Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

Selasa, 25 Januari 2011

Nuruddin Mahmud Zanki (511-569 H) bag.1

Share |
Dia penguasa Syam, Raja yang adil, Nuruddin (Cahaya Agama), Nashir (Pembela), Amirul Mukminin, Raja yang bertaqwa, Singa Islam, Abul Qasim Mahmud bin Atabik Qasim ad-Daulah Abu Sa’id Imaduddin Zanki bin Al-Amir Al-Kabir Aqsanqir At-Turki As-Sulthani Al-Milkasyahi.

Ibnu Katsir Rohimahullah berkata: “Ia dilahirkan saat terbit matahari, hari Ahad, 17 Syawwal, tahun 511 H, di Halb. Ia tumbuh dalam pemeliharaan ayahnya, penguasa Halb, Maushul dan banyak negeri lainnya.
Ia belajar Al-Qur’an, berkuda, dan memanah. Ia seorang pemanah yang jitu, pemberani, mempunyai kemauan yang tinggi, niat yang baik, kehormatan yang melimpah, dan agama yang jelas”.

Pria ini muncul pada saat yang genting dalam sejarah umat Islam. Sebab umat Islam pada saat itu menghadapi perpecahan, kerusakan, dikuasai para musuh, dan cara ibadah baru yang tersebar dimana-mana.

Para penguasa atau raja pada saat itu masing-masing menguasai negeri-negeri kecil, yang satu sama lain terjadi perpacahan, persaingan, dan perseteruan. Kaum salibisme menumbuhsuburkan kerusakan di negeri Syam, setelah mereka menguasai sejumlah benteng dan kota. Sementara ubudiyah kaum Bathiniyah (kebatinan) menguasai Mesir; maka berkibarlah panji bid’ah dan turunlah panji Sunnah. Suatu keadaan yang membutuhkan – bahkan sangat membutuhkan - seorang tokoh yang dapat menyatukan kalimat umat, menghimpun yang terserak, dan mengusir para musuh darinya.

Maka muncullah Nuruddin sebagai pahlawan Perang Salib yang paling cemerlang, yang kecemerlangannya tertoreh pada perang tersebut. Namanya telah diabadikan. Dialah penyulut “api” agama dalam kegelapan dan kelemahan serta mengalahkan kaum salibisme. Pedang tajamnya telah menyambar-nyambar sejak ia masih baru ranum. Ia tidak memasukkan pedang itu ke dalam sarungnya hingga ia didatangi kematian dan setelah matanya terasa sejuk dengan bersinarnya bintang muridnya, Shalahuddin Al Ayubi, ketika Si murid meneruskan dan mengambil alih jejak yang dirintis oleh sang Syahid (insyaallah).

Salah satu dorongan kuat untuk mempelajari biografi tokoh ini –maksudnya Nuruddin- ialah kesamaan kondisi sosial yang memprihatinkan yang dialami umat Islam kala itu dengan kondisi sosial yang kita alami sekarang ini. Sejarah itu akan kembali dengan sendirinya. Maka membicarakan biografinya adalah agar dapat mengambil manfaat dari semangat masa lalu untuk solusi masa kini.

SIFAT-SIFATNYA
Allah telah menghimpun sesuatu yang sangat banyak dalam diri Nu­ruddin. Allah telah memberikan kecerdasan dan kejeniusan kepadanya, yang membuat dirinya menempati kedudukan yang tinggi tersebut dalam sejarah umat Islam. Di antara sifat-sifat Nuruddin adalah sebagai berikut:

Ketakwaan dan Keshalihan.
Nuruddin adalah seorang yang bertakwa, shalih, wara', zahid, takut kepada Allah Subhanahu wa ta'ala, giat beribadah, membaca wirid-wirid, melakukan qiya­mul lail, banyak merendahkan diri kepada Allah, berdoa, dan kembali (bertaubat) kepada Allah Subhanahu wa ta'ala.

Ibnu Atsir berkata, membicarakan tentang sifat-sifat Nuruddin: ”Diantara sifat-sifatnya ialah zuhudnya, ibadahnya, dan ilmunya. Ia tidak makan, tidak berpakaian, dan tidak beramal kecuali dengan milik priba­dinya yang ia beli dari bagian rampasan perang untuknya dan dari harta yang tersedia untuk kemaslahatan kaum muslimin.”

Pernah istrinya mengaduh kepadanya karena kesulitan, maka ia memberikan kepadanya tiga kedai di Hims yang menghasilkan dalam setahun sekitar 20 dinar. Ketika istrinya merasa kurang, Nuruddin mengatakan, “Aku tidak punya selain ini, dan seluruh yang ada di tanganku adalah perbendahara­an umat Islam. Aku tidak mau tenggelam dalam Neraka Jahanam karenamu.”
Ia banyak melaksanakan shalat malam, dan memiliki wirid-wirid yang bagus. Ia, sebagaimana dikatakan:
Ia menghimpun dalam dirinya: keberanian dan kekhusyuan kepada  Tuhannya
Betapa indahnya seorang yang banyak berperang berada dalam mihrab.
Demikian pula istrinya, ‘Ashamat Ad-Din Khatun binti Al-Atabik, banyak melaksanakan shalat malam. Pernah suatu malam ia tertidur se­hingga tidak sempat membaca wirid (Al-Qur'annya) yang biasa dilaku­kannya. Maka pagi-pagi ia dalam keadaan marah. Nuruddin bertanya pe­rihal kemarahannya, lalu Si istri mengatakan tentang tidurnya yang keba­blasan sehingga tidak sempat membaca wirid yang biasa dibaca. Sejak saat itu Nuruddin memerintahkan (bawahannya) supaya memukul genderang di dalam benteng pada waktu menjelang pagi untuk memba­ngunkan orang yang tidur pada saat itu untuk melaksanakan qiyamullail (shalat malam), dan memberikan hadiah yang besar kepada pemukul genderang tersebut.

Ahli fikih (faqih) di Baghdad, Abul Fath Al-Asyri mu’id Nidhamiyyah, ia telah menghimpun biografi singkat Nuruddin, berkata: "Nuruddin memelihara shalat tepat pada waktunya secara berjamaah, dengan menyempurnakan segala syaratnya, melaksanakan segala rukun­nya, dan thuma'ninah dalam ruku' dan sujudnya. Ia banyak melaksanakan shalat malam, banyak berdoa dan meren­dahkan diri kepada Allah Subhanahu wa ta'ala dalam segala urusannya." Ia melanjutkan: “Telah sampai berita kepadaku dari segolongan kaum sufi yang dapat dipercaya ucapannya, bahwa mereka pernah masuk Al-Quds untuk berkunjung pada hari pengambilalihan Al-Quds, lalu mereka mendengar orang-orang berkata, "Qasim bin Qasim (maksudnya Nuruddin) mempunyai rahasia bersama Allah. Ia tidak mengalahkan ka­mi karena tentaranya yang banyak, melainkan ia dapat mengalahkan kami berkat doa dan shalat malam. Ia shalat malam, mengangkat tangan­nya kepada Allah, dan berdoa kepada-Nya lalu Allah mengabulkan doa­ dan permintaannya sehingga ia dapat mengalahkan kami."
Ia berkata, “Ini adalah pengakuan orang-orang kafir terhadapnya.”

Ibnu Katsir rohimahullah berkata: "Dia bagus tulisannya, banyak membaca bu­ku-buku agama serta mengikuti sunnah Nabi, memelihara shalat berjama­ah, banyak membaca Al-Qur'an, senang mengerjakan kebajikan, meme­lihara perut dan kemaluan, ekonomis dalam berbelanja makanan dan pa­kaian untuk dirinya dan keluarganya, sehingga dikatakan bahwa ia orang paling fakir pada masanya. Ia lebih banyak mengeluarkan nafkah, tidak menimbun harta dan tidak mementingkan dunia.
Tidak pernah terdengar darinya sebuah kata keji pun, baik ketika sedang marah maupun ketika tidak marah, banyak diam dan bersikap tenang.”

Imam Adz-Dzahabi rohimahullah berkata, "Nuruddin baik tulisannya, banyak membaca, shalat berjamaah, berpuasa, membaca Al-Qur'an, bertasbih, hati-hati dalam makanan, menjauhi dosa-dosa besar, meniru-niru para ulama dan orang-orang pilihan. Semua ini dan sejenisnya telah disebut­kan oleh Ibnu Asakir.”

Al-Muwaffiq Abdul Latif berkata, "Ia makan dari hasil kerjanya sendiri. Kadangkala menulis dan kadangkala membuat alat pembungkus memakai wol, senantiasa dekat dengan sajadah dan mushaf.”

Sabth bin Al-Jauzi berkata, “Ia memiliki beberapa pohon kurma. Ia memintal benang dan membuat manisan, lalu menjualnya secara sembunyi-sembunyi dan memakan dari hasil penjualannya."
Ia juga menuturkan, "Najmuddin bin Salam bercerita kepadaku dari ayahnya bahwa tatkala bangsa Eropa memasuki Dimyath, Nuruddin se­lama 20 hari berpuasa dan tidak berbuka kecuali dengan air sehingga tubuhnya lemah dan nyaris binasa. Ia sangat berwibawa sehingga tidak seorang pun yang berani berbicara dengannya mengenai hal itu."

Pemimpin spiritualnya, Yahya, pernah mengatakan bahwa ia pernah melihat Nabi Shalallahu 'alaihi wasallam dalam mimpinya. Dalam mimpinya, Nabi berkata kepa­danya, "Wahai Yahya, berikan kabar gembira kepada Nuruddin menge­nai hengkangnya bangsa Eropa dari Dimyath."
Maka aku berkata, "Wahai Rasulullah, mungkin ia tidak akan mempercayaiku." Nabi berkata, "Katakan kepadanya bahwa tandanya adalah perang Harim."

Yahya terbangun. Ketika Nuruddin usai melaksanakan shalat Shu­buh, ia segera memanggil Yahya yang segera menghampirinya. Nuruddin berkata kepadanya, "Wahai Yahya, engkau bercerita kepadaku atau aku bercerita kepadamu."

Mendengar hal itu Yahya kaget dan tertegun, lalu berkata, "Aku akan bercerita kepadamu: Aku melihat Nabi Shalallahu 'alaihi wasallam tadi malam (dalam mimpi), dan beliau berkata untukmu demikian dan demikian."

"Betul demikian," kata Nuruddin menimpali. Yahya berkata, "Demi Allah, wahai Tuanku, apa arti perkataan Nabi bahwa tandanya adalah perang Harim?" Nuruddin menjawab, "Ketika kami bertemu musuh, aku mengkhawatirkan Islam, maka aku menyendiri, memisahkan diri dan melumuri wajahku dengan tanah seraya aku berkata, "Wahai Tuhanku dari Mahmud yang sedang gundah gulana. Agama ini adalah agama-Mu tentara ini adalah tentara-Mu, dan hari ini aku melakukan apa yang selaras dengan karamah-Mu."
Yahya berkata, "Akhirnya Allah memenangkan kami atas mereka."

Keadilannya.
Nuruddin adalah seorang yang adil dan memperhatikan keadilan da­lam segala urusannya, sehingga ia menjadi peribahasa dalam keadilan bahkan ia dinamakan dengan Raja Adil.

Ibnu Atsir berkata, "Sungguh ia telah menutupi bumi dengan biogra­finya yang indah dan keadilannya. Aku telah membaca biografi para raja, namun aku tidak melihat, sesudah Khulafa'ur Rasyidin dan Umar bin Abdul Aziz, yang lebih baik daripada biografinya dan tidak ada yang lebih memperhatikan keadilan daripadanya.”

Ibnu Atsir juga mengatakan, "Adapun keadilannya ialah ia tidak per­nah membiarkan pungutan (pajak) dan kesulitan dalam negerinya sekuat tenaganya, tetapi membebaskan  semua pungutan itu di Mesir, Syam, Aljazirah dan Maushin.

Ia sangat mengagungkan syariat dan memperhatikan hukum-hukum syariat tersebut.
Pernah ada seseorang yang menghadirkannya ke pengadilan, maka ia pun berangkat bersamanya menuju ke pengadilan tersebut. Ia menulis su­rat kepada hakim, Kamaluddin bin Asy-Syahrzuri, berisi pernyataan, 'Aku datang sebagai terdakwa; perlakukanlah aku sebagaimana engkau memperlakukan penuntut itu.’ Ternyata hak itu milik beliau, akan tetapi beliau memberikannya kepada Si penuntut yang menghadirkannya, seraya ber­kata, 'Aku ingin membiarkan apa yang diklaimnya, tapi aku khawatir yang mendorongku untuk melakukan itu adalah kesombongan dan tidak mau datang ke pengadilan Syariah. Maka aku datang, kemudian aku memberikan apa yang diklaimnya.

Ia membangun forum keadilan (Dar Al-'Adl) di negerinya. Ia duduk bersama hakim di sana untuk melayani orang yang dizhalimi, sekalipun ia seorang Yahudi, dari orang yang berbuat zhalim, sekalipun ia putranya atau menterinya yang paling berpengaruh.”

Ia juga berkata dalam bukunya, At-Tarikh Al-Bahir,”Ia mengetahui fiqih menurut Madzhab Imam Abu Hanifah. Ia tidak memiliki sifat fana­tik dalam madzhab, tetapi sikap moderat itulah yang menjadi tabiatnya dalam segala sesuatu.”

Adz-Dzahabi berkata, "Penguasa Syam, seorang Raja yang adil, dia­lah Nuruddin.” Ia juga berkata, "Adalah Nuruddin pembawa dua panji: keadilan dan jihad. Jarang sekali mata melihat orang sepertinya.”

Ibnu Katsir rohimahullah berkata, "Ia melaksanakan pemerintahannya dengan keadilan yang mempesona, mengikuti syariat yang suci, menyelenggarakan berbagai forum keadilan dan memimpinnya sendiri, dan bergabung di dalamnya itu hakim, ahli fiqih dan mufti dari berbagai madzhab.

Pada hari Selasa, ia duduk di masjid yang memiliki serambi agar setiap orang dari kaum muslimin dan ahli dzimmah mudah menemuinya, sehingga ia dapat menyamakan mereka.

Kecemburuan yang Sejati.
Ia memiliki ghirah (kecemburuan) yang sejati terhadap agama Allah dan terhadap kehormatan kaum muslimin. Kedua matanya terbelalak melihat keadaan umat Islam yang begitu memprihatinkan dan kekalahan mereka yang bertubi-tubi. Semua itu sangat menyakitkannya.

Yang perlu diingat dalam pembahasan ini ialah bahwa Nuruddin sa­ngat sedikit tertawa. Ketika pemimpin spiritualnya menasehatinya bahwa tersenyum termasuk wasiat kenabian, maka Nuruddin berkata kepadanya, "Jangan engkau mencela aku, wahai Syaikh! Bagaimana mungkin aku bisa tersenyum sementara ribuan muslimat ditawan kaum kafir yang biadab dan tidak mengenal belas kasih?”
“Dan bagaimana saya bisa tersenyum sementara Masjid Al-Aqsha dikotori oleh musuh”

Cita-cita Luhur
Dia memiliki cita-cita yang luhur dan jiwa yang berambisi besar.
Sekalipun dia tumbuh pada saat dia menyaksikan kelemahan, perpecahan dan kehinaan yang menimpa umat Islam, namun semua itu tidak mema­tahkan semangatnya dan tidak meredupkan tekadnya, bahkan semua itu mendorongnya untuk berusaha menghilangkan bencana tersebut dari umat ini dan berusaha mengembalikan kejayaan serta kemuliaan yang te­lah dirampas darinya.

Cita-cita, dambaan, dan kesibukannya  yang paling utama adalah membebaskan  baitul Maqdis dan mensucikannya dari kotoran salib.
Salah satu yang menunjukkan ketinggian cita dan kebesaran jiwanya adalah bahwasanya tatkala ia berada di Halb, saat kaum salibis mendu­duki dan menguasi Baitul Maqdis, ia membuat mimbar besar dan mem­perelok serta mengokohkannya. Ia berkata, "Ini kami buat untuk diletak­kan di Baitul Maqdis."

Orang-orang pada saat itu mentertawakannya dan menganggapnya tidak mungkin dapat merealisasikan cita-cita tersebut. Tetapi ia tidak memperdulikan hal itu dan tetap memperbaiki mimbar tersebut. Keadaan yang menimpanya tidak ubahnya dengan keadaan yang dialami Nabi Nuh 'Alaihi wa sallam ketika beliau membuat perahu, dan setiap pembesar kaumnya melewatinya selalu menertawakannya.

Dengan membuat mimbar ini, Nuruddin bermaksud untuk membang­kitkan ruh dan semangat serta menghilangkan keputus-asaan yang meng­gelayuli banyak hati umat Islam.
Ternyata Allah mewujudkan cita-citanya tersebut, maka terbebaslah Baitul Maqdis, dan mimbar dapat diletakkan di sana melalui tangan mu­ridnya, Shalahuddin Al-Ayyubi, dan itu terjadi setelah kematian Nurud­din, semoga Allah merahmatinya.

Ibnu Atsir berkata, setelah berbicara tentang Baitul Maqdis: "Ketika pada hari Jum'at yang lainnya, 4 Sya'ban, kaum muslimin shalat Jum'at di dalamnya. Bersama mereka ada Shalahuddin, ia shalat di Qubbatush Shakhrah, sementara khatib dan imam adalah Muhyiddin bin Az-Zaki, qadhi Damaskus.

Kemudian Shalahuddin menggaji khatib dan imam shalat lima waktu secara resmi dan memerintahkan untuk membuatkan mimbar untuknya. Maka dikatakan kepadanya, "Sesungguhnya Nuruddin Mahmud telah membuat mimbar di Halb, ia telah menyuruh pembuat mimbar tersebut supaya lebih membaguskannya dan mengokohkannya. Beliau berkata saat itu: ‘Ini kami buat untuk dipajang di Baitul Maqdis’”. Para tukang kayu membuat mimbar tersebut selama beberapa tahun yang belum pernah dibuat dalam Islam sepertinya. Kemudian ia memerintahkan agar membawa mimbar tersebut, lalu mimbar tersebut diusung dari Halb dan dipasang di Baitul Maqdis.
Rentang waktu antara pembuatan mimbar dan pengusungannya seki­tar 20 tahun, dan ini adalah salah satu karamah Nuruddin dan niatnya yang baik.

Keberanian yang Tiada Tara
Ibnu Atsir berkata, "Adapun keberaniannya, sungguh tiada taranya.”
“Dalam peperangan ia hanya membawa dua busur dan dua wadah anak panah sebagai senjata dalam berperang."

Al-Quthub An-Naisaburi, seorang faqih, pernah berkata (kepada Nuruddin), "Demi Allah, Anda jangan gadaikan nyawamu dan Islam. Jika Anda gugur dalam peperangan, maka tidak seorang pun kaum muslimin yang tersisa pasti akan terpenggal oleh pedang."

Nuruddin menjawab, "Siapa Mahmud itu, sehingga ia dikatakan de­mikian? Mudah-mudahan karena (kematian)ku, Allah memelihara negeri ini dan Islam, itulah Allah yang tiada Tuhan yang berhak disembah de­ngan hak melainkan Dia.

Ibnu Qasim Al-Hamawi menyifati keberaniannya:
Keberaniannya nampak dalam keceriaan wajahnya
seperli tombak, kelemahlembutannya menunjukkan kekerasan
Dibalik ketegasannya ada kesantunan yang terlatih
Karena Allahlah kekerasan dan kelembutannya.
Adz-Dzahabi berkata, "Ia adalah pahlawan pemberani, sangat berwi­bawa, pemanah jitu, berbadan tegap, banyak beribadah, memiliki rasa takut dan wara' (takut terhadap dosa), serta menginginkan syahadah (mati syahid).

Sekretarisnya, Abul Yasr, pernah mendengar dia memohon kepada Allah agar dibangkitkan dari perut binatang buas dan paruh burung.

Adz-Dzhahabi berkata, "Ibnu Washil berkata: 'Ia adalah orang yang paling kuat, baik hati maupun fisiknya, dan tidak pernah terlihat seorangpun yang lebih hebat di atas kuda daripadanya, seolah-olah ia adalah daging yang tercipta di atas punggung kuda yang tidak bergerak (ko­koh).’"

Adz-Dzahabi berkata, "Ia pernah mengatakan, 'Sekian lama aku mencari syahadah tetapi tidak aku dapatkan.' Saya berkata, ‘Ia telah mendapatkannya di atas pembaringannya, dan berdasarkan pengakuan manusia: Nuruddin Asy-Syahid.’”

Keberaniannya nampak jelas dalam berbagai peperangan dan berba­gai futuh (pembebasan negeri) yang dilakukannya, yang keberaniannya bisa dibilang sangat langka.
Keberaniannya nampak juga dari pencariannya untuk meraih syaha­dah dan keinginannya untuk mendapatkan syahadah tersebut.

Sekalipun demikian, ternyata Nuruddin rahimahullah meninggal di atas pembaringannya akibat penyakit penyempitan tenggorokan yang menimpa­nya, yaitu pada tahun 569 H.

Rasa  cinta Si pengecut  terhadap dirinya membawanya kepada ketakutan
Sedang rasa cinta pemberani terhadap dirinya membawanya kepada peperangan.

Sebentar lagi akan disebutkan tentang keberaniannya, melalui syair­-syair yang dipersembahkan para penyair untuknya


Kehebatan dan Kerendahan Hatinya
Ia adalah orang yang sangat hebat (sangat berwibawa dan ditakuti), dan dalam waktu yang sama ia juga orang yang sangat rendah hati serta lemah lembut dalam pergaulan, dan memang demikianlah semestinya akhlak para pembesar.

Dia sudah masyhur dengan sifat-sifat tersebut. Ibnul Atsir berkata. "Ia seorang yang sangat hebat sekaligus rendah hati. Secara global, kebaikannya sangat banyak, dan sifat-sifatnya sangat banyak yang tidak mungkin dapat dicakup seluruhnya dalam buku ini.

Adz-Dzahabi menuturkan dari Ibnu Asakir, "Orang yang melihatnya akan menyaksikan kebesaran seorang raja, dan kehebatannya tidak ada yang menandinginya. Jika seorang bercakap-cakap dengannya, ia akan melihat kelembutannya yang mencengangkan. Dikisahkan dari para saha­batnya, baik yang datang maupun yang pergi, bahwasanya dia tidak per­nah mendengar darinya satu kata keji pun, baik dikala ridha maupun se­dang marah."

Ibnu Katsir berkata, "Ia adalah orang yang sangat hebat, berwibawa dan sangat disegani oleh para amir (gubernur). Tidak ada seorang pun yang berani duduk di hadapannya kecuali dengan izinnya. Dan tidak ada seorang amir pun yang dapat duduk tanpa izinnya, selain Amir Naj­muddin Ayyub. Adapun Asaduddin Sirkuh dan Mujidduddin bin Dayah, wakil Halb, dan para pembesar lainnya, mereka berdiri di hadapannya. Sekalipun demikian, apabila seorang faqih (ahli fikih) atau kaum fakir menghadapnya, maka Nuruddin berdiri menghormatinya, berjalan seiring dan mempersilahkan duduk bersamanya di atas sajadahnya dengan penuh kewibawaan dan ketenangan.

Jika ia memberikan seseorang dari mereka sesuatu yang dianggap banyak, maka ia berkata, ‘Mereka adalah tentara Allah, dan berkat doa merekalah kami menang atas para musuh. Mereka mempunyai hak pada Baitul Mal yang lebih besar daripada yang telah kuberikan kepada mereka. Jika mereka ridha terhadap kami dengan sebagian hak mereka, maka mereka memiliki andil atas kita.’”

Sangat Bersemangat Dalam Mengikuti Sunnah
Ia sangat bersemangat dalam mengikuti sunnah, menyebarkan, dan mengamalkannya. Telah disebutkan sebelumnya bahwa ia banyak mem­baca kitab-kitab agama dan mengikuti sunnah-sunnah Nabi 'Alaihi wasallam.

Sebagai bukti, ia memenangkan sunnah di negerinya, mematikan bid'ah, dan memerintahkan untuk menyerukan adzan dengan: Hayya 'alash shalah hayya 'alal falah. Kedua lafal tersebut tidak dipakai adzan di dua negara ayah dan kakeknya, melainkan beradzan dengan lafal: Hayya 'alal khairil 'amal, karena syiar Rafidhi (simbol Syiah) lebih dominan di sana.

Termasuk salah satu semangatnya untuk mengikuti sunnah ialah bahwa pernah terdengar olehnya penggalan hadits yang berisi bahwa Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam keluar dengan menyandang pedang. Maka ia heran dengan berubahnya kebiasaan-kebiasaan manusia, karena telah shahih dari Nabi (bahwa beliau menyandang pedang). Dan bagaimana mungkin dia mengharuskan para prajurit untuk mengawal para amir dan tidak melakukan sebagai­mana yang dilakukan oleh Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam?

Kemudian ia memerintahkan kepada pasukan agar menyandang pe­dang tersebut. Kemudian ia keluar pada hari kedua ke rombongan dengan menyandang pedang, demikian pula seluruh pasukan; dengan demikian ia ingin mencontoh Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam.

Mencintai Ilmu, Ulama dan Orang-Orang Shalih
Dia sangat mencintai ilmu, ulama dan orang-orang shalih, serta ber­keinginan untuk meniru-niru mereka, mendekati mereka, bersaudara de­ngan mereka, dan mengunjungi mereka.

Ibnul Atsir berkata, "Ia memuliakan ulama dan ahli agama, meng­agungkan, menghormati, duduk bersama, dan bersuka cita bersama me­reka. Tidak membantah ucapan mereka, dan menulis surat kepada mereka dengan tangannya sendiri.”

Ia banyak memberikan hadiah kepada mereka, sebagaimana telah disinggung. Demikian pula ia sangat mencintai ilmu, dan itu terbukti dari banyaknya ia membaca kitab serta kecintaannya mendengarkan hadits Nabi Shalallahu 'alaihi wasallam.
Ibnu Asakir berkata. "Ia meriwayatkan hadits dan memperdengar­kannya dengan ijazah.

Mengasihi Orang Miskin
Telah disinggung sedikit mengenai hal itu. Salah satu bukti kasih sayang tersebut ialah bahwa apabila hamba sahayanya sudah dewasa, maka dia membebaskannya dan menikahkannya dengan budak wanita­nya. Dan kapan saja rakyat melaporkan (kecurangan) gubernurnya, maka ia akan menurunkannya.

Inilah sebagian sifatnya, maka sudah sepantasnya orang yang mem­punyai sifat-sifat tersebut meraih segala kebaikan dan kemuliaan.

Sumber: Himatul ‘Aliyah

3 komentar: