Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

Kamis, 06 Januari 2011

Share |
PENJELASAN TENTANG HAKIKAT SIKAP EKSTRIM DI DALAM MENGISOLIR DAN MENVONIS BID’AH Petikan dari ucapan para ulama salafiyin
Bagian I : Kata Pengantar dan Latar Belakang
اعداد :
أبو سلمى الأثري

Kata Pengantar
الحمد لله الذي ألف بين قلوب المؤمنين، ورغبهم في الاجتماع والائتلاف، وحذرهم من التفرق والاختلاف، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، خلق فقدر، وشرع فيسر، وكان بالمؤمنين رحيماً، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله، الذي أمر بالتيسير والتبشير، فقال: ” يسروا لا تعسروا، وبشروا ولا تنفروا “، اللهم صلى وسلم وبارك عليه، وعلى آله المطهرين، وأصحابه الذين وصفهم الله بأنهم أشداء على الكفار رُحماء بينهم، وعلى من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين، اللهم اهدني واهد لي واهد بي، اللهم طهر من الغل جناني، وسدد لإصابة الحق لساني، اللهم إني أعوذ بك أن أضل أو أُضل، أو أزِل أو أزَل، أو أظلم أو أُظلم، أو أجهل أو يُجهل علي. أما بعد:
Segala puji hanyalah milik Alloh yang telah mempertautkan hati kaum mukminin dan menganjurkan mereka supaya bersatu padu dan saling berhimpun serta memperingatkan dari perpecahan dan perselisihan. Saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq untuk disembah melainkan hanyalah Alloh semata yang tidak memiliki sekutu. Dialah yang mensyariatkan dan memudahkan, dan Dia terhadap kaum mukminin adalah sangat penyantun. Saya juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, yang diperintahkan dengan kemudahan dan berita gembira. Beliau bersabda : ”Permudahlah dan janganlah kamu persulit, berikanlah kabar gembira dan janganlah membuat orang lari dari kebenaran
Ya Alloh limpahkan sholawat, salam dan berkah kepada beliau, kepada keluarganya yang suci dan kepada para sahabatnya yang mana Alloh mensifatkan mereka sebagai kaum yang keras terhadap kaum kafir dan lemah lembut diantara mereka, serta kepada siapa saja yang mengikuti mereka hingga hari kiamat kelak. Ya Alloh tunjukilah diriku, tunjukkan (kebenaran) untukku dan tunjukilah denganku (orang lain). Ya Alloh sucikanlah hatiku dari rasa dengki dan luruskan lisanku dalam menyampaikan kebenaran. Ya Alloh, aku berlindung kepada-Mu dari menyesatkan (orang lain) dan disesatkan, dari menggelincirkan (orang lain) dan digelincirkan, atau menzhalimi dan dizhalimi, atau membodohi dan dibodohi. Amma Ba’du:[1]
Di tanah air ini, fenomena saling mencela, menghajr, mentahdzir hingga bahkan mentabdi’ adalah suatu hal yang lumrah. Uniknya fenomena ini lebih tampak terjadi pada orang-orang yang mengklaim sebagai salafiyun ahlus sunnah. Walaupun kitab dan ulama rujukannya (mayoritas) sama, namun perselisihan dan perpecahan malah makin subur dan semarak. Di tengah-tengah fenomena hajr dan tabdi’ ini muncul 3 kutub yang saling berseberangan dan semuanya saling mengklaim di atas al-Haq, yaitu :
  • Kutub pertama, adalah kutub ifrath dan ghuluw di dalam hajr dan tabdi’, yang mana mereka akan menerapkan hajr dan tabdi’ secara sporadis kepada siapa saja yang berlainan pendapat dengan mereka, baik masalah pokok maupun masalah cabang ijtihadiyah. Kelompok ini mudah sekali menvonis sesat, sikapnya kasar, kaku, bengis, suka mencela dan penyebab manusia lari dari kebenaran. Mereka fanatik terhadap individu tertentu dan menjadikan dasar wala’ dan baro’nya terhadap individu tertentu. Mereka ini adalah kelompok Haddadiyun atau yang terpengaruh dengan pemahaman ini.
  • Kutub kedua, adalah kutub tafrith dan taqshir di dalam hajr dan tabdi’. Tidak ada kata hajr dan tabdi’ di dalam kamus dakwah mereka. Karena menurut mereka, hajr dan tabdi’ tidak berfaidah bagaimana pun keadaannya untuk diterapkan, walaupun terhadap seorang mubtadi’ yang telah jelas-jelas bid’ahnya sekalipun. Mereka telah menafikan syariat dan hukum ini di dalam Islam. Diantara mereka adalah Jama’ah Tabligh, Ikhwanul Muslimin dan Sururiyun. Walaupun di dalam beberapa perkara mereka jatuh juga dalam sikap ghuluw.
  • Kutub ketiga, adalah kutub i’tidal dan tawasuth di dalam hajr dan tabdi’. Mereka berhati-hati di dalam mengimplementasikan hajr dan tabdi’ menurut kaidah dan kriteria yang telah dijelaskan oleh para ulama. Mereka ini adalah Ahlus Sunnah sejati. Mereka bisa menempatkan wala’ dan baro’ mereka pada tempatnya. Mereka dituduh ghuluw oleh orang-orang yang tamyi’ (manhaj yang lunak terhadap ahlul bid’ah) dan dituduh tamyi’ oleh orang-orang yang ghuluw. Mereka meyakini bahwa bid’ah dan pelakunya itu bertingkat sehingga pensikapan terhadapnya juga bertingkat. Mereka tidak memberikan baro’ total terhadap ahlul bid’ah, namun mereka juga berwala’ pada mereka sebatas kebenaran yang dimiliki. Mereka senantiasa bertatsabut (cek dan ricek) di dalam segala berita dan tidak mudah menyandarkan berita kepada qiila wa qoola. Mereka tidak mudah menggeneralisir begitu saja vonis kepada orang-orang yang berta’awun dengan yayasan yang tertuduh hizbiyah. Mereka senantiasa bersikap hati-hati dan menerapkan hajr apabila mashlahatnya lebih besar dari mudharatnya, dan mereka mau berikhtilath (bercampur dengan kaum muslimin) apabila dipandang mashlahatnya lebih besar.
    Namun, setiap kelompok yang mengaku sebagai salafiyun juga mengklaim bahwa mereka adalah ahlul wasth wal ’adl (kelompok yang moderat dan pertengahan).
Namun pengakuan atau klaim belaka tanpa bukti hanyalah isapan jempol belaka.Faqihuz Zaman Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin berkata memberikan penjelasan siapakah salafiyun ahlus sunnah itu :
السلفية هي اتباء منهج النبي صلى الله عليه و سلم وأصحبه لأنه مَن سلفنا تقدموا علينا, فاتباعهم هو السلفية. وأما اتخاذ السلفية كمنهج خاص ينفرد به الإنسان ويضلّل من خالفه من المسلمين ولو كانوا على حقّ فلا شك أن هذا خلاف السلفية.
Salafiyyah adalah ittiba’(penauladanan) terhadap manhaj Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan sahabat-sahabatnya, dikarenakan mereka adalah salaf kita yang telah mendahului kita. Maka, ittiba’ terhadap mereka adalah salafiyyah. Adapun menjadikan salafiyyah sebagai manhaj khusus yang tersendiri dengan menvonis sesat orang-orang yang menyelisihinya walaupun mereka berada di atas kebenaran, maka tidak diragukan lagi bahwa hal ini menyelisihi salafiyyah!!!”
Beliau rahimahullahu melanjutkan :
لكن بعض من انتهج السلفية في عصرنا هذا صار يضلل كل من خالفه ولو كان الحق معه واتخاذها بعضهم منهجا حزبيا كمنهج الأحزاب الأخرى التي تنتسب إلى الإسلام وهذا هو الذي ينكر ولا يمكن إقراره.
Akan tetapi, sebagian orang yang meniti manhaj salaf pada zaman ini, menjadikan (manhajnya) dengan menvonis sesat setiap orang yang menyelisihinya walaupun kebenaran besertanya. Dan sebagian mereka menjadikan manhajnya seperti manhaj hizbiyah atau sebagaimana manhaj-manhaj hizbi lainnya yang memecah belah Islam. Hal ini adalah perkara yang harus ditolak dan tidak boleh ditetapkan.”
Syaikh melanjutkan lagi :
فالسلفية بمعنى أن تكون حزبا خاصا له مميزاته و يضلل أفراده سواهم فهؤلاء ليسوا من السلفية شيء. وأما السلفية التي هي اتباع منهج السلف عقيدة وقولا وعملا واختلافا واتفاقا وتراحما وتوادا كما قال النبي صلى الله عليه و سلم ((مثل المؤمنين في توادهم وتراحمهم وتعاطفهم كمثل الجسد الواحد إذا اشتكى منه عضو تداعى له سائر الجسد بالحمى والسهر)). فهذه هي السلفية الحقة.
Jadi, salafiyah yang bermakna sebagai suatu kelompok khusus, yang mana di dalamnya mereka membedakan diri (selalu ingin tampil beda) dan menvonis sesat selain mereka, maka mereka bukanlah termasuk salafiyah sedikitpun!!! Dan adapun salafiyah yang ittiba’ terhadap manhaj salaf baik dalam hal aqidah, ucapan, amalan, perselisihan, persatuan, cinta kasih dan kasih sayang sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam :
((مثل المؤمنين في توادهم وتراحمهم وتعاطفهم كمثل الجسد الواحد إذا اشتكى منه عضو تداعى له سائر الجسد بالحمى والسهر))
Permisalan kaum mukminin satu dengan lainnya dalam hal kasih sayang, tolong menolong dan kecintaan, bagaikan tubuh yang satu, jika salah satu anggotanya mengeluh sakit, maka seluruh tubuh akan merasa demam atau terjaga.Maka inilah salafiyah yang hakiki!!!”.[2]
Inilah salafiyah yang disebutkan oleh Faqiihuz Zaman al-Allamah Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullahu. Yaitu salafiyah pada segala sisi, baik aqidah, amalan, persatuan, akhlak dan sebagainya. Adapun salafiyah yang membawa bendera fanatik pada ustadznya, menjadikannya sebagai landasan di dalam wala’ dan baro’, menyalahkan dan menvonis sesat siapa saja yang menyelisihinya, bersikap keras lagi kaku, maka ini bukanlah salafiyah sama sekali. Terutama dari masalah akhlaq, banyak para pengklaim sebagai salafiyun yang paling sejati akhlaqnya tidaklah menunjukkan kesalafiyahannya sama sekali, padahal salafiyah di dalam masalah berakhlaq adalah :
هم أحسن الناس أخلاقاً وأكثرهم حلماً وسماحة وتواضعاً، وأحرصهم دعوة إلى مكارم الأخلاق ومحاسن الأعمال من طلاقة الوجه، وإفشاء السلام، وإطعام الطعام، وكظم الغيظ، وكف الأذى عن الناس واحتماله منهم، والايثار والسعي فى قضاء الحاجات، وبذل الجاه في الشفاعات، والتلطف بالفقراء، والتحبب إلى الجيران والأقرباء، والرفق بالطلبة واعانتهم وبرهم، وبر الوالدين والعلماء، وخفض الجناح لهما قال تعالى:) وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ( (القلم:4) وقال صلى الله عليه وسلم:”أثقل شئ فى الميزان الخلق الحسن” صحيح رواه الإمام أحمد.
Mereka adalah manusia yang paling baik akhlaknya, paling banyak bersikap lembut, lapang dan tawadhu’-nya. Mereka adalah yang paling bersemangat berdakwah menyeru kepada akhlak yang mulia dan amal yang paling bagus, dengan wajah yang ceria, menyebarkan salam, memberikan makan, menahan marah, menghilangkan kesusahan manusia, mendahulukan kepentingan kaum muslimin dan berusaha memenuhi kebutuhan mereka. Mereka senantiasa mengerahkan daya upaya di dalam menolong mereka, bersikap lembut dengan fakir miskin, bersikap kasih sayang terhadap tetangga dan kerabat, lemah lembut dengan penuntut ilmu, menolong dan berbuat kebajikan kepada mereka, berbakti kepada orang tua dan ulama dan memelihara kedua orang tua (di waktu tuanya). Alloh Ta’ala berfirman :
 (وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ)
Sesungguhnya pada dirimu (Muhammad) terdapat akhlak yang agung” (al-Qolam : 4) dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda :
 ((أثقل شئ فى الميزان الخلق الحسن))
Sesuatu yang paling berat di timbangan adalah akhlak yang baik.” Shahih diriwayatkan oleh Imam Ahmad.”[3]Oleh karena itu hendaklah kita semua saling introspeksi diri, saling menasehati di dalam kebenaran dan takwa dan saling bekerja sama di dalam kebajikan dan ketakwaan. Kewajiban Ahlus Sunnah saat ini adalah :
ولا شك أن الواجب على أهل السنة في كل زمان ومكان التآلف والتراحم فيما بينهم، والتعاون على البر والتقوى. وإن مما يؤسف له في هذا الزمان ما حصل من بعض أهل السنة من وحشة واختلاف، مما ترتب عليه انشغال بعضهم ببعض تجريحاً وتحذيراً وهجراً، وكان الواجب أن تكون جهودهم جميعاً موجهة إلى غيرهم من الكفار وأهل البدع المناوئين لأهل السنة، وأن يكونوا فيما بينهم متآلفين متراحمين، يذكر بعضهم بعضاً برفق ولين.
Tidak ragu lagi, bahwa kewajiban Ahlus Sunnah di setiap zaman dan tempat adalah saling bersatu dan menyayangi di antara mereka serta saling bekerja sama di dalam kebajikan dan ketakwaan. Dan suatu hal yang sungguh disayangkan pada zaman ini adalah, apa yang terjadi pada sebagian Ahlus Sunnah berupa pertikaian dan perselisihan, yang berimplikasi pada sibuknya mereka satu dengan lainnya di dalam mencela, mentahdzir dan menghajr. Padahal seharusnya mereka kerahkan seluruh kesungguhan mereka ini dan mereka tujukan kepada selain mereka dari kaum kuffar dan ahlul bid’ah yang senantiasa memusuhi Ahlus Sunnah. Mereka seharusnya menjalin persatuan dan kasih sayang dan saling mengingatkan satu sama lainnya dengan kelemahlembutan dan cara yang halus.”[4]
Latar Belakang
Sesungguhnya, telah banyak ahlul ilmi dan para penuntut ilmu yang telah mendahului saya di dalam menuliskan risalah semacam ini. Semua ini berangkat dari respon dan reaksi atas fenomena dan realita yang terjadi di tengah-tengah maraknya aktivitas hajr, jarh, tahdzir, bahkan tabdi’ di antara barisan salafiyin. Mereka juga membongkar kejahatan sikap ghuluw di dalam tabdi’ dan hajr yang tengah mewabah saat ini. Berikut ini saya sebutkan diantaranya, dan alangkah lebih baik jika yang saya sebutkan ini bisa dirujuk semua atau sebagiannya :
  • Al-‘Allamah al-Muhaddits al-Ashr Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullahu wa Qaddasallahu ruuhahu di dalam beberapa seri ceramahnya pada Silsilah al-Huda wan Nur, seperti di dalam ceramah yang berjudul Haqiqotul Bida’ wal Kufri.[5]Al-‘Allamah asy-Syaikh DR. Shalih bin Fauzan al-Fauzan dalam risalah yang berjudul Zhohiratu at-Tabdi’ wat Tafsiq.[6]
  • Al-‘Allamah ‘Abdul Muhsin bin Hammad al-Abbad al-Badr hafizhahullahu wa nafa’allahu bihi dalam risalah emasnya Rifqon Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah.[7]
  • Al-‘Allamah ‘Abdul Muhsin bin Hammad al-Abbad al-Badr hafizhahullahu wa nafa’allahu bihi dalam risalah emasnya al-Hatstsu ‘ala ittiba’is Sunnah wat Tahdziri minal Bida’ wa Bayanu Khatharihaa.[8]
  • Al-‘Allamah Asy-Syaikh Prof. DR. Rabi’ bin Hadi al-Madkholi hafizhahullahu di dalam risalah emasnya yang berjudul al-Hatstsu ‘alal Mawaddah wal I’tilaaf wat Tahdziiru minal Furqoh wal Ikhtilaafi.[9]
  • Fadhilatus Syaikh DR. Ibrahim bin Amir ar-Ruhaili hafizhahullahu di dalam Nasehat khusus beliau kepada ikhwah salafiyin Indonesia.[10]
  • Masyaikh Markaz Imam al-Albani Yordania di dalam Dauroh-dauroh mereka hafizhahumullahu.Dan masih banyak lainnya yang tidak mungkin disebutkan satu persatu.
Para du’at dan penuntut ilmu salafiyin di Indonesia juga turut memberikan kontribusi di dalam hal ini, bisa dicatat seperti :
  • Al-Ustadz Muhammad Arifin Baderi hafizhahullahu di dalam beberapa artikel beliau yang dimuat di website www.manhaj.or.id.[11]
  • Al-Ustadz Abdullah Taslim hafizhahullahu di dalam beberapa artikel beliau yang dimuat di website www.manhaj.or.id.[12]
  • Al-Akh Al-Ustadz Abu Abdil Muhsin Firanda bin Abidin as-Soronji hafizhahullahu yang menyusun buku “Lerai Pertikaian Sudahi Permusuhan”.[13]
  • Dan masih banyak lagi sebenarnya para du’at dan penuntut ilmu yang tidak disebutkan di sini.
Perlu ditambahkan, di tengah upaya yang positif dan kontributif ini, dalam rangka munashohah (saling menasehati) dan mengupayakan sebab-sebab ishlah dan persatuan ini, ada sebagian kalangan yang mungkin telah ter’makan’ oleh madzhab ghuluw dan ashobiyah (fanatisme) menolak bahkan mencela secara serampangan tanpa dilandasi oleh ilmu upaya ini. Di sisi lain, ada pula sebagian mereka yang taqshir dan tanpa dilandasi ilmu –terutama ilmu tentang dakwah salafiyah- turut ambil bagian di dalam upaya ini, yang berangkat dengan niat turut membawa perbaikan (ishlah), namun pada kenyataannya malah merusak tatanan dan pilar dakwah salafiyah, dikarenakan ketiadafahamannya akan dakwah salafiyah mubarokah ini.
Iya! Dan yang saya maksudkan adalah al-Akh Abu Abdurrahman ath-Thalibi hadahullahu dalam buku “best seller”-nya yang berjudul “Dakwah Salafiyah Dakwah Bijak”.[14]Buku ini konon sangat laris bak kacang goreng. Walaupun penulisnya majhul di kalangan dakwah salafiyah, namun ada sebagian saudara kita salafiyun turut ter’makan’ oleh buku ini. Sesungguhnya buku ini dari zhahirnya adalah rahmat namun isinya adalah adzab. Diantara implikasi negatif terbitnya buku ini adalah, munculnya tafriq (pemecahbelahan) dan taqsim (pemilah-milahan) dakwah salafiyah menjadi Salafiyah Yamaniyah[15] dan Salafiyah Harokah. Ini adalah taqsim yang muhdats (bid’ah) lagi buruk.Syaikhuna Salim bin Ied al-Hilaly hafizhahullahu membatalkan taqsim (pemilah-milahan) seperti ini di dalam ucapannya pada saat penutupan Dauroh di Masjid Al-Irsyad Surabaya tahun 2001 silam, beliau berkata :
« … فإنّ من ثبت سلفيته أخٌ لنا سواء كان في مشرق الأرض أو في مغربها… أما تفريق الدعوة السلفية بأنّ هذه سلفيةٌ شاميةٌ أو سلفيةٌ حجازيةٌ أو سلفيةٌ مغربيةٌ أو سلفيةٌ يمنيةٌ فإن نبرأ إلى ذلك فإنّ سلفية واحدة, مات ائمتُنا وهم متّفقون عليها, مات الألباني وهو محبّ لإبن باز ومات إبن باز وهو محبّ للألباني ومات إبن عثيمن وهو محبّ لهما ومات درّة اليمن الشيخ مقبل وهو محبّ للجميع… »
“Karena sesungguhnya, barangsiapa yang telah tetap kesalafiyahannya maka dia adalah saudara kita, sama saja baik dia berada dari bagian barat bumi ataupun timurnya… Adapun memilah-milah dakwah salafiyah menjadi salafiyah Syamiyah atau Salafiyah Hijaziyah atau Salafiyah Maghribiyah atau Salafiyah Yamaniyah, maka kami berlepas diri dari pemilah-milahan ini, karena salafiyah itu satu!!! Telah wafat para imam kita dan mereka semua bersepakat di atasnya, telah wafat al-Albani dan beliau mencintai Ibnu Baz, telah wafat Ibnu Baz dan beliau mencintai al-Albani, telah wafat pula Ibnu ‘Utsaimin dan beliau mencintai keduanya, serta telah wafat permata negeri Yaman, Syaikh Muqbil dan beliau mencintai seluruhnya…”[16]
Beliau hafizhahullahu juga berkata :
« … وأننا بفضل الله نشرنا هذا المنهج في مشارق الأرض وفي مغاربه لا نفرّق بين السلفيّين و لا نفضّل بعضَهم على بعضٍ بل نجمعَ شملهم وندعوا إلى الصلح بينهم وندعوا إلى التوفيق بينهم … »
“Dan kami dengan fadilah dari Alloh, menyebarkan manhaj ini di bumi bagian timur dan barat, dan kami tidak memilah-milah di antara salafiyin, kami tidak mengutamakan antara satu dengan lainnya, namun kami persatukan kalimat mereka dan kami ajak mereka kepada perdamaian di antara mereka serta kami seru mereka kepada saling meluruskan di antara mereka…”[17]
Apa yang saya lakukan di dalam menyusun risalah ini adalah suatu upaya sederhana untuk turut memberikan kontribusi di dalam memberikan nasehat, klarifikasi, kritikan dan masukan, baik untuk diri saya sendiri maupun selainnya. Saya di sini tidak lebih dan tidak bukan hanyalah menyokong dan mendukung apa yang telah dituangkan oleh saudara saya yang mulia, al-Ustadz Abu Abdil Muhsin Firanda di dalam bukunya “Lerai Pertikaian Sudahi Permusuhan”.
Saya juga turut sedikit memberikan jawaban dan klarifikasi terhadap syubuhat yang dilontarkan oleh saudara-saudara saya salafiyin yang terpengaruh oleh faham ghuluw ini di bab akhir risalah ini.
وأسأل الله عز وجل أن يوفق الجميع لما فيه تحصيل العلم النافع والعمل به والدعوة إليه على بصيرة، وأن يجمعهم على الحق والهدى، ويسلمهم من الفتن ما ظهر منها وما بطن، إنه ولي ذلك والقادر عليه، وصلى الله وسلم وبارك على عبده ورسوله نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين
Saya memohon pada Allah ‘Azza wa Jalla semoga memberikan Taufiq-Nya kepada (kita) seluruhnya untuk mendapatkan ilmu yang bermanfa’at dan beramal dengannya serta berda’wah kepadanya di atas hujjah yang nyata, dan semoga Ia mengumpulkan kita semuanya di atas kebenaran dan petunjuk dan menyelamatkan kita semuanya dari berbagai fitnah baik yang nyata maupun yang tersembunyi. Sesungguhnya Allah Maha penolong atas segala hal dan Dia Maha kuasa atasnya. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam serta keberkahan kepada hamba-Nya dan Rasul-Nya Nabi kita Muhammad dan kepada keluarga serta para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik sampai hari kemudian.[18]
Malang, 14 September 2006Al-Faqir ila ‘Afwa RobbihiAbu Salma al-Atsari
——————————————————————————–
[1] Dinukil dari Muqoddimah Rifqon Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah oleh al-Allamah Abdul Muhsin al-‘Abbad, tanpa penerbit, cet. I, 1423 H./2003 M., hal. 3.
[2] Liqo’ul Babil Maftuuh, pertanyaan no. 1322 oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin; dinukil dari Aqwaalu wa Fataawa al-Ulama’ fit Tahdziri min Jama’atil Hajr wat Tabdi’, penghimpun : Kumpulan Para Penuntut Ilmu, cet. II, 1423/2003, tanpa penerbit.[3] Hiyas Salafiyyah Fa’rifuhaa karya Samir al-Mabhuh al-Kuwaiti. Didownload dari www.sahab.org.
[4] Ucapan al-‘Allamah ‘Abdul Muhsin al-‘Abbad dalam Rifqon Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah. Op.Cit., hal. 7-8.
[5] Beberapa penulis menukil ucapan beliau ini sebagai ibrah di dalam menjelaskan manhaj yang shahih di dalam masalah tabdi’ dan hajr. Di antaranya adalah seperti yang dilakukan oleh Syaikh ‘Amru ‘Abdul Mun’im Salim di dalam bukunya Manhaj as-Salafiy ‘inda asy-Syaikh Nashiruddin al-Albani dan al-Ushul allati bana ‘alaiha ghulatu madzhabihim fit tabdi’, dan Syaikh Said bin Shabir Abduh di dalam kitabnya Muzilul Ilbas fi Ahkam ‘alan Naasi. Demikian pula cuplikannya terdapat di dalam buku al-Akh al-Ustadz Firanda yang berjudul “Lerai Pertikaian Sudahi Permusuhan”. Bagi yang menghendaki kelengkapan terjemahan tceramah Syaikh al-Albani rahimahullahu ini bisa didownload di http://www.geocities.com/fsms_sunnah.
[6] Buku ini telah diterjemahkan dan diterbitkan oleh Pustaka Imam Bukhari – Solo.
[7]Ada beberapa kalangan yang tidak menyukai buku ini, bahkan mereka “mengaduk di air keruh” dengan mengadukannya ke beberapa ulama yang akhirnya sebagian mereka melarang penyebarannya. Padahal telah jelas bahwa buku ini ditujukan oleh Syaikh kepada kalangan Ahlus Sunnah (Salafiyun) sebagaimana beliau syarh sendiri di Masjid an-Nabawi beberapa saat setelah buku ini keluar. Beberapa ulama kibar semisal Syaikh Shalih Fauzan al-Fauzan dan Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh angkat suara di dalam membela risalah ini. Bahkan Syaikh Abdus Salam Barjas Alu Abdil Karim rahimahullahu marah besar ketika ditanya pendapatnya tentang risalah ini dikarenakan beliau merasa bahwa orang seperti beliau tidak layak untuk dimintai pendapat akan bukunya al-Allamah al-‘Abbad. Namun, seorang muta’aalim dari
Bahrain yang bernama Fauzi al-Bahraini menulis bantahan terhadap buku ini yang berjudul Madza Yuridu Ahlus Sunnah bi Ahlis Sunnah. Alhamdulillah buku ini tertolak karena beberapa masyaikh telah menolak dan membantahnya, diantaranya Syaikh Abdus Salam Barjas, Syaikh Abdul Malik Ramadhani, Syaikh Salim, dll. Bagi yang ingin mendapatkan edisi Bahasa Indonesia (atas kebaikan al-Ustadz Alu Musri Semjan Putra) dan Arabnya, beserta Syarh dan tazkiyah ulama tentangnya, bisa dicopy dari http://www.geocities.com/abu_amman/rifqon.htm.
[8] Buku ini terbit sebagai respon adanya beberapa ulama yang mentahdzir risalah Rifqon beliau sehingga beliau perlu untuk mengklarifikasi dan menjelaskan akan kesalahan mereka. Bahkan pasca buku ini terbit, beberapa oknum dari kaum ghulat semisal Falih al-Harbi dan Fauzi al-Bahraini terbongkar hakikat dan kedok manhajnya yang serupa dengan kaum Ghulat dan Haddadiyah Jadidah. Bab terakhir risalah ini yang berjudul at-Tahdzir min Fitnati at-Tajrih wat Tabdi’ min Ba’dli Ahlis Sunnah fi Hadzal ‘Ashr telah diterjemahkan, bisa dicopy di http://www.geocities.com/abu_amman/rifqon.htm atau di dalam http://muslim.or.id yang sedang diterjemahkan secara berkala keseluruhan risalah ini oleh seorang ukhtun alumni LBIA Yogyakarta –fa jazzahallahu khoyrol jazaa’-.
[9] Risalah ini sebenarnya adalah transkrip ceramah yang disampaikan oleh Syaikh di hadapan mahasiswa Islamic University of Madinah, yang ditranskrip oleh masyaikh Markaz al-Imam al-Albani dan disebarkan di dalam booklet resmi Markaz al-Imam al-Albani. Risalah ini telah diterjemahkan, bisa dicopy di http://www.geocities.com/abu_amman/ (Maktabah Abu Salma).
[10] Syaikh Ibrahim ar-Ruhaili tercatat sudah memiliki dua nasehat berharga bagi salafiyin terutama salafiyunIndonesia. Pertama yang disebarkan oleh Ustadz Abdullah Z
ein dan Ustadz Anas Burhanudin, diterjemahkan oleh Ustadz Badrus Salam dan disebarkan oleh Majlis Ta’lim al-Furqon. Yang kedua adalah nasehat bagi generasi muda salafiyun, yang diterjemahkan oleh al-Ustadz Muhammad Arifin Baderi. Kedua nasehat ini bisa dicopy di Maktabah Abu Salma : http://www.geocities.com/abu_amman/
[11] Seperti artikel “Bahtera Dakwah Salafiyah di Indonesia”, “Dilema Tahdzir Antara Sebuah Tuntutan Dakwah dan Tumbal Sensasi…”, dll. Semuanya dapat dicopy di www.muslim.or.id.
[12] Seperti Tanya jawab yang beliau asuh di www.muslim.or.id yang berjudul “Fiotnah Sururi”, “Anda Salah Faham”, dll…
[13] Buku ini yang paling komprehensif, ilmiah dan lengkap pembahasannya. Isinya sarat dengan faidah dan manfaat yang dapat menghilangkan syubuhat dan kerancuan bagi orang-orang yang obyektif di dalam membacanya walaupun ada beberapa kalangan yang mencela dan menolaknya. Apabila buku seorang alim besar semisal al-Allamah Abdul Muhsin al-Abbad saja ada fihak yang menolak, mengkritik bahkan mencelanya, maka apalagi buku yang ditulis oleh al-Ustadz Firanda ini. Kritikan demi kritikan terus datang bertubi-tubi, ada yang ilmiah dan adapula yang berupa celaan dan makian belaka. Namun, alhamdulillah, hal ini tidak menyurutkan beliau, bahkan beliau di dalam cetakan keduanya menambah beberapa hal yang bermanfaat yang semakin mengokohkan isi buku ini. Pada cetakan kedua buku ini, al-Ustadz menambahkan di dalamnya kata pengantar dari 3 asatidzah yang mulia, yaitu al-Ustadz Abu ‘Auf at-Tamimi, al-Ustadz Abu Ihsan dan al-Ustadz Ahmas Faiz Asifuddin hafizhahumullahu ajma’in. Beliau juga memperkaya dengan tambahan fatwa-fatwa yang bermanfaat dan nukilan-nukilan tambahan yang berfaidah. Alhamdulillah. Semoga Alloh membalas kebaikan bagi penulisnya dan menjadikan bukunya bermanfaat bagi Islam dan kaum muslimin.
[14] Saya belum membaca keseluruhan buku ini. Namun saya pernah membaca sebagian dengan metode scan reading (membaca cepat dengan melompat-lompat tiap halaman hanya untuk mengetahui isi buku ini). Saya tidak begitu tertarik membaca buku ini secara keseluruhan karena tidak ada yang spesial pada buku ini. Namun, saya agak terperanjat ketika melihat dan mendengar berita bahwa buku ini sangat laris. Wallahu a’lam, apakah laris di kalangan ikhwah salafiyah ataukah laris di kalangan saudara-saudara kita harokiyin dan hizbiyin yang bisa dijadikan ‘rudal’ oleh mereka untuk menyerang dakwah mubarokah ini.
[15] Istilah ini semakin ngetrend di forum-forum internet yang isinya kebanyakan mencela dakwah salafiyah. Istilah ini semakin terkenal lagi setelah al-Ustadz Abduh Zulfidar Akaha –hadahullahu- mempergunakannya di dalam bukunya yang berjudul “Siapa Teroris Siapa Khowarij?” (bantahan terhadap buku “Mereka adalah teroris” karya al-Ustadz Luqman Ba’abduh,) terbitan Pustaka al-Kautsar. Saya telah membaca buku ini dari A sampai Z
-nya, dan ada beberapa mulahadhot (catatan) yang perlu diberikan terhadap buku ini. Syubuhat di dalamnya sangat luar biasa sekali, karena penulis selain memiliki bekal pengalaman yang ‘lebih’ di dalam dunia jurnalistik, penulis juga cukup aktif mencari sumber, data dan fakta dengan surfing dan browsing di dunia maya. Sehingga tidak kurang dari 50 persen isi bukunya berkisar dari sumber internet. Metode jurnalis bak wartawan sangat kentara di dalam bukunya ini. Apabila Alloh meberikan waktu luang maka saya akan sedikit memberikan beberapa catatan ringan dan singkat terhadap buku yang konon sangat ‘fenomenal’ ini.
[16] Ceramah Syaikh Salim al-Hilali yang disampaikan pada saat penutupan Dauroh fi Masa`ilil Aqodiyah wal Manhajiyah di Masjid Al-Irsyad, tahun 2001 silam. Dauroh ini dilaksanakan atas kerjasama Ma’had ‘Ali Al-Irsyad as-Salafi bekerjasama dengan Markaz al-Imam al-Albani Yordania. (rekaman MP-3 menit ke-11:51-12:40).
[17] Ibid. Menit ke-13:29-13-50).
[18] Dinukil dari akhir risalah Rifqon. Op.Cit., hal. 62.
(Bersambung Bagian 2)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar