkata, “Dan kamu bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah?” 

Ia menjawab, “Telingaku tuli, aku tidak mendengar apa yang kamu katakan.”

Al-Aswad berkata, “Kalau demikian, aku akan melemparmu ke dalam api ini.” 

Abu Muslim berkata, “Apabila kamu melakukannya, berarti aku berlindung dengan api yang bahan bakarnya kayu bakar dari api yang bahan bakarnya manusia dan bebatuan, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” 

Al-Aswad berkata, “Aku tidak akan terburu-buru terhadapmu, akan aku berikan kesempatan lain kepadamu untuk mengembalikan akalmu.” 

Ia lalu mengulangi pertanyaan kepadanya, ia berkata, “Apakah kamu bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah?” 

Abu Muslim menjawab, “Ya, aku bersaksi bahwa ia adalah hamba Allah dan utusan-Nya. Allah telah mengutusnya dengan agama petunjuk dan haq dan Dia menutup segala risalah dengan risalahnya.” 

Maka al-Aswad bertambah murka dan berkata, “Dan kamu bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah?.” 

Abu Muslim menjawab, “Bukankah sudah aku beritahukan kepadamu bahwa telingaku tuli, sehingga aku tidak mendengar perkataanmu ini?!.” 

Al-Aswad al-‘Ansi terbakar kemarahan akibat keberaniannya dalam menjawab, ketentraman jiwanya dan ketenangan anggota badannya... 

Ia berkehendak untuk menyuruh seseorang, dan melemparkannya ke dalam api. 

Di saat itu, salah satu pembesar thaghutnya maju kepadanya dan membisikkan ke telinganya, ia berkata, “Sesungguhnya orang ini –sebagaimana yang kamu tahu- adalah bersih jiwanya, terkabulkan doanya...Dan sesungguhnya Allah tidak akan menghinakan seorang mukmin yang tidak menghinakan-Nya di saat-saat genting... 

Dan sesungguhnya kamu, apabila melemparkannya ke dalam api lalu Allah menyelamatkannya, maka berarti kamu telah menghancurkan seluruh apa yang telah kamu bangun dalam sesaat. Dan kamu mendorong manusia untuk kufur terhadap kenabianmu... 

Dan bila api membakarnya, niscaya orang-orang akan bertambah kagum terhadapnya dan tambah membesarkannya, dan mereka akan mengangkatnya ke dalam barisan para syuhada. 

Maka berilah kebaikan kepadanya dengan membebaskannya, dan buanglah ia dari negerimu, kamu akan terbebas darinya dan merasa tenang.” 

Al-Aswad lalu menerima pendapat thaghutnya dan memerintahkan Abu Muslim untuk meninggalkan negeri saat itu juga**. 
Abu Muslim al-Khaulani melangkahkan kakinya pergi ke arah Madinah. 

Ia mengangan-angankan dirinya untuk bisa bertemu Rasulullah SAW. Ia telah beriman kepadanya sebelum kedua matanya merasakan kenikmatan memengkaungnya, dan jiwanya bergembira menjadi sahabatnya. 

Akan tetapi hampir saja ia sampai di ujung “Yatsrib (Madinah)” sehingga berita kematian Nabi SAW sampai ke telinganya, juga berita Abu Bakar yang menjabat sebagai khalifah kaum Muslimin setelahnya. 

Kesedihan yang sangat menggelayuti lubuk hatinya atas wafatnya Nabi yang mulia. 

Abu Muslim sampai di Madinah dan menuju ke masjid Rasulullah SAW. 

Saat ia menghampiri masjid, ia mengikat untanya dekat dengan pintu masjid, ia masuk ke al-haram an-nabawi (masjid nabawi) yang mulia dan mengucapkan salam kepada Rasulullah SAW. 

Ia berdiri di salah satu pilar dari pilar-pilar masjid dan mulai shalat... 

Saat ia selesai dari shalatnya, Umar ibn al-Khaththab berjalan ke arahnya, hingga sampai di depannya. Ia berkata, “Dari mana kamu?” Ia menjawab, “Dari Yaman.” 

Umar berkata, “Apa yang telah Allah perbuat dengan sahabat kami yang mana musuh Allah telah membakarnya dengan api, lalu Allah menyelamatkannya darinya?” 

Ia menjawab, “Ia dalam kebaikan dan penuh nikmat dari Allah....” 

Umar berkata, “Aku menyumpahmu dengan nama Allah, bukankah kamu adalah dia?” 

“Ya” jawabnya. 
Umar lalu mencium keningnya dan berkata, “Tahukah kamu apa yang Allah perbuat kepada musuh Allah dan musuhmu?” 

Ia berkata, “Sekali-kali tidak, beritanya telah terputus dariku semenjak aku meninggalkan Yaman.” 

Umar menjawab, “Allah telah membunuhnya melalui tangan-tangan orang-orang yang tersisa dari kalangan kaum Mukminin yang benar dan Dia melenyapkan kerajaannya serta mengembalikan para pengikutnya kepada agama Allah....” 

Ia berkata, “Segala puji bagi Allah yang belum mengeluarkan aku dari dunia sehingga mataku bergembira dengan kematiannya dan kembalinya orang-orang yang terperdaya dari penduduk Yaman ke dalam pangkuan Islam.” 

Umar berkata kepadanya, “Dan aku memuji Allah yang telah memperlihatkan kepadaku dalam umat Muhammad seseorang yang diperlakukan sebagaimana yang diperlakukan kepada khalilurrahman bapak kita Ibrahim AS. 

Kemudian ia (Umar) menggandeng tangannya dan berjalan bersamanya menuju kepada Abu Bakar. Saat ia masuk menemuinya, ia mengucapkan salam dengan panggilan khalifah dan mambaiatnya. 

Ash-Shiddiq lalu mendudukkannya antara dia dan Umar. 
Mulailah dua syaikh (Yaitu Abu Bakar dan Umar) tersebut meminta Abu Muslim untuk menceritakan kembali kisahnya bersama al-Aswad al-‘Ansi. 

Abu Muslim al-Khaulani tinggal beberapa waktu di Madinah Munawwarah dan di sela-sela itu ia selalu menetapi masjid Rasulullah SAW... 

Ia shalat sebanyak apa yang Allah kehendaki untuk shalat di Raudlah yang suci, ia juga menimba ilmu dari pembesar sahabat seperti Abu Ubaidah ibn al-Jarrah, Abu Dzarr al-Ghifaari, Ubadah ibn ash-Shaamit, Mu’adz ibn Jabal dan ’Auf ibn Malik al-Asyja’i. 

Kemudian terbesitlah dalam hati Abu Muslim al-Khaulani untuk pergi ke negeri Syam dan menjadikannya sebagai tempat tinggal. 

Tujuan kepindahannya adalah agar ia menjadi dekat dengan perbatasan Syam untuk ikut serta dengan pasukan muslimin dalam memerangi Romawi dan beruntung dengan mendapatkan pahala murabathah (menjaga perbatasan) di jalan Allah. 

Ketika khilafah berpindah kepada amirul mukminin “Muawiyah ibn Abi Sufyan” RA, ia banyak bolak-balik menemuinya dan menghadiri majlis-majlisnya. Ia memiliki beberapa kejadian yang diingat-ingat dan masyhur yang menjadi saksi atas tingginya kedudukan kedua orang tersebut...dan memberitahukan tentang apa yang keduanya berhias dengannya dari ketinggian sifat... 

Di antaranya, bahwa Abu Muslim masuk menemui Muawiyah RA, maka ia melihatnya duduk di bagian depan majlisnya yang ramai. 

Para pejabat negeri telah mengelilinginya, juga panglima pasukan dan para tokoh kaumnya... 

Ia melihat orang-orang berlebih-lebihan dalam mengagungkannya dan memuliakannya, sehingga ia merasa khawatir terhadapnya dengan kekhawatiran yang sangat. Ia mengatakan, “Assalamu’alaika ya Ajiirul (pelayan) mukminin.” 

Orang-orang menoleh kepadanya dan berkata, “Amirul mukminin...wahai Abu Muslim....” 

Ia tidak menggubris mereka dan berkata, “Assalamu’alaika ya ajiirul mukminin.” 

Orang-orang berkata, “Amirul Mukminin wahai Abu Muslim.” 

Ia tidak mendengarkan perkataan mereka dan tidak menoleh kepada mereka dan ia berkata, “Assalamu’alaika ya ajiirul mukminin.” 

Saat orang-orang berkehendak untuk mengulanginya, Muawiyah menoleh kepada mereka dan berkata, “Biarkan Abu Muslim, ia lebih tahu dengan apa yang ia katakan.” 

Abu Muslim mendekat kepada Muawiyah dan berkata kepadanya, “Sesungguhnya permisalanmu –setelah Allah mengangkatmu sebagai wali bagi urusan manusia- sebagaimana permisalannya orang yang menyewa seseorang atau mewakilkan kepadanya urusan dombanya. Ia memberikan upah kepadanya untuk mengurusi gembalanya, menjaga badannya dan memperbanyak woolnya dan susunya... 

Apabila ia mengerjakan apa yang menjadi kesepakatan dengannya sehingga domba yang kecil tumbuh menjadi besar, yang kurus menjadi gemuk dan yang sakit menjadi sehat...ia memberikan upahnya dan melebihkannya. 

Sebaiknya jika tidak becus dalam mengurus gembalanya dan lalai darinya hingga yang kurus menjadi binasa, yang gemuk menjadi kurus dan hilang wool-woolnya dan susu-susunya...maka ia menahan upahnya dan memarahinya serta menghukumnya. 

Maka pilihlah untuk dirimu apa yang ada kebaikan dan pahalanya untukmu.” 

Muawiyah mengangkat kepalanya yang sebelumnya tertunduk ke tanah, ia berkata, “Semoga Allah membalasimu dengan kebaikan atas kami dan atas rakyat wahai Abu Muslim, kami tidak mengetahuimu kecuali seorang yang memberikan nasehat kepada Allah dan Rasul-Nya dan juga kepada kaum muslimin pada umumnya.” 

Abu Muslim menghadiri shalat Jum’at di masjid jami’ di Damaskus. Dan adalah amirul mukminin Muawiyah yang berkhutbah di hadapan manusia, ia mengingatkan kepada mereka perintahnya untuk menggali sungai “Baradaa” sehingga airnya menjadi jernih. 

Abu Muslim lalu memanggilnya di antara kelompok manusia dan berkata, “Ingatlah wahai Muawiyah, bahwa kamu akan mati entah hari ini atau besok, dan bahwa tempat tinggalmu adalah kuburan...apabila kamu mendatanginya dengan membawa sesuatu, maka kamu akan mendapatkan sesuatu padanya. Dan bila kamu mendatanginya dengan tangan hampa, maka kamu akan mendapatkannya kosong dan rata. 

Dan sesungguhnya aku memohon perlindungan kepada Allah untukmu wahai Muawiyah, agar kamu tidak beranggapan bahwa khilafah hanya sekedar menggali sungai...mengumpulkan harta...Akan tetapi khilafah adalah beramal dengan al-haq...berkata adil...dan mengajak manusia kepada keridlaan Allah... 

Wahai Muawiyah, sesungguhnya kami tidak peduli dengan keruhnya sungai apabila mata kepala kami jernih dan sesungguhnya engkau adalah mata kepala kami, maka berijtihadlah agar engkau senantiasa jernih. 

Wahai Muawiyah, sesungguhnya engkau apabila berbuat dzalim kepada satu orang, maka kadzalimanmu akan menghilangkan keadilanmu. 

Maka hati-hatilah kamu dari berbuat dzalim... 
Karena sesungguhnya kedzaliman adalah kegelapan pada hari kiamat.” 

Setelah Abu Muslim selesai dari perkataannya, Muawiyah turun dari mimbar dan menghampirinya. Ia berkata, “Semoga Allah merahmatimu wahai Abu Muslim dan membalasimu dengan sebaik-baik balasan atas kami.” 

Pada kali yang lain, Muawiyah naik mimbar dan memulai khutbahnya. Sementara ia telah menahan pemberiannya kepada orang-orang selama dua bulan. 

Maka Abu Muslim memanggilnya dan berkata, “Wahai Muawiyah, sesungguhnya harta ini bukanlah hartamu, tidak pula harta ayah dan ibumu...dengan hak apa kamu menahannya dari manusia?!.” 

Nampaklah kemarahan pada wajah Muawiyah, dan orang-orang mulai menanti apa yang akan terjadi. 

Tidak ada yang ia lakukan kecuali ia mengisyaratkan kepada orang-orang agar tetap tinggal di tempat mereka dan tidak meninggalkannya. 

Ia turun dari mimbar dan berwudlu dan menyiramkan sedikit air kebadannya. Kemudian ia naik mimbar, lalu memuji Allah AWJ dan menyanjungnya dengan sanjungn yang sesuai dengan-Nya dan berkata, “Sesungguhnya Abu Muslim telah menyebutkan bahwa harta ini bukanlah hartaku, bukan pula harta ayah dan ibuku... 

Dan sungguh Abu Muslim telah benar atas apa yang ia katakan... 
Dan sesungguhnya aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Kemarahan itu dari syaithan...dan syaithan (diciptakan) dari api...dan air memadamkan api. Maka apabila salah seorang dari kamu marah hendaklah ia mandi.” 

Wahai manusia, bergegaslah untuk mengambil hak-hak kalian atas berkah Allah AWJ.” 
Semoga Allah membalasi Abu Muslim al-Khaulani dengan sebaik-baik balasan. Ia adalah seorang permisalan yang langka dalam menyuarakan kalimatul haq. 

Semoga Allah meridlai Muawiyah ibn Abi Sufyan dan memperbanyak keridlaan-Nya. Ia merupakan tauladan yang mengagumkan dalam rujuk (kembali) kepada kalimatul haq. 

Alangkah indahnya perkataan seseorang: 
Sedikitkanlah dalam mencela mereka 
Semoga tidak ada ayah untuk ayah kalian 
Tempatilah tempat mereka 
Dan lakukanlah apa yang mereka kerjakan 

CATATAN: 
* Istitabah adalah ajakan atau seruan untuk bertaubat 
** Sebagian besar referensi yang ada pada kami menunjukkan bahwa ia dilempar ke dalam api, dan api itu terasa dingin dan menyelamatkan sebagaimana yang terjadi pada Ibrahim, wallahu a’lam 

RUJUKAN: 
Sebagai tambahan tentang kisah Abu Muslim al-Khaulani, lihatlah: 
Thabaqat Ibn Sa’d: 7/448 
Tarikh al-Bukhari: 5/58 
Al-Ma’rifah wat Tarikh: 2/308, 382 
Al-Istii’ab: 1479 
Tarikh Ibn Asakir: 9/12 
Usdul Ghaabah: 3/129 
Al-Lubaab: 1/395 
Tadzkiratul Huffadz: 1/49 
Al-Bidayah wan Nihayah: 8/146 
Al-Ishaabah: 6302

Kesabaran Rasulullah Terhadap Iming-Iming dan Ancaman

Share |
Orang-orang Quraisy (Makkah) mencoba cara yang lain dalam menghentikan dakwah Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam, yaitu sebuah cara yang terkumpul di dalamnya Targhieb (iming-iming) dan Tarhieb (ancaman). Diutuslah seorang utusan kepada beliau untuk menawarkan dunia yang beliau kehendaki (sebagai ganti kesediaan beliau meninggalkan dakwah Islamiyah), dan diutus pula seorang utusan kepada paman­nya yang selalu melindungi rasulullah dan dakwahnya untuk memberi peri­ngatan kepadanya agar melepas pembelaannya dan jaminan pertolongannya kepada keponakannya yaitu Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam, dan meminta­nya agar menghentikan Muhammad dan agamanya. 

Pada suatu hari para tokoh (pembesar) Quraisy mendatangi Abu Thalib, mereka berkata kepadanya: Wahai Abu Thalib, engkau adalah orang yang kami tokohkan, dan engkau memiliki kemuliaan dan kedudukan di kaum kami, kami telah memintamu agar engkau melarang keponakanmu tetapi engkau tidak melarangnya, demi Allah Subhanahu wa Ta'ala, kami tidak sabar atas hal ini; nenek moyang kami dicela, kaum cerdik kami dibodohkan, dan tuhan-tuhan kami dicemoohkan. Engkau lakukan permintaan kami, ataukah kami yang akan mencegah perbuatan keponakanmu itu, atau bahkan kami umumkan perang sedang engkau masih tetap dalam kebisuanmu (tidak mau bertindak), hingga salah satu dari dua kubu itu menemui kehancuran. 

Ancaman dan peringatan keras dari tokoh-tokoh Quraisy ini terasa berat membebani benak Abu Thalib, dia masih keberatan jika berpisah dengan kaumnya dan bermusuhan dengan mereka, sedang­kan dia juga tidak mau menyerahkan Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam keponakannya kepada mereka, dan dia juga tidak rela jika keponakannya dihinakan dan direndahkan. Akhirnya dia menemui Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam, lalu berkata kepadanya: "Wahai keponakanku, sesungguhnya kaummu telah menda­tangiku dan memberitahukan kepadaku tentang hal ini dan itu, juga meminta kepadaku agar aku berbuat ini dan itu, maka sekarang cukuplah kita dengan apa yang selama ini aku dan dirimu meyakininya. Janganlah engkau membebaniku dengan perkara yang aku tidak kuat memikulnya begitu juga engkau, maka tariklah perkataanmu tentang kaummu yang mana hal itu sangat dibenci oleh mereka". 

Tetapi Nabi Shalallahu 'alaihi wa sallam tetap kokoh di atas dakwahnya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, tidak sedikitpun dipengaruhi oleh celaan orang yang mencela, karena beliau di atas kebenaran, dan beliau tahu bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala akan meno­long agama-Nya dan meninggikan agama-Nya. 

Maka tatkala Abu Thalib melihat keteguhan keponakannya yang begitu kokoh, dan dia telah putus asa membujuknya agar memenuhi permintaan kaum Quraisy untuk meninggalkan dakwahnya mengajak manusia kepada tauhid, dia berkata: "Demi Allah, tidak akan mengenaimu makar-makar mereka hingga aku tertimbun tanah dan rata dengan debu. Maka teruskanlah urusan dakwahmu jangan sedikitpun merasa rendah diri. Berilah kabar gembira dan sejukkan dengan beritamu itu beberapa pandangan mata"

Sumber:
 Muqawwimat ad-Da'iyat an-Najih Fi Dhau'i al-Kitab wa as-Sunnah Mafhumun wa Nadharun wa Tathbiqun

Rabu, 05 Januari 2011

CONTOH-CONTOH HADITS AHAD DALAM SHAHIH BUKHARI SEBAGAI HUJJAH ATAS AMAL, AQIDAH DAN AKHLAK

Share |

Tanya Jawab bersama
Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat حفظه الله

MUKADDIMAH
Pembahasan mengenai hadits ahad dan hubungannya dangan aqidah, atau hukum dan aqidah, itu tidak pernah dibicarakan oleh generasi pertama, kedua maupun ketiga. Khususnya para sahabat tidak pemah memilah atau membagi-bagi hadits, seperti pembagian yang dilakukan oleh sebagian ahli bid’ah bahwa hadits ahad hanya terbatas untuk hukum, sedangkan hadits mutawatir dapat dipakai untuk aqidah. Pembagian seperti ini tidak pernah dikenal, kecuali oleh ahli bid’ah, seperti Mu’tazilah. Dan fikrah ini terus berkembang sampai pada awal abad kedua puluh, hingga timbul Mu’tazilah gaya baru, atau yang kita kenal dangan Hizbut Tahrir.  
KECEROBOHAN HIZBUT TAHRIR
Hizbut Tahrir membagi, hadits mutawatir untuk aqidah dan ahkam, sedangkan hadits ahad dikhususkan untuk masalah hukum. Adapun para sahabat, tabiin dan tabiut tabi’in menerima hadits, jika hadits tersebut sah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, mereka tidak membaginya sebagaimana yang dilakukan oleh mu’tazilah dan yang sepaham dangannya. Jadi, para sahabat melihatnya, sah atau tidak, jika sesuai dangan kaidah-kaidah ilmu hadits, maka diterima baik untuk masalah hukum ataupun aqidah.
Jadi pembagian yang dilakukan oleh Hizbut Tahrir, bahwa hadits ahad tidak bisa dipakai dalam aqidah, merupakan pembagian yang muhdats (bidah). Ini bisa dilihat dari beberapa segi. Berdasarkan nash Al Qur’an, banyak ayat (firman Allah) yang dijadikan dalil oleh Imam Syafi’i. Diantaranya tersebut dalam kitab Ar Risalah, bahwa khabar ahad itu diterima. Demikian juga dari hadits-hadits yang akan kita lihat. Diantaranya, bahwa Rasulullah mengutus sebagian sahabat orang per orang untuk menyampaikan Is­lam.
Pembagian yang dilakukan Hizbut Tahrir tersebut bertentangan dangan Ijma’ para sahabat. Para sahabat tidak pernah menolak hadits yang disampaikan oleh satu sahabat yang lain yang berkenaan dangan aqidah dan contoh tentang ini banyak sekali. Bertentangan dangan kaidah ilmu hadits, yang dapat menunjukkan kebodohan mereka. Memang, perlu diketahui bahwa ahlul bid’ah itu menegakkan manhaj mereka atas dasar kebodohan dan hawa nafsu. Sedangkan Ahlus Sunnah menegakkan manhaj di atas dasar ilmu dan keadilan.
Tampak sangat jelas kebodohan HT yang menolak khabar ahad untuk aqidah, karena hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam berbicara tentang Islam. Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Salam untuk menjelaskan Al Qur’an. Tentunya, yang dimaksudkan dalam hal ini adalah dinul Islam. Alloh berfirman :
وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ
Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur’an, agar kamu menerangkan kepada ummat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan. (QS An Nahl : 44).
Ayat yang mulia ini, memberkan sejumlah faidah, hukum dan qawaid. Diantaranya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam diperintahkan oleh Allah untuk menjelaskan Al Qur’an. Penjelasan Beliau tentang Al Qur’an ini, agar manusia faham dangan apa yang dimaksudkan oleh AllahPenjelasan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Salam sangat luas, meliputi apa yang ada dalam Al Qur’an, bahkan yang tidak disebutkan secara terperinci di dalamnya, meskipun secara mujmal (global) terdapat di dalam Al Qur’an. Karena itu, ulama membagi Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam menjadi beberapa bagian. Pendapat ini disampaikan oleh ulama, diantaranya Imam Syafi’i, kemudian dinukil Imam Baihaqi di dalam kitabnya Al Madkhal, dan Imam Suyuthi di dalam kitab Miftahul Jannah.
1. Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam mengamalkan atau memerintahkan apa yang diperintahkan oleh Al­lah. Misalnya, Allah memerintahkan shalat, maka Beliaupun ikut memerintahkan shalat. Allah mengancam orang yang meninggalkan shalat, Beliupun ikut mengancam. Dan begitu seterusnya.
2. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Salam, menjelaskan apa yang mujmal di dalam Al Qur’an atau Beliau memberikan tambahan­tambahan, seperti wudhu, tentang makanan yang diharamkan yang tidak disebutkan di dalam Al Qur’an kecuali beberapa macam, dan lain-lain.
3. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Salam memerintahkan atau melarang sesuatu yang sama sekali tidak ada keterangannya di dalam Al Qur’an, tetapi secara mujmal atau mutlak terdapat dalam Al Qur’an, yakni perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala agar taat kepada Beliau. Allah memerntahkan agar kita taat kepada Allah dan Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Salam, disebutkan di dalam Al Qur’an kurang lebih di 44 tempat. Diantaranya:
وَمَا ءَاتَكُوُ الرَسُوْلُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوْا وَاتَّقُو اللهَ إِنَّ اللهَ شَدِيْدُ العِقَابِ
Dan Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah, dan bertaqwalah kepada Al­lah. Sesungguhnya, Allah sangat keras hukumanNya. (QS Al Hasyr : 7).
Ayat ini bersifat mutlak, memerintahkan kita untuk menerima yang datang dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam, walaupun tidak tertulis di dalam Al Qur’an. Misalnya, seperti haramnya cincin emas serta kain sutera bagi kaum pria, dan lain sebagainya.Ini merupakan Sunnah dan penjelasan Beliau terhadap Al Qur’an. Dari sini, kita mengetahui bahwa Sunnah Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Salam tidak hanya berbicara tentang satu hukum. Jika Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Salam berbicara tentang satu hal -misalnya tentang shalat, zakat, jual beli- tidak hanya terbatas pada hukum tersebut, tetapi mencakup hukum yang lain, karena ini merupakan penjelasan Beliau terhadap Al Qur’an dan Islam secara keseluruhan. Karena itu, Al Qur’an sangat membutuhkan kepada hadits, dan tidak sebaliknya.
Nanti kita akan melihat contoh, bahwa dalam satu hadits kadang berbicara tentang aqidah, akhlak, kisah, hukum dan lain-lain. Sehingga dari satu hadits, kita dapat mengambil faidah yang banyak, puluhan bahkan ratusan. Sehingga, jika kita katakan bahwa hadits ahad tidak dipakai untuk aqidah, maka sebagian besar aqidah akan tertolak.
Kita lihat lagi kejahilan Hizbut Tahrir. Mereka hanya mengikuti hawa nafsu. Diantara kebodohannya, mereka tidak bisa mengetahui adanya keterikatan antara aqidah dan hukum. Padahal keterikatan antara keduanya sangat erat, tak terpisahkan. Karena, kalau memisahkannya, berarti kita menetapkan sesuatu tanpa iman. Misalnya hukum haramnya khamr. Dan menetapkan keharaman khamr itu dangan keyakinan, yang demikian ini merupakan aqidah. Mustahil kita menetapkan hukum tanpa keyakinan bahwa itu telah ditetapkan keharamannya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jadi, pemisahan antara aqidah dan hukum merupakan satu kerancuan dalam beragama, jauh dari nur Al Qur’an dan Sunnah.
Hizbut Tahrir dan kawan-kawannya juga tidak istiqamah dalam menjalankan ajaran mereka. Ada sesuatu yang lucu. Kalau mereka mengatakan bahwa hadits ahad tidak bisa diterima dalam aqidah, maka konsekwensinya, jika mereka menyampaikan materi dalam ta’lim, atau manakala menulis kitab, dan khabarnya wajib mutawatir maka tidak boleh satu orang. Ini sesuai dangan teori mereka. Akan tetapi, kenyataannya ustadz-ustadz mereka menyampaikan materi aqidah seorang diri, begitu juga ketika menulis.
CONTOH-CONTOH HADITS AHAD
Sering terjadi, apa yang disangka oleh Hizbut Tahrir sebagal hadits ahad, ternyata bukan ahad. Sebagai contoh tentang adzab kubur. Bahkan mereka sering menyampaikan pengingkarannya terhadap adzab kubur. Padahal hadits tentang masalah ini mutawatir maknawi. Dan masih banyak contoh lainnya.
Hadits apa saja yang mereka tolak? Ini harus diteliti terlebih dahulu, apakah termasuk khabar ahad ataukah mutawatir? Demikian jika kita mengikuti teori mereka. Tetapi ternyata mereka tidak paham yang dimaksud dangan ahad dan mutawatir.
Di depan sudah disampaikan, jika kita menerima teori mereka, maka sebagian besar aqidah akan tertolak. Contoh-contoh hadits ahad yang diterima, disepakati dan dijadikan dalil oleh para ulama dari zaman ke zaman, yang di dalamnya disamping berbicara tentang aqidah, tetapi juga hukum, atau yang lainnya. Karena keduanya berkaitan. Contohnya, kita lihat satu per satu.Contoh pertama, hadits 1 yang kami bawakan dan Shahih Bukhari, yaitu sebuah hadits ahad dan gharib.
إنما الأعمال بالنيات وإنما لكل امريء ما نوى ، فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله ، ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها أو امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه

Sesungguhnya amal itu dangan niat, dan sesungguhnya bagi masing-masing orang apa yang dia niatkan. Barangsiapa yang hijrahnya kepada dunia yang akan ia dapatkan atau kepada perempuan yang akan dia nikahi maka (hasil) hijrahnya adalah apa yang dia niatkan (Muttafaqun ‘alaih).
Apakah hadits ini tidak berbicara tentang aqidah? Bahkan hadits ini berbicara tentang salah satu diterimanya amal, tentang ikhlas yang merupakan syarat diterimanya amal seseorang. Hadits ini, jelas merupakan hadits ahad, dan termasuk ke dalam bagian hadits gharib, karena tidak diriwayatkan, kecuali dari jalan Umar bin Khaththab. Dan tidak ada yang meriwayatkan darinya, kecuali Al Qamah bin Waqqash Al Laitsi. Dan tidak ada yang meriwayatkan darinya kecuali Muhammad bin Ibrahim At Taimi. Dan tidak ada yang meriwayatkan darinya kecuali Yahya bin Sa’id Al Anshari. Kemudian dari beliau ini diriwayatkan oleh puluhan perawi, bahkan mungkin ratusan. Awalnya mutawatir, akhirnya ahad dan gharib. Ini salah satu contoh hadits yang diterima oleh para ulama, bahkan hampir sebagian besar ulama.Contoh kedua, yaitu hadits nomor 7, yang diriwayatkan juga oleh Imam Bukhari. Hadits yang panjang, berbicara tentang hukum, aqidah, adab dan lain-lain. Yaitu hadits tentang kisah Hiraklius. Hadits ini telah diterima oleh para ulama. Di dalamnya diceritakan, Hiraklius bertanya kepada Abu Sufyan, yang ketika itu ia masih musyrik, berkaitan dengan dakwah Rasulullah. Diantaranya, Hiraklius bertanya kepada Abu Sufyan
ماذا يأمركم قلت يقول اعبدوا الله وحده ولا تشركوا به شيئا واتركوا ما يقول آباؤكم ويأمرنا بالصلاة والصدق والعفاف والصلة
Apa yang diperintahkan oleh Muhammad kepada kalian? Aku (Abu Sufyan) menjawab, ‘Muhammad mengatakan. ‘Sembahlah Allah semata dan janganlah kalian menyekutukan-Nya dangan sesuatu apapun, tinggalkanlah apa yang dikatakan (diyakini) oleh bapak-bapak (nenek moyang) kalian’. Muhammad (juga) menyuruh kami untuk shalat, zakat, jujur, menjaga harga diri dan menyambung tali silaturrahim…
Apakah yang dimaksudkan dalam hadits ini bukan aqidah? Demikian ini aqidah, dan hadits ini juga merupakan hadits ahad dan bukan mutawatir. Bahkan dalam hadits yang mulia ini tercapat surat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, yaitu:
بسم الله الرحمن الرحيم من محمد عبد الله ورسوله إلى هرقل عظيم الروم سلام على من اتبع الهدى أما بعد فإني أدعوك بدعاية الإسلام أسلم تسلم يؤتك الله أجرك مرتين فإن توليت فإن عليك إثم الأريسيين و يا أهل الكتاب تعالوا إلى كلمة سواء بيننا وبينكم أن لا نعبد إلا الله ولا نشرك به شيئا ولا يتخذ بعضنا بعضا أربابا من دون الله فإن تولوا فقولوا اشهدوا بأنا مسلمون

Bismillahirrahmanirrahim, dari Muhammad hamba Allah dan Rasul-Nya kepada Hirakla (Hiraklius) pembesar Romawi, keselamatan atas orang yang mengikuti petunjuk, amma ba’du. Sesungguhnya aku mengajakmu dangan ajakan Islam, islamlah! Engkau pasti akan selamat dan Allah akan memberikan kepadamu balasan dua kali lipat. Jika engkau berpaling, maka engkau akan menanggung dosa-dosa rakyatmu. (Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam membawakan ayat, yang artinya.) Katakanlah. “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dangan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagal llah selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka . “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. (QS Ali Imran:64).
Surat ini mengajak Hiraklius untuk masuk Islam, kembali ke agama tauhid. Apakah seperti ini bukan aqidah? Demikian ini adalah masalah aqidah. Bahkan dalam hadits ini terkumpul masalah akhlak, hukum, aqidah dan sebagainya. Kalau hadits ahad tidak bisa dijadikan sebagal hujjah dalam masalah aqidah, maka hadits yang mulia ini tertolak.Contoh ke tiga, hadits nomor 8 di dalam Shahih Bukhari. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dan yang lainnya. Hadits ini ahad. Tetapi sepengetahuan kami, hadits ini masyhur, yaitu dari jalan Ibnu Umar,
قال رسول الله صلى الله عليه وآل وسلم : بني الإسلام على خمس : شهادة أن لا إله إلا الله وأن محمد ا رسول الله ، وإقام الصلاة ، وإيتاء الزكاة ، وحج البيت ، وصوم رمضان

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda, ‘Islam dibangun di atas lima asas (yaitu) syahadat (persaksian) bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Allah dan syahadat bahwa Muhammad itu Rasulullah, mendirikan sholat, menunaikan zakat, haji dan puasa ramadhan (dalam riwayat lain puasa ramadhan baru haji).
Bukankah hadits ini telah disepakati oleh para ulama dan diterima dari zaman ke zaman? Hadits ini menjelaskan tentang rukun-rukun Islam, dan diawali dangan syahadat. Apakah ini bukan masalah aqidah? Di sini kita melihat lagi bahwa satu hadits, selain berbicara masalah aqidah, juga masalah hukum.Contoh ke empat, yaitu hadits nomor 9, di dalam Shahih Bukhari. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dan yang lainnya. Hadits ini, selain ahad juga gharib, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu
عن النبي صلى الله عليه وسلم قال الإيمان بضع وستون شعبة والحياء شعبة من الإيمان

Dari Nabi Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda, ‘iman itu ada enam puluh cabang lebih dan rasa malu merupakan salah satu cabang iman.
Hadits ini menjelaskan tentang cabang keimanan, Yakni, iman itu mempunyai enam puluh cabang lebih. Dan di riwayat Imam Muslim,
الإيمان بضع و سبعون أو بضع وستون شعبة فأفضلها قول لا إله إلا الله وأدناها إماطة الأذى عن الطريق والحياء شعبة من الإيمان

iman itu tujuh puluh cabang lebih, Yang paling tinggi adalah ucapan laailaha illallaah, dan, yang paling rendah ialah menyingkirkan, gangguan dari jalan, dan malu merupakan, salah satu cabang iman.
Hadits ini juga berbicara tentang aqidah, hukum, akhlak dan adab, seperti menghilangkan gangguan dari jalan. Padahal ini merupakan hadits ahad dan gharib. Jikalau kita menerima kaidah mereka (Hizbut Tahrir), maka tertolaklah hadits ini, karena tidak diriwayatkan secara mutawatir.Contoh ke lima, hadits yang ke 14 dan 15. Ini juga merupakan hadits ahad, berbicara tentang aqidah. Yaitu kecintaan kepada Rasulullah dan cara mencapai kesempurnaan cinta kepadanya. Diriwayatkan dari jalan Abu Hurairah
أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال فوالذي نفسي بيده لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من والده وولده

Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda, Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, tidak akan beriman (sempurna keimanan) salah seorang diantara kalian sampal aku lebih dicintal daripada bapak dan anaknya.
Dan hadits nomor 15, dari jalan Anas:
قال النبي صلى الله عليه وسلم لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من والده وولده والناس أجمعين

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda, Tidak akan beriman (tidak akan sempurna keimanan) salah seorang diantara kalian sampal aku lebih dicintal daripada bapak dan anaknya dan semua orang.
Ini juga berbicara tentang aqidah.Contoh ke enam, hadits nomor 16, tentang kelezatan atau manisnya iman yang dapat dirasakan oleh seseorang.Diriwayatkan dari Anas dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam
ثلاث من كن فيه وجد حلاوة الإيمان أن يكون الله ورسوله أحب إليه مما سواهما وأن يحب المرء لا يحبه إلا لله وأن يكره أن يعود في الكفر كما يكره أن يقذف في النار

Ada tiga hal, jika ketiganya terkumpul pada diri seseorang maka ia akan mendapatkan manisnya iman; (yaitu) Allah dan Rasulnya lebih dicintal daripada selain keduanya, mencintal seseorang, ia tidak mencintainya kecuali karena Allah dan benci kembali kepada kekufuran sebagaimana dia benci dilempar kedalam api neraka.

Hadits ini juga berbicara tentang cinta kepada Allah, Rasul-Nya dan juga keimanan. Bahwa iman itu punya rasa. Demikian ini adalah masalah aqidah.Contoh tujuh, hadits nomor 26.
عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم سئل أي العمل أفضل فقال إيمان بالله ورسوله قيل ثم ماذا قال الجهاد في سبيل الله قيل ثم ماذا قال حج مبرور

Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah pernah ditanya: “Amal apakah yang paling afdhal?” Beliau: menjawab, Iman kepada Allah dan RasulNya. ” Kemudian ditanya lagi, Lalu apa lagi ?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Salam menjawab, Jihad dl jalan Allah’. Kemudian ditanya lagi, ‘Lalu apa lagi ?’ Beliau menjawab, Haji yang mabrur ‘
Hadits yang mulia ini menjelaskan tentang iman. Bahwa iman itu masuk dalam bagian amal, dan amal itu masuk dalam bagian iman. Oleh karena itu, Imam Bukhari memberikan Bab : Man Qaala Annal Iman Huwal Amal, bahwa amal itu masuk dalam iman. Sehingga, ketika Nabi ditanya tentang amal yang paling afdhal, Beliau menjawab iman kepada Allah.Hadits ini telah diterima oleh semua ulama Ahlus Sunnah untuk menetapkan, bahwa amal itu masuk dalam bagian iman. Yang tentunya akan menjelaskan kepada kita, bila iman itu bisa bertambah karena perbuatan ta’at, dan bisa berkurang karena perbuatan maksiat.
Contoh ke delapan, hadits nomor 32, darijalan Abdullah bin Mas’ud.
لما نزلت { الذين آمنوا ولم يلبسوا إيمانهم بظلم } قال أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم أينا لم يظلم فأنزل الله { إن الشرك لظلم عظيم }

Ketika turun firman Allah (yang artinya) Orang­-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dangan kezhaliman (syirik), mereka Itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (OS. Al An’am 82), para shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam berkata, Siapakah diantara klta yang tidak berbuat zhalim?’ lalu Allah menurunkan firman-Nya (yang artinya), sesungguhnya kesyirikan itu adalah kezhaliman yang besar.
Ketika ayat Al An’am 82 diturunkan, para sahabat merasa susah dan berat. Mereka mengatakan, siapakah diantara kita yang tidak menzhalimi dirinya? Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam menjelaskan kepada mereka, bahwa bukan itu yang dimaksud; tidakkah kalian mendengar perkataan Luqman kepada anaknya? Jadi zhulm (kezhaliman) di sini, maksudnya adalah syirik. Ini juga berbicara tentang aqidah, antara tauhid dan syirik.Contoh ke sembilan, hadits no. 39, dari Abu Hurairah
إن الدين يسر
Sesungguhnya agama ltu adalah mudah

Ini juga berbicara tentang aqidah, bahkan berbicara tentang agama ini secara keseluruhan. Bahwa ajaran Islam, pengamalan dan dakwahnya adalah mudah. Apakah ini tidak berbicara aqidah? Hadits ini berbicara tentang Islam, dan tentunya kaffah. Sebagaimana Allah memerintahkan kepada kita untuk masuk Islam secara kaffah (menyeluruh).Contoh ke sepuluh, hadits nomor 50. Yaitu hadits tentang Jibril yang datang kepada Nabi lalu bertanya Islam, iman dan ihsan, dan di Shahih Bukhari diringkas.
ما الإيمان قال أن تؤمن بالله وملائكته وبلقائه ورسله وتؤمن بالبعث قال ما الإسلام قال الإسلام أن تعبد الله ولا تشرك به وتقيم الصلاة وتؤدي الزكاة المفروضة وتصوم رمضان قال ما الإحسان قال أن تعبد الله كأنك تراه فإن لم تكن تراه فإنه يراك

Apakah iman ? Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda, ‘iman adalah engkau beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, pertemuan dangan-Nya, para rasul-Nya dan beriman kepada harl kebangkitan.’ Jibril bertanya, Apakah Islam? Rasulullah bersabda, ‘Islam adalah engkau beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan sesuatupun dengan-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat yang walib, puasa Ramadlan.’ Jibril bertanya, Apakah lhsan? Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda, ‘Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-­akan engkau melihat-Nya, jika engkau tidak bisa melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu …
Hadits ini termasuk ahad.Contoh ke sebelas, hadits nomor 53, yaitu hadits tentang utusan Abdul Qais yang datang kepada Rasulullah, lalu menyambut mereka dan memerintahkan kepada mereka empat perkara dan melarang dari empat perkara.
أمرهم بالإيمان بالله وحده قال أتدرون ما الإيمان بالله وحده قالوا الله ورسوله أعلم قال شهادة أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله وإقام الصلاة وإيتاء الزكاة وصيام رمضان وأن تعطوا من المغنم الخمس

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam memerintah mereka agar beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bertanya, ‘Tahukah kalian, apakah beriman kepada Allal semata itu? Mereka menjawab, Allah dan Rasul-Nya lebih tahu. Beliau menerangkan, syahadat (persaksian) bahwa tidak ilah yang haq kecuali Allah dan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Salam itu Rasulullah, menegakkan shalat, memberikan zakat, puasa Ramadlan dan memberikan seperlima dari ghanimah…
Ini juga berbicara tentang iman.Contoh ke duabelas, hadits nomor 1331, dan di beberapa tempat lainnya, dari jalan Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhu
أن النبي صلى الله عليه وسلم بعث معاذا رضى الله تعالى عنه إلى اليمن فقال ادعهم إلى شهادة أن لا إله إلا الله وأني رسول الله فإن هم أطاعوا لذلك فأعلمهم أن الله قد افترض عليهم خمس صلوات في كل يوم وليلة فإن هم أطاعوا لذلك فأعلمهم أن الله افترض عليهم صدقة في أموالهم تؤخذ من أغنيائهم وترد على فقرائهم

Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam mengutus Mu’adz Radhiallahu ‘anhu ke Yaman, lalu Rasulullah bersabda, ‘Serulah mereka kepada syahadat (persaksian) bahwa tidak ilah yang haq kecuali Allah dan bahwasanya aku Rasulullah. Jika mereka mentaatimu dalam hal itu, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka shalat lima kali sehari semalam. Jika mereka mentaatimu dalam hal itu, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan kepada mereka zakat dalam harta mereka yang diambil dari orang-orang kaya mereka dan diberikan kepada orang-orang fakir mereka.
Hadits yang mulia ini diterima oleh seluruh ulama. Apakah hadits ini bukan berbicara masalah aqidah? Bahkan ini merupakan asas dalam Islam. Tidak ada Islam tanpa syahadatContoh ketigabelas, dari selain Bukhari. Yaitu hadits yang masyhur dan telah diterima oleh para ulama.
إن الرقى والتمائم والتولة شرك

Sesungguhnya mantera-mantera (yang bathil), jimat dan pelet termasuk bagian syirik.
Tentunya mantera-mantera yang dimaksudkan disini adalah mantera yang bathil. Karena ruqyah (pengobatan dangan bacaan) itu ada dua, ada yang syar’i dan yang tidak syar’i. Hadits ini juga ahad, dan masih banyak lagi contoh-contoh tentang hadits ahad yang berkaitan dangan aqidah, dan diterima oleh para ulama.PEMBAGIAN HADITS MENJADI MUTAWATIR DAN AHAD
Pembagian hadits menjadi mutawatir dan ahad, memang ada dalam kaidah ilmu hadits. Namun perlu diketahui, bahwa para ulama membagi hadits menjadi mutawatir dan ahad bukan untuk menolak hadits.
Pembagian itu merupakan tinjauan ilmiah, berdasarkan jumlah (banyak atau sedikitnya) perawi yang meriwayatkannya. Sebagian tinjauan mereka berdasarkan shahih dan lemahnya suatu riwayat.
Berdasarkan jumlah perawinya, jika perawi suatu hadits itu banyak, maka para ulama mengatakan bahwa hadits itu mutawatir, meskipun mereka masih berbeda pendapat tentang batasan banyak atau sedikit. Juga ada definisi lain tentang mutawatir ini, yaitu jika hadits tersebut diketahui keshahihannya dan diterima secara mutlak oleh para ulama. Definisi ini dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.
Adapun hadits ahad, yaitu hadits di bawah mutawatir. Mereka membagi menjadi:
- Gharib, yaitu hadits yang hanya diriwayatkan oleh satu orang sahabat saja, sebagaimana hadits pada contoh pertama dan ke empat di atas.
- Aziz, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh dua or­ang sahabat, walaupun lafazhnya agak berbeda.
- Masyhur, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh tiga orang sahabat yang berbeda.
Ini semua termasuk dalam bagian hadits ahad. Maka disini ada pembagian hadits menjadi hadits shahih, hasan dan dha’if.
Jika perawinya lebih dari tiga, maka disebut mutawatir. Demikian jika mengumpulkan antara dua definisi diatas. Contoh hadits seperti ini sangat banyak. Misalnya:
من كذب علي فليتبوأ مقعده من النار

Barangsiapa yang berdusta atas namaku, maka hendaklah ia mempersiapkan tempat duduknya dari neraka.
Hadits tentang azab kubur ini juga mutawatir maknawi (secara makna). Begitu juga tentang turunnya Isa -di akhir zaman, munculnya Dajjal, haudh (telaga) Nabi, tentang bumi berlapis tujuh. Dan masih banyak lagi contohnya.Adapun berdasarkan difinisi Syaikhul Islam, yaitu hadits yang diketahui keshahihannya dan diterima secara mutlak oleh para ulama, bisa juga disebut mutawatir. Ini sangat banyak sekali, terutama hadits­-hadits yang berada di shahih Bukhari dan Muslim
(Majalah as-Sunnah Edisi Khusus/Tahun VIII/1425H/2004M)

Apakah Kalian menyuruhku Meratap Karena Musibah Ini?

Share |
Seorang tabi’in yang agung, Mutharif bin Abdillah adalah orang yang sangat sabar, kuat menanggung beban. Beliau tidak pernah mengeluh dengan lisannya, atau merintih tatkala menjelaskannya, bahkan beliau bersikap tegar ketika menghadapi musibah dan memadamkan api yang membakar hati manusia ketika kehilangan seorang anaknya.
Pada suatu ketika seorang anaknya meninggal. Maka orang-orang berkumpul untuk takziyah kepadanya. Tatkala beliau keluar di tengah-tengah mereka, beliau menyisir rambut dan mengenakan baju yang bagus (seakan tidak sedang berkabung) hingga orang-orang terheran dan berkata:”Kami tidak suka melihat anda seperti ini wahai Mutharrif, sedangkan anakmu baru saja meninggal!”

Beliau berkata kepada mereka: Apakah kalian menyuruhku untuk meratapi musibah ini? Demi Allah, kalau saja dunia dan seisinya menjadi milikku, lalu Allah menjanjikan seteguk air kepadaku karenanya, maka aku tidak pedulikan lagi asal mendapatkan minuman tersebut, lantas bagaimana halnya dengan janji Allah terhadap orang-orang yang bersabar berupa shalawat dari Allah, hidayah dan rahamat-Nya sebagaimana firman-Nya: “Mereka itulah yang mendapatkan shalawat dari rahmat Rabb mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Al-Baqarah: 157)

Perang Mu’tah (Jumadil Ula, 8 H)

Share |
“Rasulullah menetap di Madinah di sisa bulan Dzulhijjah dilanjut-kan bulan Muharram, Shafar, Rabiul Awal, dan Rabiul Akhir. Pada bulan Jumadil Ula, beliau mengirim pasukan ke Syam dan di antara mereka gugur sebagai syahid di Mu’tah.” Dan menunjuk Zaid bin Haritsah sebagai komandan pasukan, Rasulullah bersabda, ‘Jika Zaid gugur, maka yang menjadi komandan pasukan adalah Ja’far bin Abu Thalib. Jika Ja’far bin Abu Thalib gugur, maka yang menjadi komandan pasukan adalah Abdullah bin Rawahah’.
Pasukan tersebut segera mengadakan persiapan dan bersiap-siap untuk berangkat menunaikan tugas. Pasukan tersebut terdiri dari tiga ribu personel. 

Ketika saat keberangkatan tiba, kaum muslimin melepas dan mengucapkan salam kepada para komandan pasukan. Ketika Abdullah bin Rawahah dilepas bersama para komandan pasukan, ia menangis. Para sahabat bertanya kepadanya, ‘Kenapa engkau menangis, wahai Ibnu Rawahah?’ Abdullah bin Rawahah menjawab, ‘Demi Allah, aku mena-ngis bukan karena cinta dunia atau rindu kalian, namun karena aku per-nah mendengar Rasulullah membaca ayat Al-Qur’an yang mengingatkan tentang Neraka, 
‘Dan tidak ada seorang pun dari kalian, melainkan mendatangi Neraka tersebut; hal ini bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan.’ (Maryam: 71) 

Aku tidak tahu bagaimana aku bisa kembali setelah mendatanginya (Neraka). Kaum muslimin berkata, ‘Semoga Allah menemani, melindungi, dan mengembalikan kalian kepada kami dalam keadaan selamat.” 

“Kemudian Abdullah bin Rawahah RA berkata, 
‘Aku meminta ampunan kepada Ar-Rahman 
Dan pukulan dahsyat yang memuncratkan darah 
Atau tikaman oleh orang haus darah 
Dengan tombak hingga menembus usus dan hati 
Hingga orang-orang berkata ketika melewati kuburanku, 
Semoga Allah memberi petunjuk kepada tentara dan sungguh ia telah mendapatkannya’.”

“Kemudian pasukan tersebut berangkat dengan diantar Rasulullah. Setelah beliau melepas dan meninggalkan mereka, Abdullah bin Rawahah berkata, 
‘Kedamaian tercurah kepada orang yang aku tinggalkan di Madinah 
Ia orang pengantar dan kekasih terbaik’.” 

“Pasukan kaum muslimin berjalan dan singgah di Ma’an, daerah di Syam. Di sana, mereka mendapat kabar bahwa Hiraklius tiba di Ma’ab, daerah di Al-Balqa’, dengan membawa seratus ribu tentara Romawi dan seratus ribu tentara gabungan dari Lakhm, Judzam, Al-Yaqin, Bahra’, dan Baly dipimpin salah seorang dari Baly kemudian dari Irasyah bernama Malik bin Zafilah. Ketika kaum muslimin mendengar informasi tersebut, mereka menetap di Ma’an dua malam untuk berpikir. Sebagian dari mereka berkata, ‘Kita kirim surat kepada Rasulullah dan kita jelaskan jumlah musuh, agar beliau mengirim bantuan personel atau menyuruh kita pulang’. Abdullah bin Rawahah memberi motivasi kepada mereka dengan berkata, ‘Hai kaum muslimin, demi Allah, sesuatu yang kalian takuti pada hakikatnya adalah sesuatu yang kalian minta selama ini, yaitu mati syahid. Kita tidak memerangi musuh dengan jumlah besar pasukan atau kekuatan, namun kita memerangi mereka dengan agama Islam dimana Allah memuliakan kita dengannya. Berangkatlah kalian, niscaya kalian mendapatkan salah satu dari dua kebaikan; kemenangan atau mati syahid’. Kaum muslimin berkata, ‘Sungguh Abdullah bin Rawahah berkata benar’. 

“Kaum muslimin terus berjalan. Ketika tiba di perbatasan Al-Balqa’ tepatnya di desa Masyarif, mereka bertemu pasukan Romawi dan pasukan gabungan orang-orang Arab. Kedua belah pihak saling mendekat, namun kaum muslimin pindah ke desa Mu’tah. Di sanalah, kedua belah pihak bertemu. Kaum muslimin bersiap-siap untuk menghadapi musuh dengan menunjuk salah seorang dari Bani Udzrah bernama Quthbah bin Qatadah sebagai komandan pasukan sayap kanan dan salah seorang dari kaum Anshar bernama Abayah bin Malik. 

“Kedua belah pihak bertemu kemudian saling serang. Zaid bin Haritsah bertempur dengan memegang bendera perang Rasulullah hingga gugur karena terkena tombak musuh kemudian bendera perang diambil alih Ja’far bin Abu Thalib. Ketika perang memuncak, Ja’far bin Abu Thalib turun dari kudanya dan menyembelihnya. Setelah itu, ia menyerang musuh hingga gugur. 

Ia berkata, 
‘Duhai betapa dekatnya Surga 
Sungguh enak Surga itu dan minumannya menyegarkan 
Orang-orang Romawi telah dekat siksanya 
Mereka kafir dan nasabnya jauh 
Jika aku bertemu mereka, aku akan menyerang mereka’.” 

Ibnu Hisyam berkata, ulama yang aku percayai berkata kepadaku bahwa Ja’far bin Abu Thalib memegang bendera perang dengan tangan kanannya hingga putus, kemudian ia pegang bendera perang dengan tangan kirinya hingga putus, kemudian ia dekap bendera perang dengan kedua lengannya hingga gugur dalam usia tiga puluh tiga tahun. Allah SWT memberinya pahala dalam bentuk dua sayap di Surga dimana ia dapat terbang dengannya ke mana pun ia mau. Ada yang mengatakan bahwa salah seorang tentara Romawi memukulnya hingga badannya terbelah menjadi dua. 

“Ketika Ja’far bin Abdullah gugur, Abdullah bin Rawahah mengambil alih bendera perang. Ia maju dengannya dengan mengendarai kuda dan mendorong dirinya terjun ke medan perang, namun agak ragu-ragu, kemudian ia berkata, 
Wahai diriku aku bersumpah, engkau harus terjun ke medan perang 
Engkau harus terjun ke kancah perang atau aku memaksamu terjun 
Manusia telah berkumpul dan mengeraskan teriakan 
Namun kenapa kulihat engkau benci kepada Surga? 
Sudah sekian lama engkau tentram 
Dan engkau hanyalah setetes air mani di tempat air’. 

Abdullah bin Rawahah juga melantunkan, 
‘Wahai diriku, jika engkau tidak terbunuh, engkau tetap akan mati 
Inilah kendali kematian telah mengenaimu 
Apa yang engkau dambakan telah diberikan kepadamu 

Jika engkau mengerjakan perbuatan dua orang, engkau mendapat petunjuk’. 
“Setelah itu, Abdullah bin Rawahah terjun ke medan perang. Ketika ia turun, ia didatangi saudara sepupunya dengan membawa tulang yang masih ada dagingnya. Saudara sepupunya berkata, “kuatkan badanmu dengan daging ini, karena kulihat engkau lapar sejak beberapa hari ini’. Abdullah bin Rawahah mengambil daging tersebut dan menggigitnya. Tiba-tiba ia mendengar suara perang dari arah dua belah pihak yang sedang bertempur, ia pun berkata, ‘Engkau (daging) berada di dunia’. Ia buang daging tersebut, mengambil pedang, dan bertempur hingga gugur”. 

“Setelah Abdullah bin Rawahah gugur, bendera perang diambil alih Tsabit bin Arqam saudara Bani Al-Ajlan. Ia berkata, ‘Hai kaum muslimin, angkatlah salah seorang dari kalian menjadi komandan pasukan’. Kaum muslimin berkata,’Engkau komandan perang kami’. Tsabit bin Arqam berkata, ‘Aku tidak siap’. Kaum muslimin mengangkat Khalid bin Walid sebagai komandan pasukan mereka. Ketika Khalid bin Walid mengambil bendera perang, ia menyerang musuh, kemudian mundur dan pulang bersama kaum muslimin”. 

“Ketika para komandan pasukan Islam gugur, Rasulullah bersabda, ‘Bendera perang dipegang Zaid bin Haritsah kemudian ia bertempur hingga gugur sebagai syahid, lalu bendera perang diambil alih Ja’far bin Abu Thalib, kemudian ia bertempur hingga gugur sebagai syahid’. Rasulullah diam hingga wajah orang-orang Anshar berubah dan menyangka telah terjadi sesuatu yang tidak mereka sukai pada Abdullah bin Rawahah. Rasulullah bersabda lagi, ‘Kemudian bendera perang diambil alih Abdullah bin Rawahah, lalu ia bertempur hingga gugur sebagai syahid’. Rasulullah bersabda lagi, ‘Dalam mimpiku, aku lihat mereka di Surga diangkat kepadaku di atas singgasana dari emas. Aku lihat singgasana Abdullah bin Rawahah miring dari singgasana dua sahabatnya. Aku bertanya, ‘Kenapa singgasana Abdullah bin Rawahah miring?’ Dikatakan kepadaku, ‘Zaid bin Haritsah dan Ja’far bin Abu Thalib bertempur tanpa ragu, sedang Abdullah bin Rawahah agak ragu-ragu, kemudian ia bertempur’.” 

Setelah Khalid bin Walid berhasil mundur, ia pulang ke Madinah bersama pasukan Islam. 

“Ketika pasukan Islam mendekati Madinah, mereka disambut Rasulullah, kaum muslimin, dan anak-anak yang berlari-lari. Rasulullah datang ke tempat tersebut dengan mengendarai kuda bersama kaum muslim. Beliau bersabda, ‘Ambillah anak-anak, bawa mereka, dan berikan kepadaku anak Ja’far’. Abdullah bin Ja’far dibawa kepada Rasulullah, kemudian beliau mengambilnya dan membawanya di depan. Kaum muslimin menaburkan tanah di depan pasukan Islam sambil berka-ta, ‘Hai orang-orang yang lari, kalian lari dari medan jihad fi sabilillah’, Rasulullah bersabda, ‘Mereka tidak melarikan diri, namun mereka lari untuk kembali (mengatur siasat), insya Allah’.” 

“Di antara syair-syair duka cita terhadap syuhada Perang Mu’tah adalah syair Hassan bin Tsabit RA. Ia berkata, 
‘Malam yang sulit silih berganti datang kepadaku 
Duka lara datang kepadaku jika manusia tidak bisa tidur 
Ingat kekasih membuatku mengalirkan air mata dengan deras 
Setiap kali aku ingat mereka, aku menangis 
Ketahuilah, sesungguhnya kehilangan orang tercinta adalah musibah 
Betapa banyak orang diuji, kemudian bersabar 
Kulihat orang-orang pilihan kaum Mukminin gugur secara bergantian 
Satu orang disusul orang lain 
Allah tidak menjauhkan para korban yang meninggal secara bergantian 
Di Mu’tah, di antaranya pemilik dua sayap, Ja’far, 
Zaid, dan Abdullah yang meninggal secara beruntun 
Ketika sebab-sebab kematian datang di suatu pagi 
Mereka berjalan dan menuntun kaum Mukminin 
Kepada kematian dengan senang hati dan cerah 
Ia lebih putih daripada bulan purnama dan berasal dari keturunan Hasyim 
Ia pantang menyerah dan pemberani jika menghadapi kezhaliman 
Ia menikam hingga jatuh tanpa bantal 
Di medan perang karena terkena tombak yang mematikan 
Ia pun bersama para syuhada’ 
Pahalanya adalah Surga dan taman-taman hijau 
Kami lihat Ja’far menempati janji Muhammad dan tegas dalam menyuruh 
Islam selalu mempunyai pilar-pilar tangguh dari Bani Hasyim 
Dan itu akan selalu menjadi kebanggaan 
Mereka laksana gunung Islam 
Sedang manusia rendah di sekitar mereka 
Di antara tokoh-tokoh mereka adalah Ja’far, saudaranya yaitu Ali 
Ahmad yang terpilih manjadi nabi 
Hamzah, Abbas, dan Aqil 
Dengan mereka semua, segala kesulitan di masa-masa sulit menjadi hilang 
Jika manusia mendapatkan kesukaran 
Mereka adalah wali-wali Allah dimana Allah menurunkan hukumNya kepada mereka. 
Dan pada mereka ada kitab yang suci ini.” 

NOTE: 

- Mu'tah adalah nama sebuah kampung di wilayah Balqaa' Syam

Perjalanan

Share |
Saudariku tampak pucat dan kurus. Namun sebagaimana kebiasaannya, ia tetap membaca Al-Qur'an... Jika engkau mencarinya, pasti akan mendapatinya di tempat shalatnya, sedang rukuk, sujud dan mengangkat kedua tangannya ke atas langit... Demikianlah setiap pagi dan petang, juga di tengah malam buta, tak pernah berhenti dan tak pernah merasa bosan.
Sementara aku amat gemar membaca majalah-majalah seni dan buku-buku yang berisi cerita-cerita. Saya juga biasa menonton video, sampai aku dikenal sebagai orang yang keranjingan nonton. Orang yang banyak melakukan satu hal, pasti akan ditandai dengan perbuatan itu. Aku tidak menjalankan kewajibanku dengan sempurna. Aku juga bukan orang yang melakukan shalat dengan rutin.
Akupun kembali ke pembaringanku. Wanita itu memanggilku dari arah mushallanya. Apa yang engkau inginkan wahai Nurah?" Tanyaku. Dengan suara tajam saudariku itu berkata kepadaku: "Janganlah engkau tidur sebelum engkau menunaikan shalat Shubuh!

"Ah. Masih tersisa satu jam lagi, yang engkau dengar tadi itu baru adzan pertama..."

Dengan suaranya yang penuh kasih –demikianlah sikapnya selalu sebelum terserang penyakit parah dan jatuh terbaring di atas kasurnya- saudariku itu kembali memanggil: "Mari sini Hanna, duduklah di sisiku." Sungguh aku sama sekali tidak dapat menolak permintaannya, yang menunjukkan karakter asli dan kejujurannya... Tidak diragukan lagi, dengan pasrah, kupenuhi panggilannya.

"Apa yang engkau inginkan?" Tanyaku, "Duduklah." Ujarnya. Akupun duduk. "Apa gerangan yang akan engkau utarakan?" Dengan suara renyah dan merdu, ia berkata: "Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:
 "Masing-masing jiwa akan mati. Sesungguhnya kalian hanya akan dipenuhi ganjaran kalian di hari Kiamat nanti..."(Ali Imran: 185)

Dia diam sesaat. Kemudian bertanya kepadaku: Apakah engkau percaya pada kematian?" "Tentu saja aku percaya." Jawabku. "Apakah engkau percaya bahwa engkau akan dihisab terhadap perbuatan dosa besar maupun kecil...?" "Benar. Tetapi Allah itu Maha Pengampun, dan umur itu juga panjang..."Jawabku.

"Hai saudariku! Tidakkah engkau takut akan mati mendadak? Lihatlah si Hindun yang lebih kecil darimu. Ia tewas dalam kecelakaan mobil. Juga si Fulanah dan si Fulanah." Ujarnya. "Kematian tidak mengenal umur, dan tidak dapat diukur dengan umur.." Ujarnya lagi.

Dengan suara ngeri aku menjawab ucapannya di tengah ruang mushallanya yang gelap: "Sesungguhnya aku takut dengan kegelapan, sekarang engkau malah menakut-nakuti­ku dengan kematian, bagaimana sekarang aku bisa tidur? Aku kira sebelumnya, engkau bersedia untuk bepergian ber­samaku dalam liburan ini."

Tiba-tiba suaranya terisak dan hatikupun terenyuh: "Ke­mungkinan, pada tahun ini aku akan bepergian jauh, kenegeri lain ... Kemungkinan wahai Hanna ... Umur itu di tangan Allah... Dan meledaktah tangisnya.

Aku merenung ketika ia terserang penyakit ganas. Para dokter secara berbisik memberitahukan kepada ayahku bahwa penyakitnya itu tidak akan membuatnya bertahan hidup lama. Tetapi siapa gerangan yang memberitahukan hal itu kepadanya? Atau ia memang sudah menanti-nantikan kejadian ini?

"Apa yang sedang engkau fikirkan?" Terdengar suaranya, kali ini begitu keras. "Apakah engkau meyakini bahwa aku menyatakan hal itu karena aku sedang sakit? Tidak sama sekali. Bahkan mungkin umurku bisa lebih panjang dari orang-orang yang sehat. Dan engkau sampai kapan masih bisa hidup? Mungkin dua puluh tahun lagi. Mungkin juga empat puluh tahun lagi. Kemudian apa yang terjadi?" Ta­ngannya tampak bersinar di tengah kegelapan, dan dihentak­kan dengan keras.

Tak ada perbedaan antara kita semua. Masing-masing kita pasti akan pergi meninggalkan dunia ini; menuju Surga atau Neraka ... Tidakkah engkau menyimak firman Allah:
 "Barangsiapa dijauhkan dari Neraka dan dimasukkan ke dalam Surga maka sungguh ia telah beruntung?" (Ali Imran: 185)

Semoga Pagi ini engkau baik-baik saja ..

Dengan bergegas aku berjalan meninggalkannya, semen­tara suaranya mengetuk telingaku: "Semoga Allah memberi petunjuk kepadamu. Jangan lupa shalat."

Jam delapan pagi, aku mendengar ketukan pintu. Ini bukan waktu kebiasaanku untuk bangun. Terdengar suara tangis dan hiruk pikuk ... Apa yang terjadi?

Kondisi Nurah semakin parah. Ayahku segera membawa­nya ke rumah sakit.Inna Lillahi wa Inna Ilaihi raaji'un.

Tidak ada tamasya pada tahun ini. Sudah ditakdirkan aku untuk tinggal di rumah saja tahun ini. Pada jam satu waktu Zhuhur, ayahku menelepon dari rumah sakit: "Kalian bisa menjenguknya sekarang, ayo lekas!"

Ibuku memberitahukan, bahwa ucapan ayahku terdengar gelisah dan suaranya juga terdengar berubah ... Jubah pan­jangku kini sudah berada di tanganku ..

Mana sopirnya? Kamipun naik mobil dengan tergesa-­gesa. Mana jalan yang biasa kulalui bersama sopirku untuk bertamasya yang biasanya terasa pendek? Kenapa sekarang terasa jauh sekali..., jauuuh sekali?! Mana lagi keramaian yang menyenangkan diriku agar aku bisa menengok ke kiri dan ke kanan? Kenapa sekarang terasa menyebalkan dan menyusahkan?

Ibuku berada di sampingku sedang mendoakan saudariku tersebut. Ia adalah wanita yang shalihah dan taat. Aku tidak pernah melihatnya menyia-nyiakan waktu sedikitpun ...

Kami masuk melewati pintu luar rumah sakit... Terdengar suara orang sakit mengaduh. Ada lagi orang yang tertimpa musibah kecelakaan mobil. Ada pula orang yang kedua matanya bolong... Tak diketahui lagi, apakah ia masih pen­juduk dunia, atau penduduk akhirat? Sungguh pemandangan yang mengherankan yang belum pernah kusaksikan sebelumnya ...

Kami menaiki tangga dengan cepat... Ternyata dia berada di dalam kamar gawat darurat. Saya akan mengantar kalian kepadanya... Perawat meneruskan perkataannya bahwa ia seorang putri yang baik sekali, dan dia menenangkan Ibuku:
"Sesungguhnya dia dalam keadaan baik setelah tadi menga­lami pingsan ... ".

"Dilarang masuk lebih dari satu orang", demikian tertulis. "Ini kamar gawat darurat."

Melalui sela-sela beberapa orang dokter dan melalui celah-celah jendela kecil yang terdapat di kamar tersebut, aku melihat dengan kedua mata kepalaku sendiri saudariku Nurah sedang memandang ke arahku, sementara ibu berdiri di sampingnya ... Setelah dua menit kemudian, ibuku keluar tanpa bisa menahan air matanya ..

Mereka mengizinkanku masuk dan memberi salam kepa­danya, dengan syarat, tidak boleh banyak berbicara kepada­nya. "Dua menit, sudah cukup untuk saudari."

"Bagaimana kabarmu wahai Nurah?" tanyaku. Kemarin sore engkau baik-baik saja, apa yang terjadi pada dirimu?! Dia menjawabku setelah terlebih dahulu menekan tanganku. "Alhamdulilllah, aku sekarang baik-baik saja..." Ujarnya lagi. "Alhamdulillah ... tetapi tanganmu dingin?" Tanyaku ..

Aku duduk di sisi pembaringannya sambil mengelus-elus betisnya. Namun ia menyingkirkan betisnya dariku ... "Maaf, kalau aku mengganggumu ... Oh tidak, aku hanya sedang memikirkan firman Allah Subhanahu wa ta'ala:
"Dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan), kepada Rabbmulah pada hari itu kamu dihalau .. " (Al-Qiyaamah: 29-30)

Hendaknya engkau mendoakanku wahai saudariku Hanna, bisa jadi sebentar lagi aku akan menghadapi permu­laan alam Akhirat. .. Perjalananku akan panjang, sementara bekalku amat sedikit ...

Air mataku kontan berderai dari kedua belah mataku begitu aku mendengar ucapannya. Aku menangis, tidak lagi sadar di mana aku berada. Kedua mataku terus mengalirkan air mata karena tangisan, sehingga ayahku justru lebih mengkhawatirkan kondisiku daripada Nurah sendiri. Mereka sama sekali tidak terbiasa mendengar tangisan ini dan mengurung diri di kamarku ..

Seiring tenggelamnya matahari, di hari yang penuh ke­dukaan... Muncullah keheningan panjang di rumah kami... Tiba-tiba masuklah saudari sepupu dari pihak ibuku dan saudari sepupu dari pihak ayahku.

Kejadian-kejadian yang sangat cepat... Orang-orang ba­nyak berdatangan. Suara-suara ributpun terdengar bersa­hutan. Hanya satu yang aku ketahui: Nurah telah meninggal dunia

Aku tidak dapat lagi membedakan siapa yang datang. Akujuga tidak mengetahui lagi apa yang mereka ucapkan ....

Ya Allah. Di mana aku, dan apa yang sedang terjadi? Menangis pun, aku sudah tidak sanggup lagi.

Setelah itu mereka memberitahuku bahwa ayahku mena­rik tanganku untuk mengucapkan selamat tinggal kepada saudariku, untuk terakhir kalinya. Aku juga sempat menci­umnya. Aku hanya ingat satu hal: ketika aku melihatnya ditutupkan, di atas pembaringan maut. Aku ingat akan kata-­katanya: "Ketika betis-betis bertautan," akupun mengerti, bahwa: "semuanya tergiring menuju Rabbmu .. "

Aku tidak ingat lagi bahwa aku pernah mengunjungi mushallanya, kecuali pada malam itu saja ... Yakni ketika aku teringat, siapa yang menjadi pasanganku di rahim ibuku. Karena kami adalah dua anak kembar. Aku ingat, siapa yang selalu menemaniku dalam kedukaan. Aku ingat, siapa yang selalu menghilangkan kegundahanku. Siapa pula yang mendoakan diriku untuk mendapatkan petunjuk? Siapa pula yang berlinang air matanya sepanjang malam, ketika ia mengajakku berbicara tentang kematian, dan tentang hari hisab. Allah-lah yang menjadi tempat memohon pertolong­an.

Inilah hari pertamanya di alam kubur. Ya Allah, berikan­lah rahmat kepadanya di dalam kuburnya. Ya Allah berilah dia cahaya di dalam kuburnya.

Ini dia mushaf Al-Qur'annya, dan ini sajadahnya. Ini, ini dan ini lagi. Bahkan ini, ini adalah rok merahnya yang per­nah dia nyatakan: akan kusimpan, untuk hari pernikahanku nanti!!

Aku juga ingat, dan akupun menangisi hari-hari yang telah berlalu itu. Aku terus saja menangis dan menangis berkepanjangan. Aku berdoa kepada Allah, agar memberi rahmatNya kepadaku, memberi taubat dan mengampuni diriku. Aku juga berdoa semoga saudariku itu mendapatkan keteguhan dalam kuburnya, sebagaimana juga yang sering menjadi doanya.

Secara tiba-tiba, aku bertanya kepada diriku sendiri: Bagaimana bila yang meninggal dunia adalah diriku? Ke mana kira-kira tempat kembaliku? Aku tidak mampu men­cari jawaban karena besarnya rasa takut yang mencekam diriku. Meledaklah tangisku dengan keras ...


Allahu Akbar
, Allahu Akbar. Adzan Shubuh pun berku­mandang. Namun betapa merdunya terdengar kali ini.

Aku merasakan ketenangan dan ketentraman. Akupun mengulangi apa yang diucapkan oleh sang muadzin. Aku melipat selimutku dan berdiri tegak untuk melaksanakan shalat Shubuh. Aku shalat, bagaikan orang yang melakukan­nya untuk terakhir kali, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh saudariku dahulu. Dan ternyata, itu memang shalatnya yang terakhir.

Bila datang waktu sore, aku tidak lagi menunggu waktu pagi. Dan bila datang waktu pagi, aku tidak lagi menunggu waktu sore ...


Sumber: 
Az-Zaman Al-Qaadim